Petualangan untuk Al di Kebun Raya Purwodadi

“Al, tunggu”

Baru saja, Aldebaran, saya turunkan dari gendongan tepat di sebuah padang rumput yang cukup luas, dia sudah langsung berlarian. Sedari masih dalam gendongan, kaki-kaki mungilnya sudah bergerak kesana kemari. Badannya pun sempat menggeliat-geliat, seperti mencoba memberontak dari dekapan saya. Saya pun coba memberinya pengertian, bahwa, nanti ada waktunya, saya akan menurunkannya. Dan tampaknya dia pun paham. Badannya sudah tidak lagi meronta, namun tidak dengan sepasang kakinya. Saat waktunya tiba, saya menurunkannya dari gendongan dan melepaskan dekapan, dia langsung berlari, seolah terlepas dari sebuah belenggu.

Aldebaran dan Menara Kaca Kebun Raya Puwodadi, Pasuruan
Aldebaran dan Menara Kaca Kebun Raya Puwodadi, Pasuruan

“Al, tunggu”, ujar saya lagi, sambil setengah berlari mengejarnya.

Al bukannya berhenti, tapi makin semangat berlari.

Saya pun berlari mengejarnya. Langkah kakinya kecil, larinya pun tidak cepat, jadi hanya dengan empat langkah, saya berhasil menangkapnya.

Read more

Episode Pagi di 1 Syawal 1441 H

Sorai, riang, gelak tawa, wajah berbinar, bau wewangian, jabat tangan. Suara takbir sahut menyahut. Lalu menyeruak, langkah-langkah kaki kecil setengah berlari, diiringi gelak tawa. Di tangannya, semerbak harum lembar-lembar kartal yang masih licin. Sesekali pemiliknya menghentikan langkahnya, terdiam. Sejurus kemudian wajahnya tampak serius mengamati lembar demi lembar tersebut. Selang beberapa detik kemudian, tampak kelegaan di wajahnya.

Melihat wajah-wajah mungil tadi, saya kemudian menatap wajah yang lebih mungil dari mereka, yang saat ini sedang berada dalam gendongan saya. Sedari tadi, dia berontak, merengek, minta turun. Sepertinya dia ingin turut berlarian. Kaki-kaki imutnya sudah tidak sabar ingin menjejak dan bergerak. Utinya, ibu saya, sudah menyuruh saya untuk membiarkannya turun, namun, hari itu, saya ingin Aldebaran berada dalam gendongan saya. Merasakan tubuhnya, yang menurut timbangan sudah mencapai bobot 10.5 kg, di usianya yang sudah 16 bulan.

Read more

Mencicipi Gurih Pedasnya Becek Mentok Khas Tuban

Siang itu, peluh membasahi dahi saya. Hawa panas seolah melingkupi kepala saya. Didepan saya tersaji sepiring nasi hangat yang bersanding dengan semangkuk masakan berkuah yang berwarna sedikit jingga kecokelatan.

Sajian Becek Mentok di Warung Mbak Narti, Tuban
Sajian Becek Mentok di Warung Mbak Narti, Tuban

Sejauh ini, sudah empat sendok kuah jingga itu meresap di lidahku, dan karena itu pula, terbentuk titik titik keringat di sekitar kepalaku. Awalnya titik titik itu ukurannya kecil, namun semakin bertambah suapan kuah yang mendarat di lidahku, ukuran titik air tersebut semakin membesar dan mulai mengalir dari kepala saya.

Read more

Menikmati Pulau-Pulau di antara Denpasar – Maumere

“Kursi jendela masih ada mbak? Kalau bisa jendela sisi kanan?”, pintaku sambil sedikit ngos-ngosan.

“Ada mas”

Dengan cekatan, jari-jari si mbak petugas check in bergerak lincah di keyboard. Sejurus kemudian boarding pass saya pun tercetak. Disitu tertera rencana perjalanan saya, Surabaya – Maumere, dengan nomor kursi 24F.

“Alhamdulillah”, ujar saya. “Terima Kasih, mbak”

Saya menatap boarding pass dengan penuh kelegaan. Setidaknya dengan duduk di kursi dekat jendela sebelah kanan, saya dapat kesempatan untuk mengabadikan pemandangan di balik kaca jendela pesawat. Kalaupun nantinya terhalang sayap pesawat, setidaknya mata saya bisa merekamnya dalam memori otak.

Pemadangan Pulau Komodo dari Pesawat Denpasar - Maumere
Pemadangan Pulau Komodo dari Pesawat Denpasar – Maumere

Pagi itu adalah perjalanan pertama saya menuju pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, tepatnya ke kota Maumere. Dan sejak jauh-jauh hari, saya sudah mempersiapkan diri untuk perjalanan itu. Mulai dari membersihkan debu-debu di kamera, yang sudah hampir satu tahun hanya teronggok di dry box, Mencharge baterei kamera, melakukan sedikit riset terkait medan yang akan saya tempuh di Flores nanti, hingga melakukan web check in, agar mendapatkan kursi yang pas untuk memotret dari balik pesawat. Sayangnya, langkah terakhir, saya terlupa. Karena itu, pagi-pagi, saya sudah tiba di bandara, dan sedikit berlari menuju counter check in, berharap mendapatkan kursi dekat jendela yang tersisa.

Mengapa saya memilih window seat yang sisi kanan, kenapa bukan sisi kiri?

Read more

Suguhan Sunset di Pantai Oesapa, Kupang

Suatu sore di bulan April 2019, di sebuah hari, dimana untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di pulau Timor. Kurang dari 24 jam saya berada disini, tapi saya bersyukur, saya berhasil bertemu senja yang sempurna.

Sunset di Pantai Oesapa, Kupang, NTT
Sunset di Pantai Oesapa, Kupang, NTT

Pantai warna Oesapa, disanalah saya menyaksikan detik-detik tenggelamnya sang bintang. Ditemani dengan sepiring mie instan, segelas teh tarik dan alunan musik berbagai genre, mulai dari reggae, dangdut, pop, rock hingga gambus.

Read more