Suatu Pagi Di Stasiun

Ilustrasi Stasiun Jakarta Kota

Stasiun telah ramai pagi ini. Padahal dua jarum sebuah jam dinding yang terpasang di tembok stasiun baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Entahlah apa yang telah membuat para manusia sudi berhiruk-pikuk di stasiun sepagi ini. Apakah para manusia itu mempunyai waktu yang berbeda dengan waktu stasiun. Setahu saya didunia ini, pada setiap tempat, Tuhan hanya memberikan satu waktu saja, tidak kurang dan tidak lebih sedetikpun.

Ilustrasi Stasiun Jakarta Kota
Ilustrasi Stasiun Jakarta Kota

Seorang anak muda baru saja masuk kedalam stasiun. Dia membawa sebuah tas ransel besar. Dia memakai kaus berwarna putih dan celana jeans biru yang sudah sangat kumal. Wajahnya sebenarnya tidak bisa dibilang ramah. Rambutnya yang panjang sebahu dibiarkan terurai. Di wajahnya terdapat bekas sayatan pisau yang melintang panjang sedikit dibawah mata kirinya. Badannya juga besar dan kekar. Tetapi saat ini wajah itu terlihat sangat lelah. Sepasang kantung mata terlihat jelas menghiasi kedua kelopak matanya.

Begitu masuk kedalam stasiun, hal pertama yang dia lakukan adalah melihat arloji yang melingkar dilengannya. Dan sesaat kemudian wajahnya terlihat sedikit ceria. Ada gumaman kecil keluar dari mulutnya.

“Ah, ternyata aku bisa sampai disini lebih cepat 15 menit”

Pemuda itu menurunkan tas yang sedari tadi membebani punggungnya. Dia meletakkan tas itu pada sebuah kursi kosong. Setelah itu dia menatap sebuah papan berwarna hitam yang tertempel diatas loket penjualan karcis. Itu adalah papan jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api ke dan dari stasiun ini. Cukup lama pemuda itu menatap papan itu sambil sesekali melihat kembali arloji yang ada ditangannya.

Read more

Trilogi Mercusuar Indonesia

Mercusuar Pulau Lengkuas, Belitung

Dua bulan yang lalu, saat kaki, tenaga dan semangatku berhasil mengantarkanku, menggapai puncak mercusuar di pulau Lengkuas, kepulauan Belitung, anganku langsung terkenang akan kisah perjalananku ketika mengunjungi Anyer, tiga tahun yang lalu dan bertandang ke pulau Madura, hampir dua tahun yang lalu. Saat itu, aku mengalami perjalanan yang sangat mirip dengan apa yang aku lakukan di pulau Lengkuas, yaitu menaklukan mercusuar.

Mercusuar Cikoneng, Anyer
Mercusuar Cikoneng, Anyer

Mercusuar di pulau Lengkuas, Anyer dan pulau Madura bisa dibilang mercusuar yang kembar identik. Desain bangunannya mirip, tingginya nyaris sama, bahan pembuatnya sama dan dicat dengan warna yang sama. Ini terjadi karena ketiganya memang dibangun di masa yang sama, yakni masa pendudukan kolonial Belanda di Indonesia. Tahun berdirinya pun berdekatan.

Read more

Beberapa Kisah, Berjuta Kenangan, Berawal dari Air Asia

Foto Perjalanan Bersama Air Asia

————

“Believe the Unbelievable, Dream the Impossible, and Dont Take No for An Answer”

— Tony Fernandes —

————

Jakarta, Kamis, 30 Maret 2006, satu tanggal yang kucatat di buku catatanku, sebagai salah satu hari bersejarah dalam hidupku. Hari itu untuk pertama kalinya aku mengudara di angkasa. Perasaan tegang, takut, bahagia, dan haru bercampur aduk menjadi satu sejak pesawat Air Asia Boeing 737-300 dengan nomor penerbangan QZ7210 melaju dengan kecepatan tinggi di landasan pacu di Bandara Soekarno Hatta, tinggal landas, terbang, hingga akhirnya mendarat mulus sempurna di Bandara Juanda di Surabaya satu jam kemudian. Hari itu, seperti menjadi sebuah milestone bagiku.

Kolase Foto Perjalanan Bersama Air Asia
Kolase Foto Perjalanan Bersama Air Asia

Di sekitar tahun 2006, terbang, masih menjadi sebuah barang mahal. Ketika itu, harga tiket sekali jalan Jakarta Surabaya berada di sekitar range 300 ribu hingga 400 ribu rupiah. Sebagai perbandingan, tiket kereta api kelas bisnis Jakarta Surabaya sekitar 100 ribu sedangkan kelas eksekutifnya sekitar 180 ribu. Untuk bus malam, harga sekitar 120 ribu hingga 150 ribu.

Tiket Terbang Perdana Surya Hardhiyana
Tiket Terbang Perdana Surya Hardhiyana

Hidup sendiri di perantauan Jakarta dengan segala macam permasalahan seperti macet, banjir, sampah ataupun polusi membuatku ingin mudik ke Gresik sesering mungkin. Sekedar untuk melepas rindu kepada orang tua, kawan, kekasih serta mengisi kembali semangat untuk berjuang di perantauan. Dengan pilihan harga moda transportasi, tentu saja Kereta Api kelas bisnis ataupun bus kota menjadi pilihan terbaik karena harganya yang termurah, meski harus menempuh perjalanan panjang hingga 13 jam.

Tapi, sejak hari itu, sebuah alternatif solusi baru kudapatkan dari sebuah maskapai yang belum lama beroperasi di tanah air. Dengan harganya yang hanya sedikit lebih mahal dari kereta api kelas eksekutif, aku bisa mencapai rumah dengan lebih cepat, sehingga waktu yang bisa kumanfaatkan untuk bersilaturahim lebih banyak.

Read more

Jembatan Ampera dalam Rekaman Lensa

Jembatan Ampera Palembang dari Perahu Sungai Musi

———-

“Ketika kata tak mampu terucap, aksara tak sanggup terangkai, biarkanlah foto yang berbicara”

———-

Malam ini, ketika aku menggerakkan tuts-tuts keyboard laptopku, mengetikkan satu demi satu huruf ke layar, tiba-tiba aku seperti kehilangan kata-kata yang hendak ku tulis. Sudah saatnya bagiku untuk memperbarui isi postingan di blog tercinta ini setelah terakhir aku melakukannya lebih dari seminggu yang lalu. Seminggu sebenarnya waktu yang belum terlalu lama bagiku, tetapi setelah apa yang terjadi di bulan Januari kemarin, rasanya aku tidak ingin kehilangan momentum itu.

Jembatan Ampera Palembang Saat Petang
Jembatan Ampera Palembang Saat Petang

Sambil berusaha bercerita, mataku memandang lekat foto-foto jembatan Ampera yang pernah ku ambil ketika bertandang ke Palembang. Tak terasa, ternyata banyak sekali. Ada sekitar 30an lebih dengan berbagai sudut dan waktu pengambilan. Memang, dari total lima kali kunjunganku ke Palembang, sejak kedatanganku pertama sekitar awal September 2013 yang lalu, aku tidak pernah melewatkan sekalipun untuk tidak berkunjung ke Jembatan Ampera.

Read more

Mengabadikan Angkasa

Bergumpal-gumpal awan berarak melayang-layang di langit. Warnanya putih, laksana kapas. Bermacam-macam bentuknya. Ada yang besar, ada yang kecil. Beberapa diantaranya sangat tebal, tapi tidak sedikit pula yang tipis dan terlihat berongga.

Disekitarnya angkasa tengah membiru. Biru yang tidak terlalu tua sebenarnya, tetapi sangat kontras dengan putihnya sang awan. Perpaduan yang serasi. Indah.

Nun jauh di bawah sana, bumi terlihat kecil. Berbagai macam warna menghias permukaannya. Kadang nampak menghijau seperti permadani yang terbuat dari batu zamrud. Kadang pula terlihat cokelat kehitaman. Dan tak jarang pula bumi membiru seperti langit, hingga seolah tiada batas antara bumi dan langit.

Sebuah sajian khas dari balik jendela pesawat yang tengah mengudara di siang hari dengan cuaca yang cerah. Hidangan akan terasa lebih istimewa lagi ketika terbang di saat-saat pergantian waktu, baik pada saat matahari terbit, ataupun terbenam.

Read more