Berburu Intan di Martapura

Berburu Intan di Martapura

————

“Martapura, Kota Baintan”

————

Berkunjung ke Banjarmasin dan propinsi Kalimantan Selatan, tidak lengkap rasanya kalau tidak mampir ke Martapura. Kota yang terletak di sebelah timur kota Banjarmasin dan hanya berjarak satu jam perjalanan saja ini sudah lama tersohor sebagai penghasil intan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia.

Taman di depan Komplek Pertokoan Cahaya Bumi Selamat, Martapura
Taman di depan Komplek Pertokoan Cahaya Bumi Selamat, Martapura

Intan, salah satu jenis bahan mineral yang dimanfaatkan sebagai perhiasan selain emas, perak dan permata, adalah komoditas utama Martapura dan salah satu roda penggerak ekonomi utama propinsi Kalimantan Selatan, selain batubara. Intan di martapura sudah digali sejak ratusan tahun yang lalu, tepatnya ketika masa penjajahan kolonial Belanda.

Read more

Wongkentir Magazine Edisi 3 Kalimantan Selatan

Wongkentir Magazine Edisi 3 Kalimantan Selatan

Syukur Alhamdulillah, setelah penantian hampir lima bulan lamanya, akhirnya selesai juga Edisi ketiga dari Wongkentir Magazine. Waktu yang masih cukup lama antar edisi. Tapi apapun itu, aku bersyukur, diantara kesibukan, masih sempat menyelesaikan proyek idealis ini. Wongkentir Magazine edisi ketiga ini masih mengandalkan aplikasi layouter open source yakni Scribus. Terima kasih buat pengembang Scribus.

Cover Wongkentir Magazine Edisi 3
Cover Wongkentir Magazine Edisi 3

Jika di edisi sebelumnya, aku tidak jadi menulis tentang Kalimantan Selatan, padahal sudah tertulis di next edition, maka kali ini, aku tepati janjiku untuk menulis tentang Kalimantan Selatan.

Kalimantan Selatan dengan ibukotanya Banjarmasin sejak lama menjadi salah satu kota yang menjadi pusat perekonomian di pulau Kalimantan. Dengan potensinya, Banjarmasin terus membangun dirinya agar semakin menarik bagi para investor yang ingin menanamkan modalnya disana. Selain itu, dengan jumlah penduduknya yang semakin padat, Banjarmasin juga terus menata kotanya agar tetap menjadi rumah yang nyaman bagi warganya

Read more

Menjelajah Perairan Utara Belitung

Menjelajah Perairan Utara Belitung

————

“Jika Inggris punya Stonehenge, Indonesia punya gugusan bebatuan Belitung”

————

Mungkin tidak ada pantai di dunia ini yang memiliki keunikan seperti pantai yang sempat kukunjungi sekitar sebulan yang lalu, di hari minggu, di akhir agustus 2014. Jika biasanya, pantai yang eksotis itu identik dengan kombinasi air laut yang jernih dan berwarna hijau toska, garis pantai yang panjang serta pasir pantai yang putih dan lembut, maka untuk pantai yang satu ini berarti statusnya adalah eksotis plus, karena selain memiliki syarat tiga hal yang sudah disebutkan diatas, pantai di sebuah pulau yang terletak di utara laut jawa ini juga dihiasi oleh gugusan bebatuan hitam yang ukurannya super jumbo. Itulah kiranya anugerah yang diberikan oleh Allah kepada pulau Belitung, selain timah tentunya yang sejak dulu menjadi komoditas utama pulau.

Pemandangan Pulau Lengkuas dari atas Mercusuar
Pemandangan Pulau Lengkuas dari atas Mercusuar

Hari itu adalah kali pertama aku melangkahkan kaki di pulau yang sekarang dikenal sebagai Pulau Laskar Pelangi itu. Dan seketika itu aku langsung jatuh hati pada kemolekan pantai-pantainya.

Read more

Rajutan Mimpi bernama Belitung

Rajutan Mimpi bernama Belitung

————

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”

— Andrea Hirata —

————

Enam tahun lalu, simpul-simpul mimpi itu mulai terajut perlahan demi perlahan. Semua berawal dari sepasang bola mataku yang mengirimkan rekaman demi rekaman adegan yang tersaji dihadapanku ke otakku. Oleh pusat pengendali sarafku, rajutan mimpi yang belum sempurna itu disimpan dengan nama file Belitung di salah satu relung otakku.

Pantai Tanjung Tinggi, Belitung
Pantai Tanjung Tinggi, Belitung

Enam tahun lalu. Ketika itu aku terduduk nyaman di sebuah sofa empuk berwarna merah, di ruangan besar yang temaram dan dingin. Ada puluhan lampu terpasang di atap ruangan, tapi hanya sebagian kecil saja yang dinyalakan. Dihadapanku, terhampar layar putih yang cukup lebar, hingga hampir menutupi satu sisi dinding.

Enam tahun lalu, sebuah lakon diputar di atas permukaan kain yang terbentang itu. Adegan dimulai dengan menampilkan seseorang berusia sekitar 30 tahunan yang tengah menumpang sebuah bus. Pandangannya terlempar ke arah panorama semak belukar kering yang tumbuh liar di tepi jalanan.

Read more

Beberapa Kisah, Berjuta Kenangan, Berawal dari Air Asia

Beberapa Kisah, Berjuta Kenangan, Berawal dari Air Asia

————

“Believe the Unbelievable, Dream the Impossible, and Dont Take No for An Answer”

— Tony Fernandes —

————

Jakarta, Kamis, 30 Maret 2006, satu tanggal yang kucatat di buku catatanku, sebagai salah satu hari bersejarah dalam hidupku. Hari itu untuk pertama kalinya aku mengudara di angkasa. Perasaan tegang, takut, bahagia, dan haru bercampur aduk menjadi satu sejak pesawat Air Asia Boeing 737-300 dengan nomor penerbangan QZ7210 melaju dengan kecepatan tinggi di landasan pacu di Bandara Soekarno Hatta, tinggal landas, terbang, hingga akhirnya mendarat mulus sempurna di Bandara Juanda di Surabaya satu jam kemudian. Hari itu, seperti menjadi sebuah milestone bagiku.

Kolase Foto Perjalanan Bersama Air Asia
Kolase Foto Perjalanan Bersama Air Asia

Di sekitar tahun 2006, terbang, masih menjadi sebuah barang mahal. Ketika itu, harga tiket sekali jalan Jakarta Surabaya berada di sekitar range 300 ribu hingga 400 ribu rupiah. Sebagai perbandingan, tiket kereta api kelas bisnis Jakarta Surabaya sekitar 100 ribu sedangkan kelas eksekutifnya sekitar 180 ribu. Untuk bus malam, harga sekitar 120 ribu hingga 150 ribu.

Tiket Terbang Perdana Surya Hardhiyana
Tiket Terbang Perdana Surya Hardhiyana

Hidup sendiri di perantauan Jakarta dengan segala macam permasalahan seperti macet, banjir, sampah ataupun polusi membuatku ingin mudik ke Gresik sesering mungkin. Sekedar untuk melepas rindu kepada orang tua, kawan, kekasih serta mengisi kembali semangat untuk berjuang di perantauan. Dengan pilihan harga moda transportasi, tentu saja Kereta Api kelas bisnis ataupun bus kota menjadi pilihan terbaik karena harganya yang termurah, meski harus menempuh perjalanan panjang hingga 13 jam.

Tapi, sejak hari itu, sebuah alternatif solusi baru kudapatkan dari sebuah maskapai yang belum lama beroperasi di tanah air. Dengan harganya yang hanya sedikit lebih mahal dari kereta api kelas eksekutif, aku bisa mencapai rumah dengan lebih cepat, sehingga waktu yang bisa kumanfaatkan untuk bersilaturahim lebih banyak.

Read more