Kemeriahan Surabaya Urban Culture Festival 2016

Bulan Mei adalah bulan yang sangat spesial untuk kota Surabaya. Di setiap akhir bulan Mei, tepatnya di tanggal 31 Mei, kota yang mendapat julukan kota pahlawan ini merayakan hari ulang tahunnya. Dalam rangka menyemarakkan hari jadi kota terbesar kedua di Indonesia itu, pemerintah kota Surabaya mengadakan banyak sekali kegiatan, seperti aneka macam lomba dan juga beberapa festival. Untuk itulah, bulan Mei adalah bulan yang sangat tepat untuk mengunjungi kota Surabaya.

Surabaya Urban Culture Festival 2016
Surabaya Urban Culture Festival 2016

Salah satu festival yang diselenggarakan untuk meramaikan perayaan hari jadi kota Surabaya di tahun 2016 ini adalah Surabaya Urban Culture Festival. Acara yang diadakan pada hari Minggu, 29 Mei 2016 yang lalu ini, mengambil tempat di salah satu jalan yang sangat termahsyur di Surabaya, yaitu Jalan Tunjungan.

Surabaya Urban Culture Festival 2016
Surabaya Urban Culture Festival 2016

Ratusan warga kota Surabaya tumpah ruah di sepanjang jalan yang namanya diabadikan dalam lirik lagu berjudul “Rek Ayo Rek” ini. Selain sebagai sarana rekreasi, sebagian besar warga Surabaya menghadiri festival ini sebagai sarana untuk berfoto ria di tengah-tengah Jalan Tunjungan tanpa khawatir akan tertabrak mobil atau motor, sebuah hal yang tidak mungkin bisa dilakukan di hari-hari biasa.

Read more

Cerita Tentang Foto [Pagi di Bandara Juanda]

Saya jatuh cinta pada foto-foto ini, rangkaian foto sebuah pagi di bandara internasional Juanda, Surabaya. Foto ini saya ambil di bulan Mei 2015, sesaat sebelum saya terbang ke Bali. Bagi saya, foto-foto tersebut istimewa. Sudah beberapa kali saya menjejakkan kaki di pintu gerbang propinsi Jawa Timur ini, tetapi belum pernah saya mendapatkan momen pagi seperti dalam foto-foto tersebut. Pun setelahnya, saya belum pernah lagi mendapatkan momen seperti itu lagi.

Suatu Pagi Yang Memerah di Bandara Juanda, Surabaya
Suatu Pagi Yang Memerah di Bandara Juanda, Surabaya

Sebenarnya sejak lama, sejak saya mendapatkan foto tersebut, saya ingin bercerita tentang foto tersebut. Tetapi saya bingung, apa yang akan saya ceritakan. Bagi saya, foto-foto itu jauh lebih indah daripada narasi dan deskripsi terindah yang pernah saya buat. Yah, apa boleh buat, dan akhirnya kata demi kata yang sangat tidak narasi dan deskripsi inilah narasi dan deskripsi untuk foto tersebut.

Suatu Pagi Yang Memerah di Bandara Juanda, Surabaya

Suatu Pagi Yang Memerah di Bandara Juanda, Surabaya
Suatu Pagi Yang Memerah di Bandara Juanda, Surabaya

Satu hal yang pasti, dari koleksi foto yang saya ambil dalam rangkaian perjalanan saya ke Bali tujuh bulan yang lalu itu, bukan foto-foto selama saya berada di pulau Dewata, Bali yang menjadi favorit saya. Justru foto-foto pagi di awal perjalanan inilah yang menjadi favorit saya. Ada seseorang yang berkata, “It is important to enjoy the journey, not just the destination”, dan pagi itu, saya mendapatkan momen terbaik justru ketika saya belum tiba di tempat tujuan.

Berjuta Bintang, Berjuta Makna

Berjuta Bintang, Berjuta Makna

Malam itu, diantara milyaran butiran pasir dan kegelapan pekat yang menyelimuti, tiba-tiba aku harus bertekuk lutut. Padahal Baru saja aku turun dari sebuah jeep yang membawaku dari kota Malang menuju sebuah samudera pasir yang tak bertepi ini. Awalnya semua terasa baik-baik saja, meski aku harus menggigil menahan hawa dingin yang terus mencoba menyusup ke dalam kulitku, sampai suatu ketika, kepalaku mendongak ke atas, ke arah langit. Saat itu mendadak kakiku terasa lemas dan serta merta tidak sanggup menahan beban badanku. Dan bruuk, lututku pun jatuh menghantam bumi.

Milky Way di Bromo
Milky Way di Bromo

Saat itu mataku seperti terhipnotis oleh magnet besar nun jauh di angkasa sana, sehingga sekedar mengalihkan pandangan saja, aku tak sanggup. Energiku pun seolah terhisap habis. Dan bahkan air mataku pun tanpa sadar turut berderai. Aku sendiri tidak mengerti.

Read more

Trilogi Mercusuar Indonesia

Trilogi Mercusuar Indonesia

Dua bulan yang lalu, saat kaki, tenaga dan semangatku berhasil mengantarkanku, menggapai puncak mercusuar di pulau Lengkuas, kepulauan Belitung, anganku langsung terkenang akan kisah perjalananku ketika mengunjungi Anyer, tiga tahun yang lalu dan bertandang ke pulau Madura, hampir dua tahun yang lalu. Saat itu, aku mengalami perjalanan yang sangat mirip dengan apa yang aku lakukan di pulau Lengkuas, yaitu menaklukan mercusuar.

Mercusuar Cikoneng, Anyer
Mercusuar Cikoneng, Anyer

Mercusuar di pulau Lengkuas, Anyer dan pulau Madura bisa dibilang mercusuar yang kembar identik. Desain bangunannya mirip, tingginya nyaris sama, bahan pembuatnya sama dan dicat dengan warna yang sama. Ini terjadi karena ketiganya memang dibangun di masa yang sama, yakni masa pendudukan kolonial Belanda di Indonesia. Tahun berdirinya pun berdekatan.

Read more

Menggapai Mahameru

Menggapai Mahameru

Kaki-kaki gontai berjalan beriringan di pekatnya malam. Gelap berpacu dengan dingin dan debu. Dua tiga langkah kaki maju diikuti satu langkah mundur. Nafas memburu terengah-engah. Paru-paru menjerit, meronta, mendamba oksigen yang kian menipis.

Badan sudah tidak sanggup berdiri tegak. Tongkat menjadi tumpuan, menggantikan lutut yang sudah seperti mati rasa. Bahkan beberapa sudah ada yang ambruk dan musti berjalan merangkak.

Puncak Mahameru 3676 mdpl
Puncak Mahameru 3676 mdpl

Kerongkongan terasa kering, tetapi persediaan air harus dihemat. Tetes demi tetes sangat berharga.

Ditengah itu semua, fokus dan konsentrasi harus tetap terjaga. Meski mata terasa berat, meski badan sudah remuk redam. Sudah sekitar tiga jam yang lalu pos Arcopodo kami tinggalkan. Puncak masih menunggu nun jauh di atas sana sedang kiri kanan jurang menganga.

Read more