Bakmi Jogja di Surabaya (1), Bakmi Jogja Trunojoyo

Bagi penggemar kuliner bakmi goreng, tentunya tidak asing dengan mie jogja, sebuah hidangan mie yang super lezat, yang konon berasal dari kota Jogja. Sekilas tidak ada yang istimewa antara mie jogja dengan mie pada umumnya, mulai dari bentuk mie, bumbu utama yang digunakan hingga cara memasaknya. Hanya saja, kalau diperhatikan lebih teliti, ada satu ciri khas dari bakmi jogja yang membedakannya dari bakmi-bakmi yang lain, yaitu bahan bakar dari penggorengan. Jika bakmi lain menggunakan minyak ataupun gas elpiji, maka bakmi jogja tetap setia dengan bahan bakar arang. Konon, dengan kalori yang stabil dari arang membuat tingkat kematangan mie bisa merata dan bumbu bisa merasuk hingga kedalam mie.

Bakmi Jogja Trunojoyo
Bakmi Jogja Trunojoyo

Berangkat dari tempat asalnya di Jogja, kini bakmi jogja sudah melanglang buana ke seluruh penjuru tanah air, tak terkecuali di Surabaya. Salah satu rumah makan bakmi jogja yang sangat tersohor di kota pahlawan adalah Bakmi Jogja Trunojoyo.

Berlokasi di JL Tegalsari, Bakmi jogja trunojoyo adalah rumah makan yang tidak hanya sekedar menyajikan makanan khas dari Jogja, tetapi juga memberikan pengalaman akan keramahan khas Jogja pada pengunjungnya. Begitu memasuki gerbang rumah makan, suasana klasik langsung terasa karena memang bangunan yang digunakan adalah bangunan dengan desain arsitektur bergaya kolonial Belanda.

Read more

Memanjakan Lidah bersama Nasi Krawu Khas Gresik

Setiap sekitar dua sampai tiga minggu sekali, saya menghabiskan akhir pekan dengan silaturahim ke rumah orang tua di Gresik. Selain sebagai momen untuk melepas rindu dan berbagi cerita bersama ayah, mama dan adik-adik, kesempatan untuk pulang ke Gresik juga sebagai sarana untuk memanjakan lidahku dengan berbagai kuliner khas nan lezat dari kota santri ini. Salah satunya yang sudah tersohor adalah Nasi Krawu.

Nasi Krawu Khas Gresik
Nasi Krawu Khas Gresik

Secara formasi makanan, kuliner khas Gresik ini terdiri dari nasi putih pulen yang diberi topping lauk berupa daging sapi yang disayat-sayat (dalam bahasa jawa, disuwir), semur daging sapi, serundeng serta sambal terasi. Biasanya, untuk menambah aroma dan cita rasa nasi krawu agar semakin gurih, ada tambahan berupa jeroan sapi (bagian dalam sapi), seperti hati, ampela, babat ataupun jantung. Semua bahan-bahan tadi kemudian ditata dengan rapi di atas kertas bungkus maupun piring yang sudah dilapisi daun pisang, untuk kemudian disajikan kepada para penikmat nasi krawu.

Setelahnya, adalah saat-saat paling indah bagi lidah pelanggan nasi Krawu. Saat dimana kombinasi butir-butir nasi putih dan sayatan daging sapi empuk yang diolah dengan berbagai bumbu berpadu dengan serundeng dan sambel terasi di dalam mulut. Hmm, jangan tanyakan bagaimana rasanya ya. Yang pasti, sambil nulis postingan ini, mendadak, saya jadi pengen pulang ke Gresik, hari Sabtu ini, he he he.

Read more

Menikmati Suasana di Java Dancer Coffee Malang

Seloyang kudapan tersaji dihadapanku. Dari asap yang mengepul harum, saya bisa memastikan kalau makanan berbentuk lingkaran ini masih baru keluar dari oven. Banyak orang mengatakan, kudapan yang saat ini sudah membuatku kehilangan kendali akan selera ini, berasal dari salah satu negeri kiblat sepakbola dunia di Eropa, Italia. Pizza adalah Italia, dan Italia adalah Negeri Pizza.

Java Dancer Coffee
Java Dancer Coffee

Jika biasanya, saya menikmati hidangan Pizza di restoran-restoran internasional, maka kali ini berbeda. Saya akan menyantap Pizza meat lovers home made ala Java Dancer Coffee, Malang.

Read more

Menikmati Sushi

Sushi

Sama seperti kebanyakan orang, saya mengenal Sushi dari menonton film Jepang. Untuk saya sendiri, tepatnya setelah menonton ratusan episode dari film kartun legendaris, Doraemon. Disana digambarkan sushi adalah sebuah kuliner yang sangat lezat, sehingga Nobita sering merengek-rengek pada orang tuanya untuk dibelikan. Tetapi harga sushi yang sangat mahal membuat ayah Nobita tidak sanggup membelikan sushi setiap saat kepada keluarganya.

Sushi
Sushi

Adegan tentang sushi di Doraemon, terekam erat dalam kepala. Bahkan otak saya pun ikut-ikutan membuat klaim bahwa sushi itu enak, padahal waktu itu belum pernah melihat sushi secara langsung, apalagi menikmatinya. Sampai pada suatu hari, sekitar 15 tahun yang lalu, seorang kawan mengajakku makan sushi. Suatu ajakan yang sungguh seperti menggapai sebuah mimpi. Tapi hanya dalam waktu beberapa jam, mimpi itu kandas. Saat itulah saya baru tahu bahwa sushi itu adalah hidangan ikan mentah. Memang ikan yang dijadikan bahan bukan ikan biasa, melainkan ikan pilihan seperti Salmon ataupun Tuna, tapi tetap saja, membayangkan betapa amisnya ikan yang mentah membuatku ingin muntah.

Sejak saat itu, tidak ada lagi keinginan sedikitpun untuk makan sushi di kepalaku. Sejak saat itu pula, tidak sekalipun ada pembicaraan tentang sushi, hingga beberapa bulan silam, saat istri tiba-tiba mengajak makan sushi, disebuah restoran sushi halal. Saya pun langsung dengan tegas menolak. Bukannya gak sayang istri, tapi ya saya sih gak rela saja, beli makanan yang saya sendiri ga suka, dengan harga cukup mahal. Istri pun menjelaskan bahwa kalau di Indonesia, kita bisa memilih sushi yang ikannya matang. Bahkan kalau memang ga suka ikan, ada sushi ayam juga, dan tentu saja ayamnya sudah digoreng. Tapi saya tetap tidak mau.

Read more

Menikmati Street Food ala Jogja

Segelas Kopi Joss

Malam itu disebuah kedai di pinggir jalan. Seseorang meletakkan sebuah gelas kaca berukuran sedang di sebuah meja. Kedalam gelas itu, dituangkan satu sendok makan kopi bubuk yang ditemani satu sendok makan gula pasir. Sesaat kemudian seseorang itu mengangkat sebuah teko dari atas kompor. Asap tidak henti-hentinya mengepul dari dalam teko.

Seseorang itu kemudian mendekatkan teko tersebut pada gelas dan menumpahkan beberapa mili liter air mendidih yang ada didalamnya, kedalam gelas. Air yang tertuang kedalam gelas itu pun berubah warna menjadi hitam setelah tercampur dengan bubuk kopi dan gula. Agar lebih menyatu, air, kopi dan gula itu diaduk dengan menggunakan sendok. Setelah adukan dirasa cukup, seseorang itu mengambil sebuah potongan kecil arang yang tampak masih merah membara dari sebuah alat pemanggang, untuk kemudian dimasukkan ke dalam segelas kopi. Terdengar suara joss dari dalam gelas. Dan kopi jos pun siap untuk dinikmati.

Segelas Kopi Joss
Segelas Kopi Joss. Picture taken from kopistory.com

Dengan penuh keraguan dan juga penasaran, aku mencoba menikmati kopi jos yang terhidang didepanku. Sesap demi sesap, aku merasakan tidak ada yang berbeda dengan rasa kopinya. Menurut sang penjual, arang pada kopi jos memang tidak mempengaruhi rasa kopi. Juga tidak berbahaya bagi peminumnya, tetapi justru menyehatkan karena menurunkan kadar kafein dalam kopi. Benar atau tidak, aku tidak tahu.

Read more