Movie Review : The Teacher’s Diary

The Teacher’s Diary adalah sebuah film Thailand yang rilis pada tahun 2014. Dalam Bahasa Thailand, film ini berjudul Khid Thueng Withaya. Film yang disutradari oleh Nithiwat Tharatorn ini adalah produksi dari GTH (Gmm Tai Hub Co., Ltd), salah satu rumah produksi papan atas di Negeri Gajah Putih yang sudah menghasilkan cukup banyak film berkualitas, seperti Bangkok Traffic (Love) Story, Hello Stranger dan Suckseed.

The Teachers Diary Poster
The Teachers Diary Poster

Meskipun tulisan ini berjudul movie review, tetapi jangan harap saya akan menuliskan tentang sinopsis film. Mungkin ada sedikit yang sifatnya spoiler, tapi tidak akan mengganggu kenikmatan seseorang yang belum menontonnya.

Dari pengamatanku, ada dua tema besar yang ingin diangkat di film The Teacher’s Diary ini. Yang pertama adalah tentang sosok guru. Pada film ini ditunjukkan bagaimana seharusnya peran seorang guru yang sesungguhnya, yaitu sebagai seorang pendidik, bukan sekedar pengajar.

Read more

Mengembara Masa SMA Bersama Novel Dilan 1990

Milea, kamu cantik.
Tapi hari ini aku belum mencintaimu.
Enggak tahu kalau sore.
Tunggu aja

Itu salah satu bait kalimat yang disampaikan Dilan pada Milea di awal perkenalan mereka. Barisan kata yang membuat saya akhirnya betah membaca buku lagi setelah sekian lama mencukupkan diri dengan komik, majalah ataupun catatan perjalanan di berbagai blog.

Cover Novel Dilan 1990
Cover Novel Dilan 1990

Dilan 1990, sebuah novel karya Pidi Baiq, seorang penulis yang mengaku sebagai imigran dari surga yang diselundupkan ke Bumi oleh ayahnya, yang bercerita tentang secuil kisah tentang seorang laki-laki bernama Dilan dan seorang gadis bernama Milea. Berbagai kisah dalam buku Dilan 1990 ini, ditulis dari sudut pandang seorang Milea.

Membaca Dilan 1990, membuat saya seperti berjalan mengendarai mesin waktu ke masa-masa sekitar 20 tahun silam, karena memang novel ini mengambil setting tahun 90an, tepatnya di tahun 1990. Masa SMA saya sendiri berlangsung antara tahun 1997 hingga tahun 2000, sehingga nuansa 90an masih terasa mirip, atau bahkan benar-benar sama. Masa-masa itu adalah masa dimana internet masih merupakan barang antah berantah. Jangankan whatsapp, sms saja belum ada di jaman itu. Untuk menelpon gebetan harus menggunakan telepon rumah, dimana bisa saja yang mengangkat telepon bukan si dia, tetapi orang tuanya.

Read more

Life Traveler by Windy

Hari itu, sekitar bulan Mei 2012 yang lalu, di kala malam menjelang sepulang kerja, aku menemukan sebuah buku teronggok di sofa rumah. Sebuah buku bertajuk Life Traveler yang belum pernah kulihat sebelumnya berkeliaran di rumahku. Tampaknya ini adalah buku baru. Dugaan ini diperkuat dengan bercecerannya sebuah tas plastik bermerek salah satu toko buku ternama di tanah air dengan sebuah kertas struk tak jauh dari lokasi buku itu tergeletak.

02d5cc1cc569accc93fa058a797278e5_life-traveler

Tersangka pembeli buku tidak lain dan tidak bukan adalah dewi. Si kutu buku satu ini tampaknya memang sudah tidak sabar membeli lagi buku, setelah harus ‘puasa’ beli (dan baca) buku sejak bulan Januari yang lalu. Memang sejak rencana pindah rumah di sekitar bulan April 2012 fix, aku menerapkan kebijakan menunda pembelian buku sejak bulan Januari. Ya bukannya tidak sayang istri, tapi hanya ingin tidak menambah berat barang-barang yang dibawa pindahan.

Sembari meletakkan tas dan merebahkan badan ke sofa, aku ambil buku karya mbak windy ariestanty itu. Dari cover, buku ini sudah tampak menarik. Ditambah lagi dengan adanya review dari penulis sekaliber Dewi ‘dee’ Lestari. Dibuka lembar demi lembar, dan sejak saat itu, buku tersebut menjadi salah satu favoritku. Beberapa hari setelah hari itu, buku itu sempat menjadi bahan rebutan bacaan aku dan dewi, he he he. Tapi akhirnya aku berhasil membacanya duluan karena buku ini aku culik kala berdinas luar kota ke Pare-pare.

Read more