Jembatan Ampera dalam Rekaman Lensa

Jembatan Ampera dalam Rekaman Lensa

———-

“Ketika kata tak mampu terucap, aksara tak sanggup terangkai, biarkanlah foto yang berbicara”

———-

Malam ini, ketika aku menggerakkan tuts-tuts keyboard laptopku, mengetikkan satu demi satu huruf ke layar, tiba-tiba aku seperti kehilangan kata-kata yang hendak ku tulis. Sudah saatnya bagiku untuk memperbarui isi postingan di blog tercinta ini setelah terakhir aku melakukannya lebih dari seminggu yang lalu. Seminggu sebenarnya waktu yang belum terlalu lama bagiku, tetapi setelah apa yang terjadi di bulan Januari kemarin, rasanya aku tidak ingin kehilangan momentum itu.

Jembatan Ampera Palembang Saat Petang
Jembatan Ampera Palembang Saat Petang

Sambil berusaha bercerita, mataku memandang lekat foto-foto jembatan Ampera yang pernah ku ambil ketika bertandang ke Palembang. Tak terasa, ternyata banyak sekali. Ada sekitar 30an lebih dengan berbagai sudut dan waktu pengambilan. Memang, dari total lima kali kunjunganku ke Palembang, sejak kedatanganku pertama sekitar awal September 2013 yang lalu, aku tidak pernah melewatkan sekalipun untuk tidak berkunjung ke Jembatan Ampera.

Read more

Dari Banyuwangi, Kembali ke Barat (Sebuah Epilog)

Dari Banyuwangi, Kembali ke Barat (Sebuah Epilog)

———-

“Buah tangan terbaik dari suatu perjalanan adalah kisah-kisah yang menghangatkan”

———-

Malam itu stasiun Kali Setail tampak ramai. Keheningan yang biasanya menggelayut di stasiun yang teretak di kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi ini mendadak berubah ketika enam buah mobil berjenis trooper memasuki halaman stasiun secara beriringan.

Stasiun Kalisetail, Banyuwangi
Stasiun Kalisetail, Banyuwangi

Sesaat setelah mobil terparkir sempurna, keluarlah wajah-wajah sayu dari dalamnya. Sesekali mereka mengucek-ucek mata agar bisa sedikit lebih terbuka. Dengan langkah gontai, mereka berjalan menuju Stasiun. Sesampainya di peron, mereka langsung menghempaskan tubuh serta bawang bawaan mereka di kursi. Ruang tunggu stasiun yang hanya berkapasitas sekitar 40an tempat duduk itu pun langsung penuh.

Jarum jam saat itu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat lima menit. Waktu yang sebenarnya tidak terlalu lama untuk menanti kereta yang akan datang setengah jam kemudian. Tapi semua terasa berbeda ketika kondisi lelah menyerang.

Aku sendiri terduduk di salah satu kursi di paling ujung belakang. Dari dulu aku paling senang duduk belakang seperti sekarang ini. Alasannya mudah, dari belakang kita bisa memandangi tingkah laku orang-orang yang lalu lalang di depan kita. Karena itu janganlah duduk belakang disaat sekolah atau kuliah, nanti yang diperhatikan adalah orang-orang di depan kita, bukan ilmu yang tengah dibagikan oleh guru kita.

Read more

Haidi, sang Maestro Biola Banyuwangi

Haidi, sang Maestro Biola Banyuwangi

Pertunjukan Barong baru saja selesai dipentaskan. Sanggar Genjah Arum yang sebelumnya riuh dengan berbagai macam suara serta kilatan lampu flash dari kamera, menjadi sedikit tenang kembali. Para pemain Barong tengah beristirahat sejenak, bersiap untuk pertunjukan selanjutnya. Sedangkan para penonton kembali ke rutinitas semula. Ada yang meneruskan membuat artikel di Laptop, makan aneka gorengan yang sudah disediakan Sanggar, bermain ponsel ataupun melanjutkan diskusi tentang kopi bersama Pak Iwan.

Mas Haidi dengan Biolanya
Mas Haidi dengan Biolanya

Aku sendiri masih terpaku di tempatku berdiri menyaksikan tari Barong tadi. Masih terngiang di kepalaku ternyata Tidak hanya Bali saja yang punya Barong, Banyuwangi juga.

Tiba-tiba, dari keheningan itu, menyeruak sebuah melodi yang menggetarkan gendang telingaku. Alunan nada yang sangat merdu dan syahdu. Untaian suara yang sangat khas dari sebuah alat musik gesek yang biasa dimainkan Henri Lamiri ataupun Sharon The Corrs. Biola. Yak itu tadi adalah suara Biola.

Bola mataku langsung bergerak, mencari dari mana sumber suara berasal. Dan, aku mendapatkannya.

Read more

Menatap Senja (Tak) Sempurna di Pulau Merah

Menatap Senja (Tak) Sempurna di Pulau Merah

Sore itu langit tampak mendung. Awan gelap berarak menggumpal-gumpal di ufuk barat. Angkasa menghitam. Hanya menyisakan sedikit saja ruang untuk warna lain berpendar. Wajarlah sebenarnya. Bulan ini memang bulan dimana musim penghujan datang. Bahkan katanya di musim ini curahnya paling tinggi. Januari. Orang sering memplesetkannya dengan hujan berhari-hari. Beberapa jam yang lalu pun hujan baru saja mengguyur daerah ini. Tapi saat ini sudah reda, tinggal menyisakan rintiknya saja.

Senja di Pulau Merah, Banyuwangi
Senja di Pulau Merah, Banyuwangi

Dibawah senja kelabu, aku terduduk di bawah pohon. Entahlah pohon apa namanya, aku belum mengenal spesiesnya. Di sekitarku berserakan pasir berwarna kecokelatan, terbentang sejauh lebih dari 3 km. Di hadapanku laut terhampar. Ombaknya tampak riang. Mereka menari-nari dan bergulung-gulung hingga setinggi sekitar 2 meteran menjelang bibir pantai. Nun jauh di sana, samar-samar tampak beberapa tebing batu berserakan muncul ke permukaan laut. Buih ombak mengaburkan sedikit keberadaan mereka.

‘Hmm, cantik sekali pantai ini,’ batinku.

Tapi bukan ombak itu yang membuatku terpesona. Di Bali, Lombok ataupun di pantai-pantai lainnya, banyak ditemui ombak besar dan kuat seperti itu. Tidak pula gugusan tebing batu yang berserakan itu, karena jaraknya cukup jauh dari bibir pantai, sehingga tidak begitu terasa kecantikannya.

Justru pemandangan sebuah bukit berbentuk kerucut yang seolah-olah tumbuh menjulang dari bibir pantai itulah pesona dari pantai ini. Orang-orang sekitar pantai ini menyebut bukit itu Pulau Merah.

Read more

Teluk Hijau yang Menakjubkan

Teluk Hijau yang Menakjubkan

Ekspresi apa yang akan kalian lakukan jika mendapatkan kebahagiaan yang amat sangat. Berteriak, Tertawa, Melompat-lompat, Berlarian, atau malah menangis? Hari minggu, 12 Januari 2014 yang lalu, aku merasakan kebahagiaan itu. Dan yang aku lakukan adalah berteriak gak jelas lanjut kemudian menangis terharu dan bersujud. Bersyukur kepada Allah telah diberi kesempatan menyaksikan salah satu tempat terindah di muka bumi ini. Subhanallah.

Teluk Hijau, Banyuwangi
Teluk Hijau, Banyuwangi

Namanya Teluk Hijau, atau teluk ijo kalau orang-orang lokal bilang. Kalau orang-orang bule menyebutnya Green Bay. Lokasinya berada di pesisir selatan pulau jawa, tepatnya di Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, sekitar 90 km arah barat daya dari kota Banyuwangi, dan masuk dalam wilayah Taman Nasional Meru Betiri.

Read more