Kerapan Sapi, Formula Satu Asli Indonesia

Semua pembaca wongkentir pasti sudah pernah mendengar kerapan sapi. Ya, itu adalah nama sebuah perlombaan balapan sapi yang sangat termahsyur di Pulau Madura. Dalam kerapan sapi yang berlomba adalah sepasang sapi yang dikendalikan oleh seorang joki. Sepasang Sapi itu disatukan dengan cara dijepit lehernya dengan alat yang diberi nama Pangonong.

Balapan Karapan Sapi
Balapan Karapan Sapi

Bagi rakyat Madura, kerapan sapi bukan hanya sebuah balapan biasa, tetapi sebuah pertaruhan gengsi dan harga diri. Karena itu tidak heran, persiapan para peserta sebelum berlomba sangat luar biasa. Semua persiapan itu dilakukan bahkan beberapa minggu hingga bulan sebelum perlombaan, mulai mempersiapkan sapi, latihan demi latihan dan tidak lupa suplemen khusus untuk si sapi.

Sapi untuk kerapan bukan sapi biasa, tetapi sapi yang harus memenuhi spesifikasi khusus. Oleh karena itu harga sapi kerapan sangat mahal, kabarnya hingga mencapai ratusan juta. Apalagi jika sapi itu menjadi juara, harganya bisa lebih selangit lagi.

Kerapan Sapi diadakan setiap tahun di Madura, dengan puncaknya adalah partai final yang biasanya diselenggarakan di Bulan Oktober dan memperebutkan piala presiden.

Read more

Jelajah Medan(Sumatera Utara Day 3)

Kami berdua bangun cukup pagi di hari Minggu (17 Juli 2011). Ini adalah hari ketiga sekaligus hari terakhir perjalanan kami di Sumatera Utara. Rencananya hari ini kami akan berkeliling kota medan dengan naik becak motor, angkutan umum khas kota medan.

img_1743w1

Karena waktu yang sempit, kami memulai petualangan sepagi mungkin. Jam 12 siang nanti, kami sudah harus berada di pesawat karena itu adalah jadwal take off pesawat yang akan membawa kami pulang kembali ke Surabaya.

Tujuan pertama kami adalah Masjid Raya Medan. Setelah dianalisa di google map, ternyata masjid ini hanya berjarak sekitar 1 km saja dari hotel, karena itu kami memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju Masjid. Rencananya pas pulangnya nanti, baru kami naik becak.

Read more

Menjelajahi belantara Sumatera (Sumatera Utara Day 2)

Sabtu (16 Juli 2011) perjalanan menjelajahi belantara Sumatera Utara berlanjut. Ternyata cuaca hari ini masih tetap mendung. Tampaknya efek dari kebakaran hutan Riau ini menyebar ke seluruh pulau Sumatera. Tapi cuaca itu tidak menyurutkan langkahku untuk melanjutkan perjalanan travelling di belantara Sumatera Utara ini.

Perjalanan hari kedua ini dimulai tepat jam 8 pagi. Setelah check out, kami langsung diantar Bang Ronal menuju pelabuhan Ajibata. Dari sini kami naik fery menuju Tomok di pulau samosir. Lama perjalanan Ajibata Tomok ini ditempuh dalam waktu 45 menit.

Read more

Singgah di Danau Toba (Sumatera Utara Day 1)

Suasana Petang di Parapat, Danau Toba

Perjalanan hidup akhirnya membawaku ke Pulau Sumatera. Yah, di usia yang sudah menginjak 28 ini, aku belum pernah menginjakkan kaki di salah satu pulau besar di Indonesia ini. Memang sih aku sudah pernah ke Batam, tapi Batam kan sebuah pulau tersendiri, meski masih bagian dari salah satu propinsi di pulau sumatera. Berbekal (lagi-lagi) tiket promo dari maskapai low cost carrier terbaik di dunia, aku dan istriku akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Pulau Sumatera.

Suasana Petang di Parapat, Danau Toba
Suasana Petang di Parapat, Danau Toba

Perjalanan dimulai hari Jumat yang lalu, 15 Juli 2011. Pesawat take off dari Bandara Juanda, Surabaya pukul 8.40 pagi menuju Medan. Perjalanan Surabaya Medan memakan waktu 3 jam. Perjalanan yang sebenarnya cukup lama dan membosankan. Untunglah istriku membawa serta mp3 playernya, jadi lumayan terhibur. Hal yang paling tidak bisa dicegah ketika perjalanan yang cukup lama ini adalah lapar, he he he. Apalagi paginya kami belum sempat sarapan karena bangun kesiangan. Jadinya ya, kamipun terpaksa membeli nasi di Pesawat, meski harganya lumayan mahal. Cukup sekotak saja, untuk dibagi dua. Romantis kan?!! Wekekekekekekeke. Hemat!! Kalau kata iklan salah satu operator telepon seluler.

Read more

Menjoesoeri Kota Toea Soerabaja

Teman-teman pembatja blog wongkentir jang setia, pastinja soedah tahoe, djikalaoe kota Soerabaja dikenal sebagai kota Pahlawan. Joeloekoen ini disematdjkan sedjak peristiwa pertempoeran 10 nopember 1945 jang sangat tersohor itoe. Saat itoe arek-arek Soeroboio berperang dengan gagah berani melawan tentara sekoetoe (jang dibontjengi oleh belanda) meski hanja dengan bersenjatakan bamboe roentjing.

Dengan diiringi pekik Allahu Akbar dan semboian Merdeka ataoe Mati jang dikoemandangkan oleh Boeng Tomo lewat radio, mereka bertempoer sampai titik darah penghabisan, mempertahankan tanah air jang mereka tjintai.

Kini, lebih dari 65 tahoen sejak pertempoeran itoe, Soerabaja telah berkembang menjadi kota metropolitan jang siboek. Berbagai matjam jenis indoestri toemboeh di kota kelahirankoe ini, moelai dari tekstil, baja, elektronik, foernitoere, telekomoenikasi, pariwisata dan aneka indoestri lainnja. Semoea itoe didoekoeng oleh sarana infrastroektoer distriboesi jang tjoekoep baik moelai dari pelaboehan Tanjoeng Perak jang meroepakan pelaboehan tersiboek di Indonesia timoer hingga bandara oedara internasional Joeanda.

Meski modernisasi berkembang pesat di Soerabaja, kenangan akan masa-masa pendoedoekan VOC jang dilanjoetkan dengan penjajahan kolonial Belanda masih bisa diteloesoeri di kota ini. Peninggalan terbanjak adalah di daerah Soerabaja Oetara, moelai dari kawasan JL Rajawali, JL Kembang Jepun, JL Djembatan Merah, JL Pahlawan hingga JL Toenjoengan.

Read more