Menggapai Mahameru

Menatap Mahameru

Kaki-kaki gontai berjalan beriringan di pekatnya malam. Gelap berpacu dengan dingin dan debu. Dua tiga langkah kaki maju diikuti satu langkah mundur. Nafas memburu terengah-engah. Paru-paru menjerit, meronta, mendamba oksigen yang kian menipis.

Badan sudah tidak sanggup berdiri tegak. Tongkat menjadi tumpuan, menggantikan lutut yang sudah seperti mati rasa. Bahkan beberapa sudah ada yang ambruk dan musti berjalan merangkak.

Puncak Mahameru 3676 mdpl
Puncak Mahameru 3676 mdpl

Kerongkongan terasa kering, tetapi persediaan air harus dihemat. Tetes demi tetes sangat berharga.

Ditengah itu semua, fokus dan konsentrasi harus tetap terjaga. Meski mata terasa berat, meski badan sudah remuk redam. Sudah sekitar tiga jam yang lalu pos Arcopodo kami tinggalkan. Puncak masih menunggu nun jauh di atas sana sedang kiri kanan jurang menganga.

Read more

Berburu Intan di Martapura

Ayat Al Quran Tentang Jual Beli di Pasar Martapura

————

“Martapura, Kota Baintan”

————

Berkunjung ke Banjarmasin dan propinsi Kalimantan Selatan, tidak lengkap rasanya kalau tidak mampir ke Martapura. Kota yang terletak di sebelah timur kota Banjarmasin dan hanya berjarak satu jam perjalanan saja ini sudah lama tersohor sebagai penghasil intan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia.

Taman di depan Komplek Pertokoan Cahaya Bumi Selamat, Martapura
Taman di depan Komplek Pertokoan Cahaya Bumi Selamat, Martapura

Intan, salah satu jenis bahan mineral yang dimanfaatkan sebagai perhiasan selain emas, perak dan permata, adalah komoditas utama Martapura dan salah satu roda penggerak ekonomi utama propinsi Kalimantan Selatan, selain batubara. Intan di martapura sudah digali sejak ratusan tahun yang lalu, tepatnya ketika masa penjajahan kolonial Belanda.

Read more

Menjelajah Perairan Utara Belitung

Pulau Batu Berlayar, Belitung

————

“Jika Inggris punya Stonehenge, Indonesia punya gugusan bebatuan Belitung”

————

Mungkin tidak ada pantai di dunia ini yang memiliki keunikan seperti pantai yang sempat kukunjungi sekitar sebulan yang lalu, di hari minggu, di akhir agustus 2014. Jika biasanya, pantai yang eksotis itu identik dengan kombinasi air laut yang jernih dan berwarna hijau toska, garis pantai yang panjang serta pasir pantai yang putih dan lembut, maka untuk pantai yang satu ini berarti statusnya adalah eksotis plus, karena selain memiliki syarat tiga hal yang sudah disebutkan diatas, pantai di sebuah pulau yang terletak di utara laut jawa ini juga dihiasi oleh gugusan bebatuan hitam yang ukurannya super jumbo. Itulah kiranya anugerah yang diberikan oleh Allah kepada pulau Belitung, selain timah tentunya yang sejak dulu menjadi komoditas utama pulau.

Pemandangan Pulau Lengkuas dari atas Mercusuar
Pemandangan Pulau Lengkuas dari atas Mercusuar

Hari itu adalah kali pertama aku melangkahkan kaki di pulau yang sekarang dikenal sebagai Pulau Laskar Pelangi itu. Dan seketika itu aku langsung jatuh hati pada kemolekan pantai-pantainya.

Read more

Rajutan Mimpi bernama Belitung

Pantai Tanjung Tinggi, Belitung

————

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”

— Andrea Hirata —

————

Enam tahun lalu, simpul-simpul mimpi itu mulai terajut perlahan demi perlahan. Semua berawal dari sepasang bola mataku yang mengirimkan rekaman demi rekaman adegan yang tersaji dihadapanku ke otakku. Oleh pusat pengendali sarafku, rajutan mimpi yang belum sempurna itu disimpan dengan nama file Belitung di salah satu relung otakku.

Pantai Tanjung Tinggi, Belitung
Pantai Tanjung Tinggi, Belitung

Enam tahun lalu. Ketika itu aku terduduk nyaman di sebuah sofa empuk berwarna merah, di ruangan besar yang temaram dan dingin. Ada puluhan lampu terpasang di atap ruangan, tapi hanya sebagian kecil saja yang dinyalakan. Dihadapanku, terhampar layar putih yang cukup lebar, hingga hampir menutupi satu sisi dinding.

Enam tahun lalu, sebuah lakon diputar di atas permukaan kain yang terbentang itu. Adegan dimulai dengan menampilkan seseorang berusia sekitar 30 tahunan yang tengah menumpang sebuah bus. Pandangannya terlempar ke arah panorama semak belukar kering yang tumbuh liar di tepi jalanan.

Read more

Pesona Phinisi

Pembuatan Kapal Phinisi di Bulukumba, Sulawesi Selatan

————

“Ada bukti nyata bahwa nenek moyang kita memang seorang pelaut. Datanglah ke Tanah Beru, dan saksikan bagaimana Phinisi dibuat”

————

Di suatu sore yang cerah di bulan Mei 2014 yang lalu. Ketika itu aku, istri dan kedua adikku tengah menjelajahi jalur selatan pulau Sulawesi, dari kota Makassar menuju Tanjung Bira. Sudah sekitar lima jam lebih perjalanan yang kami tempuh dengan menggunakan sebuah mobil yang kami sewa.

Mobil sendiri mulai bergerak meninggalkan kabupaten Bantaeng dan memasuki Kabupaten Bulukumba. Ini ditandai dengan adanya sebuah monumen berbentuk kapal phinisi. Ingin rasanya berhenti sejenak mengambil foto disana, tetapi entah mengapa aku hanya terdiam saja dan membiarkan mobil terus melaju ke timur. Sebuah penyesalan pun muncul didalam dadaku beberapa menit kemudian.

Pembuatan Kapal Phinisi di Bulukumba, Sulawesi Selatan
Pembuatan Kapal Phinisi di Bulukumba, Sulawesi Selatan

Tetapi, untunglah penyesalan itu ternyata tidak berlangsung lama. Menjelang beberapa kilometer lagi sampai di Bira, driver kami mendadak memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan. Kami sempat bingung dengan apa yang terjadi dan mengira ada masalah di mobil hingga membuatnya harus berhenti sejenak.

Tapi kebingungan itu sirna, begitu kami keluar dari dalam mobil dan melihat pemandangan yang tersaji disana. Sebuah kegiatan pembuatan Kapal Phinisi. Yang lebih takjub lagi, kapal Phinisi yang kami saksikan ini sangat luar biasa besar hingga membuat penuh rasanya bola mataku. Subhanallah.

Read more