Seloyang kudapan tersaji dihadapanku. Dari asap yang mengepul harum, saya bisa memastikan kalau makanan berbentuk lingkaran ini masih baru keluar dari oven. Banyak orang mengatakan, kudapan yang saat ini sudah membuatku kehilangan kendali akan selera ini, berasal dari salah satu negeri kiblat sepakbola dunia di Eropa, Italia. Pizza adalah Italia, dan Italia adalah Negeri Pizza.
Java Dancer Coffee
Jika biasanya, saya menikmati hidangan Pizza di restoran-restoran internasional, maka kali ini berbeda. Saya akan menyantap Pizza meat lovers home made ala Java Dancer Coffee, Malang.
Halaman Masjid Raya Bandung di hari Minggu itu tampak riuh renyah dengan suara anak-anak. Gelak tawa penuh keceriaan, tangisan, teriakan dan juga jeritan berbaur menjadi satu di atas permadani hijau yang terhampar di sepanjang halaman Masjid. Sebuah pemandangan yang sangat indah.
Suasana Halaman Masjid Raya BandungCalon Striker Timnas Indonesia
Semuanya itu membawa saya seperti terkenang ke masa beberapa tahun yang lalu. Masa ketika saya masih seusia mereka. Masa dimana banyak orang bilang, masa yang paling menyenangkan. Masa ketika hidup dipenuhi dengan agenda main, main dan main. Masa dimana waktu berjalan terasa sangat lama. Masa dimana belum ada beban kehidupan yang harus disangga, ataupun masalah yang musti dihadapi dan dipecahkan. Masa dimana kejujuran begitu mudah untuk dilakukan. Masa dimana kita bisa dengan cepat bangkit setelah terjatuh, baik saat berlari maupun ketika menaiki sepeda.
Nafas saya begitu berat dan kaki ini mendadak terasa sangat berat. Peluh hampir membasahi seluruh baju yang saya kenakan. Dengan lesu saya mendongak ke atas bukit, mencoba mencari puncak yang hendak saya gapai. Tetapi puncak masih belum terlihat. Entahlah, mendadak saya seperti merasa bukit ini seperti tidak memiliki puncak.
Pelataran 1 Situs Megalitikum Gunung Padang
Tapi kemudian, semangat itu datang lagi. Saya berjanji, saya tidak akan menyerah. Diantara nafas yang tersengal, saya terus menapaki tangga menanjak yang ada di hadapan saya. Sudah sepuluh menit, saya menapaki satu persatu anak tangga disini sejak di kaki bukit tadi. Jadi amat disayangkan jika saya harus berhenti disini.
Badan memang terasa remuk redam karena semalaman tidak bisa tidur nyenyak di mobil plus agenda penjelajahan keliling Bandung yang melelahkan, tapi saya harus lanjut. Untungnya sore itu, cuaca cukup bersahabat. Matahari sudah tidak terlalu terasa panas. Langit juga berawan sehingga hawa menjadi terasa lebih sejuk.
Lima menit kemudian, sampailah saya di puncak yang memiliki ketinggian sekitar 885 mdpl. Selamat datang di Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, tepatnya di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Sejak beberapa tahun terakhir, ruas jalan Surabaya – Malang menjadi jalur yang amat sangat padat, terutama ketika akhir pekan atau musim liburan sekolah. Kondisi ini disebabkan peningkatan minat kunjungan masyarakat Surabaya dan sekitarnya ke kota Malang maupun Batu yang berakibat meningkatnya volume kendaraan. Apalagi dengan kondisi saat ini, ketika pariwisata sudah menjadi seperti sebuah gaya hidup. Sayangnya pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan ke Malang dan Batu ini tidak diimbangi dengan peningkatan daya dukung infrastruktur jalan. Pertumbuhan jumlah mobil maupun motor jauh lebih tinggi daripada pertambahan kilometer dari ruas jalan.
Kereta Api Bima Jakarta – Malang PP
Salah satu alternatif yang bisa digunakan untuk dapat menembus kemacetan antar dua kota terbesar di Jawa Timur itu adalah dengan menggunakan moda transportasi Kereta Api. Jika dulunya, hanya Kereta kelas ekonomi saja yang melayani rute Surabaya – Malang melalui KA Penataran, saat ini PT Kereta Api juga membuka rute kereta api kelas eksekutif dengan menggunakan rangkaian KA Bima. Rute lengkapnya, KA Bima ini berangkat dari stasiun Gambir, Jakarta menuju Stasiun Gubeng Surabaya. Setelah itu dari Stasiun Gubeng lanjut perjalanan hingga Stasiun Malang.
Sudah lama Surabaya dikenal sebagai daerah pesisir. Secara geografis, wilayah kota pahlawan ini memang berbatasan langsung dengan laut, mulai dari sisi utara hingga ke sisi timur. Sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, Surabaya menjadi salah satu pusat perdagangan dengan pelabuhan kalimas sebagai pintu gerbangnya.
Pintu Masuk menuju lokasi Sunrise Of BulakPoster Lomba Blog Sunrise Of Bulak
Sebagai daerah pesisir, salah satu mata pencaharian utama dari warga Surabaya adalah nelayan, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir utara dan timur Surabaya, seperti Bulak, Kenjeran ataupun Semampir. Sayangnya, selama ini wilayah-wilayah pesisir Surabaya tersebut identik dengan kondisi kumuh, bau dan kotor. Pantainya dipenuhi berbagai macam sampah, baik itu sampah dari sisa konsumsi seperti plastik, kaleng maupun sampah dari limbah hasil laut seperti sisik ikan, cangkang kerang maupun kulit udang. Kondisi makin diperparah dengan air pantai yang keruh kecokelatan. Sebuah pemandangan yang sangat jauh dari kata indah.