Berkelok-kelok diantara Merapi dan Merbabu – Tur de Jateng 2013 (2)

New Selo, sebuah tulisan besar terbaca oleh mataku. Tulisan bercat putih kusam itu terpajang di atas deretan kedai yang menjual aneka makanan dan minuman ringan.

Oke guys, check point kedua kita. Gardu Pandang New Selo, ujar Hikma sesaat setelah memarkir mobilnya dengan sempurna. Tanpa di komando lagi, aku dan para penumpang mobil lainnya langsung melesat keluar.

Hawa sejuk langsung menyeruak begitu kepalaku menyembul dari dalam mobil. Hmm. Aku hirup dalam-dalam oksigen yang tersedia itu dan kupersilahkan mereka memenuhi rongga paru-paruku. Rasanya sangat segar dan menenangkan. *Fiuh*

Masih terngiang ketegangan yang kami alami beberapa menit yang lalu. Lepas dari kota Solo, memasuki kabupaten Boyolali, jalanan yang tadinya lurus lurus saja, berubah menjadi kelokan-kelokan tajam dengan tebing di satu sisi dan jurang menganga di sisi yang lain. Maklumlah kabupaten Boyolali yang juga dikenal dengan sebutan kota susu ini terletak di dataran tinggi.

Salah satu kelokan yang paling berbahaya adalah sebuah kelokan U yang menanjak seperti ulir sekrup. Oleh penduduk setempat, kelokan ini diberi nama Irung Petruk. Total lebih dari sepuluh kelokan tajam yang harus dilewati sebelum akhirnya mencapai gardu pandang New Selo ini.

Kini dihadapan kami tersaji megah pemandangan gunung Merbabu yang gagah menjulang di utara. Tapi sayangnya, siang itu kabut turun dengan sangat pekat, sehingga kami tidak bisa melihat keindahan gunung yang memiliki tujuh puncak itu dengan sempurna.

Sebaliknya di sisi selatan New Selo ini, gunung Merapi berdiri dengan angkuhnya. Tapi dari gardu pandang New Selo ini, kami tidak bisa melihat langsung Merapi, karena terhalang bangunan gardu pandang ini serta sebuah bukit. Butuh perjuangan berjalan kaki selama sekitar 30 menitan untuk bisa sampai di sebuah dataran yang bisa untuk melihat salah satu gunung teraktif di dunia ini. Seorang penduduk lokal menawarkan dirinya untuk menjadi guide perjalanan kami menuju dataran itu. Tapi dengan kondisi yang penuh kabut, serta masih panjangnya sisa perjalanan yang harus kami tempuh, maka dengan terpaksa kami tidak menerima tawaran itu.

Gardu pandang New Selo ini juga menjadi salah satu pintu bagi para pendaki yang ingin menaklukan puncak Merapi. Ini ditandai dengan adanya pos pendaftaran pendaki diantara kedai-kedai yang berjajar.

Dua puluh menit beristirahat, perjalanan pun berlanjut dengan check point selanjutnya adalah Ketep Pass, sebuah dataran tinggi, dimana kita bisa melihat Merapi bersanding dengan Merbabu. Lagi dan lagi, jalan berkelok-kelok menjadi menu wajib. Hanya saja kali ini kelokannya sudah tidak sedahsyat sebelumnya.

Di sepanjang jalan antara Selo dan Ketep Pass ini banyak ditemui jembatan gantung yang dibangun khusus untuk pejalan kaki. Total ada sekitar 5 jembatan dengan panjang berkisar antara 40 meter hingga 70 meter. Bangunannya full terbuat dari logam dan diperuntukkan untuk membantu mobilitas warga Selo. Bisa dibayangkan, kondisi geografis Selo yang didominasi lembah dan bukit, jurang dan tebing tentu akan membuat warga Selo sedikit kesulitan dan kelelahan jika harus menempuhnya. Untuk ke desa tetangga saja harus berjalan memutar beberapa kilometer. Tapi dengan adanya jembatan ini, akan memotong jarak tempuhnya. Sungguh, meski bukan warga Selo, aku turut bersyukur dan berterima kasih atas adanya jembatan tersebut. Karena kendala waktu, kami tidak sempat mampir sama sekali ke salah satu dari jembatan-jembatan tersebut.

Tiga puluh menit berlalu, sampailah kami di Ketep Pass. Sayang, kabut tebal ternyata belum turun dari puncak Merapi maupun Merbabu, sehingga kami tidak bisa melihat dengan utuh dua gunung itu. Padahal kalau misalnya cuaca lagi cerah tanpa kabut, pemandangan pasti akan lebih spektakuler. Di Ketep Pass ini juga terdapat sebuah helipad.

Setelah istirahat plus makan siang selama satu jam di Ketep Pass, kami melanjutkan perjalanan menuju kebarat, Magelang, Temanggung, Wonosobo hingga sampai ke Purwokerto.

New Selo dan Ketep Pass dapat ditempuh melalui jalan raya Solo Magelang via kabupaten Boyolali. Diperlukan kondisi fisik yang prima dari pengemudi maupun mobilnya untuk menempuh perjalanan menuju kesana.

2 thoughts on “Berkelok-kelok diantara Merapi dan Merbabu – Tur de Jateng 2013 (2)

  • 08/10/2013 at 08:33
    Permalink

    Wuih cantik banget pemandangannya, aku pengen sih nyetir tour de java gitu tp musti ganti mobil dulu, mobilku kecil bgt segede satu ban truk trailer. Paling jauh cuman sekitar jawa barat aja.

    “Hah, segede satu ban truk. Emang mobilnya sekecil apa Mil?? (Masih Amazing Dengan mobil sebesar ban truk)”

    Reply
  • 21/10/2013 at 08:47
    Permalink

    Duh, jadi ingat waktu tinggal di Kabanjahe dulu, Surya!
    Perjalanan Medan – Kabanjahe yang sekitar 2 jam itu juga penuh dengan kelokan, ada yang bentuknya persis Irung Petruk itu tadi…mana nanjak lagi jalannya…serem abis lah pokoknya…
    Ikutan seneng dengan perjalanannya ya, ikutan bangga juga saya jadi warganegara Indonesia 🙂

    “Terima kasih mbak Ir.. Kalau bukan kita yang bangga dengan Indonesia, lalu siapa lagi :)”

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*