Historical Tour at Trowulan

Pernah mendengar kota Trowulan? Bagi pembaca sekalian yang tinggal di Jawa Timur, nama sebuah kecamatan yang terletak di ujung barat Kabupaten Mojokerto pasti sudah tidak asing lagi. Tapi belum tentu bagi teman-teman di luar propinsi Jawa Timur. Sebuah hal yang ironi karena konon dahulu kala, sekitar 6 abad yang lalu, kota ini diyakini adalah pusat sebuah kerajaan terbesar di nusantara, bahkan di Asia. Kerajaan itu bernama Majapahit. Sebagai informasi tambahan, Trowulan sedang diusahakan oleh negara kita untuk masuk kedalam UNESCO World Heritage Centre ( http://whc.unesco.org/en/tentativelists/state=id), bergabung dengan Borobudur, Prambanan dan Sangiran yang sudah dulu masuk.

At Trowulan

Kunjungan ke kota Ayutthaya, Thailand, beberapa minggu yang lalu meninggalkan beberapa kesan bagiku. Reruntuhan kerajaan yang pernah menguasai Thailand sebelum dibumi hanguskan oleh Burma itu sungguh menarik dan sangat mempesonaku. Sejak saat itu, aku mendadak menjadi tergila-gila pada sejarah.

Hanya berselang seminggu setelah kunjungan ke Ayutthaya, aku memutuskan untuk berkunjung ke Trowulan. Ini seperti membuktikan kegilaanku pada sejarah. Trip kali ini, Aku berhasil mengajak Aris, Hikma dan Fendhito. Ini adalah wisata sejarah sekaligus ajang hunting foto. Karena jarak Trowulan yang tidak terlalu jauh dari Surabaya (1 jam 15 menit perjalanan), kami memutuskan untuk menjadi biker.

Perjalanan dimulai tepat jam 7 pagi. Dengan kecepatan sedang, kami menyusuri jalanan utama penghubung kota Surabaya dan Solo. Suasana jalanan cukup lengang karena hari itu adalah hari Sabtu.

Tujuan pertama kali adalah museum sekaligus pusat informasi Trowulan. Gampang-gampang susah untuk menemukan tempat ini karena letaknya yang tidak di Jalan Utama. Tapi jangan khawatir, ada papan penunjuk jalan yang terpasang cukup besar dan cukup jelas untuk menunjukkan arah museum.

Saat kami berkunjung, museum sudah ramai dengan para murid SD yang sedang melakukan kegiatan study tour. Mereka sangat exciting mengamati berbagai macam hasil penggalian situs-situs bersejarah di Trowulan mulai dari arca, fosil, tembikar hingga berbagai aneka produk logam. Tapi wajah-wajah ceria itu mendadak bte ketika sesi berkumpul untuk mendengarkan informasi sejarah yang akan disampaikan oleh petugas museum dimulai, karena mereka harus mencatat semua informasi yang disampaikan itu untuk kemudian membuat laporan kegiatan. Jadi inget jaman SD dulu, he he he. Paling males kalau acara catat mencatat seperti ini.

Ada perasaan sedih saat mataku memandang pajangan foto candi-candi sisa-sisa reruntuhan Majapahit yang tertempel di dinding museum. Seingatku, dari jaman aku SD dulu, hingga sekarang ini, tidak ada penambahan penemuan candi-candi baru di sekitar Trowulan. Padahal jika membaca kisah kebesaran kerajaan Majapahit yang wilayah kekuasaannya sangat luas, bahkan hingga wilayah Tumasik, Malaya dan Indochina, harusnya masih sangat banyak candi-candi yang belum ditemukan. Jika dibandingkan dengan reruntuhan di kota Ayutthaya, Trowulan sangat jauh tertinggal. Padahal wilayah kekuasaan Ayutthaya hanya sekitar Indochina saja. Sungguh Ironis.

Dari museum itu, kami mendapatkan peta yang menunjukkan lokasi-lokasi situs bersejarah peninggalan kerajaan Majapahit, mulai dari Candi Tikus, Gapura Bajang Ratu, Candi Brahu, Gapura Wringin Lawang, Sitinggi dan lain-lain.

Tujuan pertama kami setelah dari museum adalah Candi Tikus. Candi yang terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto ini berupa bangunan yang mirip dengan sebuah pemandian. Konon candi ini dulunya adalah tempat pemandian permaisuri dan putri raja. Mengapa diberi nama candi tikus? Ini disebabkan saat penggalian candi, ditemukan banyak sekali tikus yang bersarang disitu.

Kondisi candi cukup terawat. Taman bunga yang tumbuh di sekitar candi membuat kawasan ini menjadi sangat cantik. Salut untuk pengelola peninggalan sejarah yang sangat berharga bagi bangsa ini.

Dari Candi Tikus kami melanjutkan perjalanan ke Candi Bajang Ratu, sebuah candi yang berbentuk pintu masuk atau Gapura. Candi ini hanya berjarak sekitar 200 m dari Candi Tikus. Candi ini memiliki tinggi sekitar 16 meter. Konon Bajang Ratu artinya adalah Raja Cacat. Para ahli sejarah mengartikan bahwa Raja Kecil ini mengacu pada Raja Jayanegara, raja kedua Majapahit , yang diangkat menjadi raja di usia yang masih sangat muda.

Dari candi bajang ratu, kami menuju Candi Brahu yang terletak di desa Bejijong. Sedikit sekali keterangan tentang candi yang mempunyai tinggi sekitar 20 meter ini.

Semua candi peninggalan kerajaan Majapahit ini berbahan dasar batu bata merah. Apakah itulah penyebab hilangnya reruntuhan Majapahit hingga tidak berbekas sama sekali? Mungkin saja. Bagaimanapun juga batu bata sangat mudah lapuk. Itu juga yang membuat semua candi di daerah Trowulan ini diberi papan pengumuman tidak boleh dinaiki.

Atau mungkin juga ada penyebab lainnya. Faktor alam seperti gunung meletus, banjir dan lain sebagainya.

Yach semoga di masa depan akan banyak lagi peninggalan kerajaan Majapahit yang ditemukan. Bangunan-bangunan penuh nilai sejarah ini bisa menjadi sebuah kenang-kenangan sekaligus bukti bahwa sejak jaman dahulu, Indonesia adalah negara yang besar dan disegani.

16 thoughts on “Historical Tour at Trowulan

  • 12/03/2011 at 17:52
    Permalink

    Saya pernah beberapa kali ke Trowulan, tapi buat mengikuti ziarah dalam rangkaian upacara militer πŸ˜‰
    Prihatin juga kalau membandingkan betapa sungguh-sungguhnya negara lain memelihara peninggalan sejarah mereka. Sementara kita, yang memiliki budaya lebih kaya, terkesan dipelihara sekedarnya…
    Semoga ada pihak-pihak terkait yang membaca posting ini dan peduli pada kelesatrian budaya kita, dengan memelihara serta merawatnya baik-baik.

    Surya, jauh banget perjalanannya!
    πŸ˜€

    “Ga jauh-jauh banget kok mbak.. Tapi ya cukup melelahkan karena naik motor..”

    Reply
  • 14/03/2011 at 08:16
    Permalink

    infonya komplit tapi
    fotonya kurang mas
    hehe

    “Sudah ditambah foto-fotonya mas.. :)”

    Reply
  • 14/03/2011 at 21:22
    Permalink

    belum pernah ke sana πŸ˜€

    Reply
  • 18/03/2011 at 21:16
    Permalink

    ehm…belum pernah kesana tuh Sur…
    *ya iya laaaah…perasaan emang belum pernah kemana mana aku mah…hihihi*

    Perasaan malahan aku baru denger soal tempatnya ituh ….

    Dirimu melanglang buana sendirian ajah…

    emangnya istrimu gak apa apa tuuuuuuh…
    Tunggu kalo udah ada sang bocah yang nongol yeeeeee…
    *komen yang mengancam…hihihi*

    Reply
  • 24/03/2011 at 11:05
    Permalink

    dari dulu pgn brkunjung ke trowulan, tapi gak ada teman yg mau ngantar kesana… :((

    Reply
  • 29/03/2011 at 14:12
    Permalink

    Suryaaaaaaa…

    Udah jangan futsal terus atuuuuuh…
    kalo gendut mah pasrah aja laaaaah…hihihi…

    Reply
  • 01/04/2011 at 20:17
    Permalink

    Yuhuuuuuu…

    Menghilangnya kelamaan niiiiih…
    Kayak emak emak yang sedang menyapih ajah…hihihi…

    Reply
  • 17/04/2011 at 23:14
    Permalink

    mas suryaaaa, kemaren saya liat changcuters, celana nya nggak ketat. hihihihi

    Reply
  • 20/04/2011 at 13:20
    Permalink

    Malaaaa…
    emang Surya sekarang jadi anggota changcuter yak?…hihihi..

    Suryaaaaa….
    udah kelamaan inih…
    eyke menang kontes lagi …
    dan sedang menunggu komen pujian darimuh…hihihi…
    *emak emak norak yang haus akan pujian*

    Reply
  • 04/05/2011 at 06:21
    Permalink

    foto2nya bagus2. numpang lihat2 mas

    “Silahkan mas”

    Reply
  • 29/03/2012 at 01:36
    Permalink

    nice posting bro. kayanya ga perlu kesana lagi. cukup baca disini aja xixixix πŸ˜€

    “Lha… itu salah mas. Harapannya, setelah membaca disini, jadi bener-bener pengen menjelajah kesana.. :)”

    Reply
  • 02/05/2012 at 10:06
    Permalink

    Museum atau loket-loket lain buka hari apa saja dan jam berapa? Ingin mengajak anak-anak saya kesana tapi takut waktunya tidak tepat jauh-jauh ehh nanti pas tutup. Terima kasih

    “Sepertinya buka setiap hari pak. Ini saya kesananya kalau ga salah hari Sabtu Pak…”

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*