Saya jatuh cinta pada foto-foto ini, rangkaian foto sebuah pagi di bandara internasional Juanda, Surabaya. Foto ini saya ambil di bulan Mei 2015, sesaat sebelum saya terbang ke Bali. Bagi saya, foto-foto tersebut istimewa. Sudah beberapa kali saya menjejakkan kaki di pintu gerbang propinsi Jawa Timur ini, tetapi belum pernah saya mendapatkan momen pagi seperti dalam foto-foto tersebut. Pun setelahnya, saya belum pernah lagi mendapatkan momen seperti itu lagi
Semalam di Melaka
Mendengar nama Melaka (atau Malaka), aku yakin sebagian besar dari kita langsung terbayang akan sebuah selat yang memisahkan pulau sumatera, Indonesia dengan semenanjung malaya. Sebuah selat yang merupakan salah satu selat tersibuk di dunia. Tidak salah memang, tapi tahukah anda nama Malaka tidak hanya milik sebuah selat, tetapi juga milik sebuah kota. Dan kota ini tidak kalah tenarnya dari sang selat.
Bulan Januari 2013 lalu, aku dan istri telah menjejakkan kaki di Malaka. So amazing. Lagi-lagi, tiket promo Air Asia membawa kami terbang bertualang, menjelajah dunia, meski masih sekitaran asia tenggara saja, he he he. But, Alhamdulillah. Itu sudah merupakan pengalamana yang sangat berarti bagi kami.
Malaka, sebuah kota yang namanya sudah termahsyur sejak ratusan tahun yang lalu. Sejarah mencatat, Malaka mulai berdiri sejak awal abad 15. Didirikan oleh Prameswara, yang juga terkenal dengan nama Raja Iskandar Syah. Pertengahan abad 15, dibawah pimpinan Sultan Mudzaffar Syah, Malaka mengalami masa kejayaan. Saat itu Malaka menjadi kota pelabuhan, pusat perdagangan sekaligus penguasa di kawasan selat Malaka.




