Tour de Jateng 2013

Jawa Tengah, sebuah propinsi yang terletak di jantung pulau Jawa dengan Semarang sebagai ibu kota propinsi. Di sepanjang hidupku, aku sangat jarang menjejakkan kaki di Jawa Tengah. Kalau dihitung jari, hanya dua kota di Jateng yang pernah kusinggahi, yaitu Semarang dan Magelang. Magelang itupun terbatas hanya di daerah Borobudur saja. Kalau Jogja? Aku memang beberapa kali singgah ke kota gudeg ini, tapi Jogja bukannya propinsi tersendiri yang terpisah dari Jawa Tengah.

Kolase perjalanan Tour de Jawa Tengah
Kolase perjalanan Tour de Jawa Tengah

Sebagai warga Jawa Timur, hal ini sebenarnya cukup ironis, karena Jateng letaknya sangat dekat dengan Jatim. Tapi mau bagaimana lagi, aku memang tidak mempunyai kerabat ataupun sahabat yang tinggal di propinsi yang sangat kental dengan adat Jawanya ini.

Jadi, ketika ada undangan resepsi pernikahan dari seorang rekan kerja di kantor yang kebetulan berlokasi di salah satu kota di Jawa Tengah (yakni Purwokerto) serta ajakan dari Hikma untuk melakukan touring Surabaya Purwokerto guna memenuhi undangan tersebut dengan mobilnya, aku menerima ajakan itu tanpa berpikir panjang. Ini adalah kesempatan langka untuk menjelajahi keindahan bumi Jawa Tengah.

Read more

Mendayung Sampan di Lok Baintan

Alunan riak-riak air mengalun di telingaku. Suaranya lirih dan merdu. Mereka berdendang berirama dengan hembusan sang bayu yang menerpa wajahku. Di ufuk timur sana, langit tampak jingga merona. Matahari masih belum mencapai bulat sempurna.

Di pagi yang hening itu, sebuah sampan kecil bergerak pelan membelah sungai. Ada dua penumpang diatasnya, aku dan pak Roni, sang nakhoda. Usianya sudah hampir 50 tahun, tapi lengannya masih kokoh dan kuat untuk mendayung, mengemudikan sampan. Ribuan butir air terbang ke udara setiap kayuhan dayungnya mencabik badan sungai. Mereka tampak berkilau keemasan terpapar sinar sang surya.

Semakin jauh sungai disusur, semakin pudar hitamnya kegelapan, keheningan semakin lenyap. Berganti keriuhan yang perlahan demi perlahan muncul. Dan setelah tiga puluh menit berlalu, sampailah kami di pusat keramaian.

Lok Baintan, kusapa lagi pesonamu. Ku nikmati kembali kesederhanaanmu. Kureguk puas eksotismu. Keriuhan pasar, tawar menawar, saling sapa, gelak tawa berpadu gemericik air yang terpapar dayung.

Read more

Menulis Catatan Perjalanan

Kisah perjalanan adalah sebuah cerita yang tidak akan pernah lekang dimakan jaman. Sebuah kalimat yang kudengar saat mengikuti sebuah workshop menulis yang diselenggarakan oleh almamaterku tercinta, Teknik Informatika ITS, beberapa minggu yang lalu. Sebuah kalimat yang meluncur dari Agustinus Wibowo, seorang penulis sekaligus penjelajah yang karyanya sangat menginspirasi.

f9db5b01aabf70c4760d485c8fbe5c41_workshop-agustinus-blog

Dan dari berbagai kisah perjalanan itulah, wajah dunia terungkap. Manusia bergerak. Peradaban pun berubah.

Cerita perjalanan sudah ada sejak jaman dulu. Salah satu buktinya yang terkenal adalah tulisan milik Antipater, seorang pelancong dari Sidon, Yunani yang menulis Tujuh Keajaiban Dunia pada sekitar tahun 140 Sebelum Masehi.

Read more

Seorang Porter Bernama Hartono

Mas, tunggu!!, panggilku memecah kesunyian sore dengan nafas yang tersengal. Posisiku sudah setengah merangkak. Tanganku berpegang erat pada sebuah batang pohon. Peluh membasahi wajah, tubuh hingga kakiku.

bdb47aaaec764c93604a7e8fb9955ead_hartono

Seseorang yang berjarak sekitar 5 meter di depanku menghentikan langkahnya, seraya kemudian memalingkan wajahnya. Tubuhnya kurus. Rambutnya hitam pendek. Kumisnya tipis menghiasi mukanya. Sebuah kacamata membingkai sepasang matanya.

Dengan ringan dia melangkah ke arahku. Wajahnya tampak tenang dengan nafas yang stabil, seolah tak merasakan kelelahan. Padahal di bahunya terpanggul ransel seberat 20 kg. Aku sendiri hanya membawa beban ransel sekitar 12 kg.

Istirahat dulu ya mas, ajakku padanya.

Read more

Keajaiban pagi Ranu Kumbolo

Mataku mendadak terbuka. Kurasakan semilir belaian lembut menyentuh wajahku. Membawa serasa hawa yang sudah lama tidak pernah kujumpa. Aku ingin bergerak. Tapi tak bisa. Aku terbujur beku. Tak ada lagi ruang kosong.

Kugerakkan kepalaku perlahan-lahan. Aku pandang tubuhku sendiri. Semuanya terbungkus rapat. Jaket, kantung tidur, kaus tangan, topi kupluk hingga kaus kaki. Tapi tampaknya itu semua belum cukup. Tubuhku masih menggigil. Jari tangan terasa kaku.

Samar-samar lalu kuamati sekelilingku. Sebuah ruang sempit berbentuk seperti piramida dari kain memenuhi garis pandang. Ruangan itu tidak gelap, bahkan cukup terang. Sepercik sinar yang menyala dari lampu senter menjadi lenteranya. Kuperjap-perjap mata untuk sedikit menghilangkan samar itu.

Ah, ternyata sebuah tenda, batinku.

Read more