Berjumpa Ranu Kumbolo, Sang Danau Impian

Orang bilang tanah kita tanah surga

Sepenggal bait dari lagu berjudul Kolam Susu milik grup legendaris Koes Plus membuka postingan kali ini. Seuntai kalimat yang sangat pas menggambarkan keindahan negeri kita, Indonesia. Surga dunia, heaven of earth, begitulah kata para wisatawan mancanegara, berceceran di wilayah zamrud khatulistiwa ini, mulai dari sabang sampai merauke. Dan salah satu surga itu bernama Ranu Kumbolo.

Ranu Kumbolo adalah sebuah danau yang terletak di kaki gunung semeru. Berada pada ketinggian 2400 mdpl (meter diatas permukaan laut), Ranu Kumbolo menyajikan panorama yang mempesona siapa saja yang melihatnya.

Beberapa tahun silam, Ranu Kumbolo adalah salah satu surga tersembunyi di dunia. Hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Dan kalaupun tahu, hanya segilintar saja yang bersedia untuk menjumpainya. Perjalanan yang panjang dengan medan yang cukup berat menjadi alasannya.

Mereka yang bersedia biasanya adalah manusia pilihan. Mereka adalah manusia yang rela melepaskan diri sejenak dari kenyamanan kota. Mereka mau untuk keluar dari hangatnya rumah, meninggalkan empuknya kasur, menanggalkan kendaraan serta membiarkan bahu dan punggungnya ditunggangi ransel yang sarat. Yap, dahulu menikmati ranu kumbolo adalah monopoli para pecinta alam.

Tapi, sejak meledaknya sebuah film bertema persahabatan yang mengambil lokasi shooting di area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) beberapa bulan yang lalu, Ranu Kumbolo (dan juga puncak mahameru) mendadak populer. Ratusan bahkan ribuan penggemar film tersebut berbondong-bondong pergi ke Ranu Kumbolo. Dan tidak sedikit pula yang melanjutkan perjalanan hingga ke Kalimati, atau bahkan puncak Mahameru. Tampaknya film tersebut telah berhasil menginspirasi dan meracuni jutaan penontonnya.

Sejak lama aku ingin menyapa Ranu Kumbolo. Aku masih ingat, kala itu masa-masa kuliah, sekitar lebih dari satu dekade yang lalu. Ketika itu aku lagi bersilaturahmi dengan sahabatku semasa SMA. Salah seorang dari mereka menunjukkan sebuah album foto yang diberi judul, Perjalanan Menuju Puncak Tertinggi Pulau Jawa. Sambil membolak-balik halaman demi halaman, aku membiarkan telingaku menangkap narasi yang dituturkan dengan runut oleh sahabatku itu. Ranu Pani, Ranu Kumbolo, Oro-oro Ombo, Cemoro kandang, Kalimati, Arcopodo, Cemoro Tunggal dan Mahameru. Itulah nama-nama baru yang kukenal dari sahabatku saat itu. Dan saat itu, aku hanya bermimpi untuk bisa kesana.

Sejak SMA, tepatnya sejak mengenal sebuah organisasi Pecinta Alam, aku tidak habis pikir dengan salah satu jenis kegiatan yang mereka lakukan, naik gunung. Apa sih enaknya naik gunung. Perjalanan panjang dengan medan menanjak pastilah akan sangat melelahkan. Adanya ransel yang sarat di punggung membuat perjalanan akan semakin berat. Tidur pun tak akan nyaman, karena hanya beratapkan tenda dan beralaskan matras tipis. Ditambah lagi dengan hawa gunung yang dingin, pasti akan membuat badan menggigil.

Manja? Ya mungkin. Tapi bagiku tidak. Saat itu aku hanya tidak mempunyai motivasi untuk mendaki gunung. Untuk apa? Mencari apakah? Atau menikmati apakah? Aku tidak menemukan jawabannya.

Mencari jati diri? Ku rasa tidak. Jati diriku tidak di gunung, jadi kenapa harus mencari kesana?

Mencari ketenangan jiwa? Hmm, kalau sekedar mencari ketenangan, menurutku gak perlu jauh-jauh ke gunung.

Wisata? Rekreasi? Lagi-lagi gak perlu jauh-jauh ke gunung. Bisa ke pantai, atau ke desa, ataupun ke taman hiburan.

Berpetualang? Hmm, saat itu sepertinya aku tidak punya jiwa petualang, atau tepatnya belum.

So, itulah yang membuatku hanya bisa bermimpi untuk menuju ke Ranu Kumbolo, tanpa pernah berusaha untuk mewujudkan mimpi itu.

Waktu berlalu, aku pun mulai lupa akan impian itu, sampai pada suatu ketika, sekitar 3 tahun yang lalu, mataku tertumbuk di sebuah foto pemandangan yang terdapat di sebuah web site yang khusus untuk memajang foto. Aku tidak sengaja menemukan foto itu, diantara foto-foto Telaga Sarangan. Ketika itu aku memang akan melancong sekaligus hunting foto ke Telaga Sarangan, dan salah satu ritualku sebelum berangkat traveling adalah melakukan riset untuk mencari sudut-sudut menarik dari lokasi yang akan kukunjungi.

Di foto itu terlukis sebuah gambar matahari terbit tepat di tengah-tengah dua gunung seperti yang biasa ku gambar kala masih duduk di Taman Kanak-Kanak dulu. Hanya saja jika di lukisan klasikku masa TK dulu di bawah gunung adalah jalan raya dan sawah, sedangkan di foto ini adalah danau yang berkabut. Sebuah kalimat, Happy sunrise Ranu Kumbolo menjadi judul foto tersebut sekaligus mengorek kembali ingatanku akan danau impian. Sejak saat itu akupun berniat, suatu hari nanti aku pasti akan mengunjungimu. Yap, akhirnya aku menemukan motivasi itu. Motivasi yang membuatku mau untuk bersusah payah menempuh perjalanan demi bertemu denganmu. Motivasi itu adalah Memotret.

Motivasi sudah kuraih, tetapi ternyata jalan menuju kesana tidak mudah. Medan yang berat dan tidak biasa membuat perjalanan kesana tidak hanya membutuhkan seorang, dua orang atau bahkan puluhan kawan, tetapi lebih dari itu, mereka harus merangkap sebagai guide ataupun penyemangat. Dan yang pasti, mereka harus berpengalaman. Dan aku tidak mempunyainya. Kawan baik semasa SMA ataupun kuliah yang sudah berkali-kali naik turun gunung, sudah lama hilang kontak.

Sampai pada akhirnya, sekitar tiga bulan yang lalu, seorang kawan seangkatan ketika masa orientasi awal masuk kerja serta seorang sahabat yang kukenal kala mengikuti lomba inovasi di Medan dua tahun lalu, menawariku untuk mendaki bersama sekaligus berburu foto. Aku pun tidak berpikir panjang lagi untuk mengiyakan tawaran mereka. Ketika mimpi itu sudah didepan mata, tidak ada alasan untuk tidak meraihnya bukan?

Dan pada akhirnya, setelah melalui masa penantian yang cukup panjang serta perjalanan yang melelahkan, akhirnya aku bisa berjumpa dengan Ranu Kumbolo, sang danau impianku. Sebuah rasa yang luar biasa, Sebuah rasa yang amat sangat membuncah, sebuah rasa yang tidak bisa terlukiskan dengan beribu kata. Ada damai merasuk dalam relung jiwa kala mata ini memandangnya. Haru, bangga. Bahkan beberapa kali tanpa sadar air mata sudah membasahi kornea. Subhanallah, inilah hasil karya-Mu ya Allah. Sangat mempesona. Sungguh, bahkan meski sudah berpuluh-puluh bahkan ratusan frame kubekukan, berbagai sudut kuambil dan berbagai macam mode memotret kulakukan, tapi tetap saja, tidak ada yang seindah kala sepasang mata ini memandangnya langsung.

Semoga kau selalu lestari Ranu Kumbolo. Cepat atau lambat, aku pasti akan kembali lagi. Menatap hijaumu, mereguk keindahanmu dan menghirup dalam-dalam udara segar di sekelilingmu.

10 thoughts on “Berjumpa Ranu Kumbolo, Sang Danau Impian

  • 11/06/2013 at 14:05
    Permalink

    wuih perjalanan menuju ranu kumbolo nya aja udah bertaun-taun sejak mulai niat udah jalan argo nya hahahaa

    “Wekekekekekeke… iya e… “

    Reply
  • 11/06/2013 at 16:32
    Permalink

    bener banget, Ranu Kumbolo is dreamable ever. Udah dua kali ke sana tetap saja terpesona pada kecantikan si danau di atas gunung ini. Cuma klo sekarang disuruh ke sana lagi sudah tak mampu, keberaten perut dan pantat hehehe….

    “Nah justru kalau kesana mau ngecilin perut dan pantat itu mbak, he he he”

    Reply
  • 11/06/2013 at 20:10
    Permalink

    subhanallah … jadi pengen ke sana
    tapiii … kira2 klo jalan santai, berapa minggu ya baru sampai di tujuan? jiper duluan klo medannya berat. tapi bener2 mupeng liat danaunya.

    “Santai aja mbak, pasti bisa lah… Medannya ya lumayan lah :)”

    Reply
  • 12/06/2013 at 10:28
    Permalink

    ini merupakan destinasi impian saya. 😀 Semoga bisa terwujud untuk menikmati danau impian Ranu Kumbolo secara langsung

    “Semoga mas :)”

    Reply
  • 14/06/2013 at 18:18
    Permalink

    Surya, saya kok merinding ya baca postingan ini…
    Kebayang gimana rasanya, keinginan untuk melihat Ranu Kumbolo itu akhirnya terwujud 3 bulan lalu. Gunung selalu indah ya, Sur…ketenangannya itu yang selalu membuat saya jatuh cinta.

    Trima kasih sudah berbagi foto keren ini, smoga akan banyak tempat-tempat indah lain yang akan Surya kunjungi 🙂

    “Amiinn :)”

    Reply
  • 14/06/2013 at 18:19
    Permalink

    Waaaah, hampir semua teman Impala (ikatan Mahasiswa Pencinta Alam) saya waktu kuliah dulu pernah naik ke Semeru, Sur…saya mah nggak berani, cukup mendengan ceritanya aja. Atau paling mentok, ikut sampe di kakinya aja…hehehe
    😀

    “Saya juga belum sampai puncak kok mbak. Ranu Kumbolo juga cuma di kaki Semeru, he he he”

    Reply
  • 14/06/2013 at 18:21
    Permalink

    Oyaaaa, ternyata motivasi itu betul-betul bisa jadi penyemangat buat mewujudkan impian…mimpi Surya yang sekian lama tertunda, akhirnya bisa terwujud juga.
    Hebat!

    “Iya mbak, tanpa motivasi itu, mustahil sepertinya kita bisa meraih mimpi itu :)”

    Reply
  • 13/07/2013 at 18:43
    Permalink

    “Semoga kau selalu lestari Ranu Kumbolo” <– … Dan semoga aku diberi kekuatan & kesempatan untuk menyaksikan langsung keindahanmu… Aamiin
    Trims foto2 danau nan indah ini, Surya 🙂

    “Sama-sama mbak. Semoga ranu kumbolo tetap lestari ya :)”

    Reply
  • 17/08/2013 at 23:28
    Permalink

    Aku dari payakumbuh, sumbar brangkat 14 april 2014 ke mahameru. Mudahan dikabulkan menuju kesana.

    “Insya Allah mas”

    Reply
  • 02/01/2014 at 00:58
    Permalink

    Waktu nonton di bioskop dulu keren bangett nget nget ,apa lagi aslinyaaa ..WOW ,betapa besar karunia anugrah illahi ..jadi pengen kesanaaa …

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*