Singgah di Pare-pare

Sore itu aku berada di sebuah mobil yang menderu cukup kencang. Jalanan yang cukup bagus dan sepi menjadi alasan kenapa pak supir berani memacu kendaraannya di kisaran 80 hingga 100 km / jam. Sudah lebih dari 3 jam lamanya aku berada di dalam mobil, sejak pesawat Garuda Indonesia yang membawaku terbang dari Surabaya menuju Makassar mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Ini adalah perjalananku yang kedua di Sulawesi Selatan.

Selang beberapa menit kemudian, Pak Supir berseru, “kita hampir sampai di Pare-pare. Itu tandanya.” Tangannya menunjuk sebuah gapura bertuliskan, “Selamat datang di kota kelahiran Presiden RI ke-3, Prof. BJ.Habibie”. Ditengah lelah dan kantuk yang masih menyerang, aku berusaha melihat gapura yang ditunjuk oleh sang supir. Saat aku berusaha mengambil kamera untuk mengabadikan gapura itu, aku terlambat. Kecepatan mobil lebih cepat sepersekian detik daripada kecepatan tanganku mengambil kamera. Saat aku sudah siap memotret, gapura itu sudah terlewat. Welcome to Pare-pare.

Read more

Magical Morning at Borobudur

Pagi hari, saat matahari mulai menampakkan dirinya ke bumi, adalah salah satu saat-saat terindah di planet ini. Warna kuning keemasannya yang berbalut jingga di ufuk timur mulai memberikan setitik cahaya dan harapan baru bagi bumi. Guratan dan sayatan kemerah-merahan merambah garis cakrawala. Malam pun telah berlalu, dan kini pagi pun menjelang.

Saya berpose di Candi Borobudur
Saya berpose di Candi Borobudur

Melihat sunrise memberikan sensasi tersendiri bagi pemilik sepasang mata yang menatapnya. Sensasinya akan lebih terasa lagi ketika menikmati terbitnya matahari dari sebuah tempat yang sangat tinggi. Di puncak gunung misalnya.

Salah satu lokasi terbaik di nusantara untuk menikmati suasana sunrise ini adalah di Candi Borobudur. Terletak di ketinggian sekitar 269 m di atas permukaan laut, Borobudur memberikan sebuah pemandangan yang spektakuler kala sunrise, yakni melihat sang surya yang bangkit dari peraduannya dari balik megahnya sang Merapi.

Read more

Suatu masa di Yogyakarta

Sebuah hari di awal bulan April yang dingin di kota Surabaya. Aku lupa tepatnya hari apa itu. Sebuah surat undangan tergeletak di meja kerjaku. Dari sekilas membaca tampak bahwa itu adalah surat undangan untuk mendampingi pelatihan. Kubaca dengan seksama surat itu dan beberapa menit kemudian bola mataku terpaku pada sebuah informasi yang menunjukkan lokasi tempat pelatihannya. Jogja, ya jogja. Di kota itulah acara pelatihan itu diselenggarakan, sebuah kota yang bagiku sangat romatis dan penuh dengan nostalgia.

Senja di Jalan Malioboro, Yogyakarta
Senja di Jalan Malioboro, Yogyakarta

Aku memang tidak mempunyai ikatan apapun dengan kota Jogja. Lahir bukan di Jogja, tumbuh besar hingga kuliah juga tidak di Jogja. Saudara di Jogja pun tidak punya. Pengalamanku ke jogja bisa dihitung dengan jari. Pertama kali kala study tour jaman masih SMP. Kedua, waktu SMA. Dan terakhir, tepat 10 tahun yang lalu. Tapi entahlah, setiap menyebut nama Jogja dan membayangkan kotanya, aku seolah menembus sebuah lorong waktu untuk kembali ke sebuah masa. Sebuah nostalgia yang aku sendiri tidak memahaminya. Nostalgia apa? Tentang apa? Dengan siapa? Entahlah. Yang pasti, aku sebenarnya tidak mempunyai kenangan apapun dengan Jogja.

Kini setelah 10 tahun berselang, aku berkesempatan untuk menjejak kaki kembali bumi Yogyakarta Hadinigrat. Dan aku sangat excited menyambut hari itu.

Read more

Batik Lasem

Suatu hari, di pertengahan bulan April 2012 yang lalu, aku mendapatkan sebuah pengalaman yang sangat berharga. Kala itu, aku tengah ditugaskan selama 3 hari di kota Rembang. Pada hari kedua, Andreas, sahabatku sekaligus rekan kerjaku di Rembang, mengajakku dan Mbak Yama ke kota Lasem. Disana aku diajaknya mengunjungi salah satu sentra pengrajin Batik tulis Lasem yang gallerynya diberi nama “Ningrat Batik Tulis Lasem”. Akhirnya, keturutan juga berkunjung sekaligus membeli batik Lasem setelah sebelum sebelumnya gagal terus. Padahal aku cukup sering dinas luar ke kota Rembang. Satu lagi yang bikin hati ini girang luar biasa, Andreas membawa kami langsung ke pusat pengrajinnya, jadi disini kami tidak hanya melihat koleksi kain batik, tapi bisa melihat langsung proses pembuatan kain batik itu, mulai dari pembuatan pola, pewarnaan hingga pengeringan. Ya maklumlah girang, karena ini adalah pengalaman pertama 🙂

Batik tulis lasem adalah salah satu batik yang namanya cukup termahsyur. Tidak hanya di Indonesia, tetapi sampai ke mancanegara. Lasem sejak dulu memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batik kualitas nomor satu di negeri ini. Namanya pun lebih harum dan lebih mendunia daripada nama Rembang. Padahal secara administratif, Lasem hanyalah sebuah kota kecamatan yang dibawah kabupaten Rembang.

Read more

Kenjeran, Surga Fotografi Surabaya

Bagi warga Surabaya pastinya tidak akan asing dengan nama Kenjeran. Yap, pantai yang terletak di pesisir timur laut Surabaya itu adalah salah satu destinasi wisata favorit warga Surabaya.

Kalau dilihat, sebenarnya pantai ria kenjeran ini tidaklah istimewa. Atau bisa dibilang sangat jauh dari kata indah. Jika ingin berenang di pantai, bermain riak ombak yang memecah pantai ataupun hanya sekedar menikmati pantai yang landai dengan pemandangan laut yang menghijau, Kenjeran bukanlah tempat yang tepat. Sepanjang mata memandang disini, yang tampak hanyalah sedimen lumpur kecokelatan. Lumpur ini memenuhi area pantai hingga sejauh sekitar 1 km dari bibir pantai. Jadi boro-boro mau berenang, lha wong air lautnya saja tidak bisa mencapai bibir pantai.

Tapi, bagi para fotografer, kenjeran adalah salah satu surga fotografi di Surabaya. Setiap hari, utamanya di hari libur, banyak sekali penggemar fotografi yang datang ke kenjeran. Mereka biasanya datang di pagi hari, menjelang matahari terbit. Memang, waktu terbaik untuk berburu foto di Kenjeran adalah pagi hari, karena memang lokasi pantai yang menghadap ke arah timur.

Read more