Belajar dari Kuala Lumpur City Gallery

Salah satu tempat favoritku kala berkunjung ke Kuala Lumpur bulan Januari 2013 yang lalu adalah Kuala Lumpur City Gallery. Terletak di area Dataran Merdeka, Kuala Lumpur City Gallery menawarkan sebuah pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga buatku, yaitu bagaimana Malaysia mengembangkan potensi ekonomi kreatif di tengah tumbuh pesatnya sektor pariwisatanya.

Menuju Kuala Lumpur City Gallery relatif tidak mudah, karena tidak ada jaringan LRT maupun monorail yang melewati kawasan Dataran Merdeka. Stasiun LRT terdekat adalah stasiun pasar seni. Dari sini kita berjalan kaki ke arah pusat souvenir Central Market dan Kesturi Walk. Di ujung jalan kesturi walk, ambil belok ke kiri untuk kemudian jalan lurus hingga sampai di area dataran merdeka. Kuala Lumpur City Gallery terletak di sebelah barat dataran merdeka, tepatnya di dekat Perpustakaan Nasional Kuala Lumpur. Untuk mengetahui letaknya cukup mudah, cari saja sebuah tugu bertuliskan I Love KL.

Sejak era low cost carrier di kawasan Asia Tenggara yang dimotori oleh kehadiran Air Asia serta Low Cost Carrier Terminal, membuat Kuala Lumpur International Airport (KLIA) menjadi salah satu bandara tersibuk di kawasan ini, menyaingi Changi milik Singapura yang sejak dulu menyandang predikat tersebut. Mempunyai bandara tersibuk sama artinya dengan sumber devisa bagi Kuala Lumpur. Jutaan turis dari seluruh dunia akan datang ke Kuala Lumpur, entah karena memang berniat berkunjung ke KL ataupun hanya sekedar transit. Kalaupun hanya sekedar transit, dan transitnya dalam waktu yang tidak terlalu lama, minimal para turis tersebut mengeluarkan pundi-pundi dollarnya untuk sekedar makan ataupun minum. Tapi jika transitnya hingga memakan waktu setengah hari atau bahkan satu hari, maka bisa dipastikan akan banyak lagi dollar yang keluar dari kantung si turis tersebut.

Dengan transportasi dalam kota yang memadai, cepat dan tepat waktu serta ditambah dengan hadirnya jaringan kereta cepat dari kota ke Bandara, maka waktu transit pastinya akan dimanfaatkan para turis tersebut untuk sekedar keliling kota Kuala Lumpur. Waktu 6 12 jam, sangat cukup untuk sekedar berkunjung ke satu atau dua landmark terkenal Kuala Lumpur seperti Menara Petronas, KL Tower ataupun Bangunan Sultan Abdul Samad di area Dataran Merdeka.

Potensi devisa yang sangat besar dari sisi pariwisata kota Kuala Lumpur ini digali lebih dalam lagi oleh pemerintahan Malaysia dengan mengembangkan sektor ekonomi kreatif, salah satunya melalui Kuala Lumpur City Gallery. Untuk memasuki areal Gallery, tidak dikenakan biaya alias Free Admission.

Masuk ke dalam Gallery, kita akan disambut dengan sebuah peta kota Kuala Lumpur lengkap dengan tempat-tempat menariknya. Tersedia pula berbagai brosur wisata yang tidak hanya terbatas pada wisata kota KL tetapi seluruh area negara Malaysia. Masuk lebih kedalam lagi, sebuah miniatur Masjid Jamek terpajang dengan cantiknya. Di belakangnya terdapat informasi kawasan wisata sejarah (heritage) dari Kuala Lumpur.

Setelah itu kita akan dibawa menuju sebuah ruangan gelap di lantai dua. Disini kita akan melihat sebuah suguhan yang sangat istimewa, sebuah miniatur kota Kuala Lumpur lengkap dengan gemerlap lampu warna-warni. Benar-benar iri dengki tingkat dewa. Ketika negara lain sudah berlari cepat dan berkembang pesat menuju era persaingan, negeri kita masih berkutat dengan politik, politik dan politik yang sangat melelahkan.

Setelah puas menikmati indahnya kota Kuala lumpur mini, kita kembali lagi ke lantai satu dan masuk kedalam sebuah souvenir shop yang sangat keren. Souvenir yang dijual disini sangat bagus dan kreatif. Harganya pun relatif terjangkau. Untuk sebuah magnet kecil tempelan kulkas berbentuk deretan gedung-gedung tinggi di KL, dihargai 8 ringgit atau sekitar 24000 rupiah saja. Yang menarik, di plastik pembungkus magnet tersebut, terdapat informasi nama gedung-gedung tinggi tersebut lengkap dengan tahun selesainya dibangun serta ketinggian bangunan. Keren!!

Lebih istimewa lagi, kita bisa menyaksikan bagaimana souvenir itu dibuat karena tempat membuatnya pun didekat souvenir shop tersebut. Hanya saja kita hanya bisa menyaksikan dari balik kaca. Lagi-lagi iri tingkat dewa. Aku yakin, kalau masalah kreatifitas, negeri kita tidak kalah, bahkan karya anak bangsa Indonesia sangat luar biasa bagus. Hanya saja untuk urusan manajemen dan pengelolaan, saat ini kita harus mengaku kalah.

Souvenir shop yang cantik ini, pasti akan membuat para turis rela mengeluarkan pundi-pundi dollarnya, baik untuk dibagikan ke rekan-rekan di negara asalnya maupun sebagai bukti bahwa dia pernah menjejak kaki di salah satu negeri di kawasan Asean. Semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah dalam mengembangkan industri ekonomi kreatif di tanah air, karena harus disadari bahwa di masa mendatang, dunia pariwisata dengan dibarengi kemajuan industri ekonomi kreatif akan menjadi salah satu tulang punggung ekonomi sebuah bangsa. Dan aku yakin, kita pasti bisa lebih baik dari Malaysia, bahkan jauh lebih baik.

3 thoughts on “Belajar dari Kuala Lumpur City Gallery

  • 04/05/2013 at 18:42
    Permalink

    Baguuus… Klo indonesia musti tiap propinsi punya galery sendiri yak

    “Setujuh Milll”

    Reply
  • 23/05/2013 at 21:46
    Permalink

    Keren, Sur!
    Dari cerita Surya disini, rasanya negara kita ketinggalan jauh sama mereka dalam urusan mengais pundi-pundi dari sektor pariwisata.
    Manajemen yang profesional serta keinginan pemerintah dan masyarakat yang sejalan, pasti akan menjadikan sektor pariwisata di negara kita tak kalah hebat. Sayang sekali, harapan dan realita, belum sepenuhnya seperti yang dicita-citakan…
    Indonesia, ayo maju!

    “Iya mbak. Sebenarnya saya pengen merintis bikin2 souvenir kayak magnet2an gitu, cuman bingung, dimana cari pengrajinnya”

    Reply
  • 27/01/2014 at 13:07
    Permalink

    lho. miniatur kota KL-nya kok malah fotonya gak ada? Di KL City GAllery yang keren miniatur kota KL-nya.

    “Ada, cuman fotonya kurang bagus. Gelap. jadi ga keupload he he”

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*