Kota Tua Jakarta, Sebuah Imaji yang Abadi

Menyusuri kota tua Jakarta di kawasan kota dan sekitarnya menjadi salah satu agendaku kala mendapatkan kesempatan bertandang lagi ke Jakarta. Sebagai pengagum foto gedung-gedung tua berarsitektur kuno eropa, kawasan kota tua adalah surga buatku. Banyak sekali objek menarik disana yang bisa kuabadikan dalam sebidang potret dua dimensi dengan bantuan kameraku tercinta, mulai dari Stasiun Kota, Museum Fatahillah, Museum Bank Indonesia, Kantor Pos Kota Tua, Caf Batavia, Museum Wayang, hingga Jembatan Kota Intan.

Namun, sayangnya ternyata waktu belum mengizinkanku. Jadwal training yang super padat dengan hanya libur sehari (itupun dimanfaatkan untuk belajar, karena besoknya ujian) membuatku tidak sempat untuk menunaikan penjelajahan itu. Hari libur itupun ku manfaatkan untuk mengunjungi adik dan keponakanku di depok. Nah sembari menunggu kereta commuter yang akan membawaku ke depok, aku sempatkan untuk mengunjungi museum Fatahillah. Tapi aku hanya bisa puas menikmati tamannya saja, tidak sampai masuk ke dalam gedungnya.

Meski hanya sebentar saja menikmati aroma kota tua Jakarta, tapi itu sudah cukup untuk membuat imajinasiku melayang ke masa-masa kolonialisme, masa-masa sebelum proklamasi 1945, dan lebih tepat lagi masa-masa sebelum kependudukan Jepang tahun 1942.

Dahulu, museum fatahillah inilah pusat kota dari Batavia. Sebelum menjadi museum sejarah jakarta sekarang ini, gedung tua yang dibangun sekitar tahun 1707 hingga tahun 1710 (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Museum_Fatahillah) ini adalah balai kota Batavia. Jadi bisa dibayangkan, bagaimana ramainya kawasan ini dulunya. Banyak orang hilir mudik ke gedung ini, mulai dari pegawai hindia belanda, para utusan-utusan daerah dari seluruh wilayah kekuasaan hindia belanda hingga para warga dan bangsawan kerajaan belanda yang tengah berkunjung ke Batavia. Belum lagi para kolega ataupun rekan bisnis dagang VOC yang mungkin saja mengurus surat-suratnya di gedung ini.

Selain sebagai pusat pemerintahan, museum fatahillah juga mempunyai penjara bawah tanah yang kemungkinan besar penghuninya adalah para pejuang pribumi. Entahlah sudah berapa ratus atau bahkan ribu para pahlawan kemerdekaan Indonesia yang meregang nyawa di tempat ini.

Waktu membuyarkan imajinasiku. Aku harus kembali ke stasiun kota. Sejenak ku bidikkan kameraku dan mengambil beberapa frame dari museum fatahillah. Sore itu taman fatahillah penuh dengan pedagang asongan serta pengunjung. Tidak banyak ruang gerak dan angle yang bisa ku eksplorasi karena begitu banyak orang berseliweran disana. But its okay. Kawasan ini memang sejatinya adalah kawasan yang ramai sejak dulunya, sebuah keramaian yang abadi dan alih-alih kecewa, aku malah merasa beruntung bisa mengabadikan keramaian itu.

Kembali ke stasiun kota, kembali aku terpesona oleh eloknya sebuah seni arsitektur kuno. Stasiun yang juga terkenal dengan nama Beos ini adalah karya dari seorang Belanda bernama Ghijsels (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Jakarta_Kota). Dengan atap berbentuk kubah setengah silinder dengan hiasan garis-garis tegas baik secara vertikal dan horisontal, membuat stasiun kota tampak begitu kaya cita rasa seni. Hanya sayangnya, meski masih berfungsi sebagai stasiun, bangunan stasiun sejatinya kurang terawat. Sudut-sudut stasiun juga tampak kotor. Dan di sekitar stasiun tumbuh pemukiman-pemukiman kumuh yang mengurangi estetika. Tapi kondisi sekarang ini masih jauh lebih mendingan daripada kondisi beberapa tahun yang lalu kala aku masih sering mondar-mandir ke stasiun yang bertipe terminus alias tidak memiliki kelanjutan jalur.

Ah kawasan kota tua Jakarta memang menggiurkan. Begitu banyak sejarah tercipta disana. Kisah suka, duka, tangis, tawa, pesta, ataupun eksekusi hukuman. Para saksi bisu itu sebagian kecil masih berdiri kokoh. Sedangkan sebagian besar lainnya tak terawat. Bahkan beberapa diantaranya sudah rata dengan tanah, tak berbekas dan berganti dengan bangunan baru yang modern.

Konon stasiun kota pun tidak lepas dari ancaman modernisasi itu. Padahal sejak tahun 1993 stasiun ini sudah ditetapkan menjadi cagar budaya Jakarta, yang artinya bangunan stasiun kota yang ada ini harus dilestarikan. Dari beberapa media, banyak pihak yang menginginkan merenovasi stasiun kota, mulai dari sekedar merenovasi bangunannya agar tampak lebih modern hingga rencana ambisius membangun mal di atas stasiun.

Mungkin bagi beberapa pihak, rencana ini wajar-wajar saja. Dengan fungsinya sebagai salah satu stasiun utama di Jakarta, mungkin memang sudah waktunya stasiun kota berbenah menjadi stasiun yang modern dan multi fungsi. Dengan adanya mall atapun pasar yang terintegrasi dengan stasiun, maka nilai ekonomi stasiun bisa lebih tinggi lagi. Bukan hanya sekedar sebagai tempat awal dan akhir perjalanan kereta api.

Tapi bagi pecinta sejarah sekaligus arsitektur kuno, rencana ini sungguh sangat mengerikan. Bagaimanapun juga, nilai historis sebuah bangunan tidak bisa tergantikan dengan apapun. Jadi iri dengan kota George Town di pulau Penang, Malaysia, Intramuros di Manila, Philipina ataupun kota-kota di Eropa yang masih menjaga bangunan tuanya dengan sangat baik. Pemerintahan mereka bisa menyandingkan bangunan-bangunan tua itu dengan bangunan-bangunan modern sedmikian rupa sehingga tampak serasi. Bahkan kawasan kota tua mereka menjadi salah satu aset pariwisata.

Entahlah, pihak mana yang akan menang. Yang pasti stasiun kota dan kawasan kota tua jakarta ini masih berdiri hingga saat ini. Tapi kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan. Apapun itu, sebuah sejarah akan selalu abadi hingga kapanpun. Dan mumpung para saksi bisu itu masih tersisa, aku akan coba mengabadikannya sebisa mungkin, sebagai bagian dari cerita di masa depan nanti. Jangan sampai anak cucu kita nanti bilang, no pic = hoax mbah, he he he.

8 thoughts on “Kota Tua Jakarta, Sebuah Imaji yang Abadi

  • 09/12/2012 at 12:49
    Permalink

    Memang kawasan ini begitu sarat dengan nuansa magis tempo doeloe Sur. Berkutat dengan kehidupan di sana selama 3 bulan memberi gambaran cikal bakal Jakarta yang sekarang ini..

    “Yup, suasananya magis bgt”

    Reply
  • 09/12/2012 at 19:03
    Permalink

    Sur, saya nggak tau, kenapa ya kesan kumuh itu selalu ada di negara kita?
    Padahal model bangunan yang ada di foto ini kereeeeen banget…sayangnya, orang bersliweran itu justru menjadikan keanggunan bangunan jadi terasa ‘njomplang’.

    Tanpa bermaksud merendahkan bangsa sendiri, rasanya kebersihan di negara kita memang harus ditingkatkan berkali-kali lipat. Bukan apa-apa, kebersihan yang katanya sebagian dari iman itu, rasanya belum optimal kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari…

    Surya ke Depok?
    Aduuuuh, itu mah deket banget dengan tempat tinggal saya sekarang, Sur…kapan-kapan mampir ya, kalo bisa sama Dewi malah lebih sip!
    😀

    “Yap, setuju mbak, kesadaran akan kebersihan di negara kita masih kurang. Jadi inget postingan mbak Irma yang rela mengambil sampah berserakan yang mengganggu mata waktu jalan-jalan pagi. Wah, mbak Irma deket depok ya, insya Allah nanti mampir mbak :)”

    Reply
  • 09/12/2012 at 19:04
    Permalink

    Ehm, ehm…foto-fotonya makin bagus lo Sur…kayak dipotret fotografer profesional aja…hehe

    “Terima kasih apresiasinya mbak… :Malu:”

    Reply
  • 11/12/2012 at 19:51
    Permalink

    informatif! sekarang kota tua udah bersih ya? Thanks to new gubernur!

    Reply
  • 14/12/2012 at 10:45
    Permalink

    kalo ke jakarta lagi saya mau kesini 🙂

    Reply
  • 02/01/2013 at 11:50
    Permalink

    Aku dulu ga sengaja ke Kota Tua… 😀
    Waktu naik kereta ekonomi dari Kertosono, harusnya berhenti di pasar senin , tapi aku sampe mentok di Stasiun kota 😀

    Reply
  • 12/02/2013 at 13:35
    Permalink

    jalan2 ke kota tua memang mengasyikkan. apa lagi kalo udah foto2, narsis terus bawaannya 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*