Telkomsel Photo Marathon Maret 2016 Day 2 – Seni dan Budaya Indonesia

Telkomsel Photo Marathon Maret 2016 Day 2 – Seni dan Budaya Indonesia

Telkomsel Photo Marathon Maret 2016 telah memasuki hari yang kedua. Pemenang untuk lomba foto yang pertama sudah diumumkan, dan Alhamdulillah, saya belum berhasil menang. Tapi saya berhasil cukup mendapatkan like di dua foto saya dan juga lumayan jadi nambah satu postingan di blog. Bagi saya, hal tersebut patut untuk disyukuri, he he.

Telkomsel Photo Marathon Maret 2016
Telkomsel Photo Marathon Maret 2016

Tema untuk hari kedua ini adalah Seni dan Budaya Indonesia. Jadilah saya kembali mengubek-ubek stok foto saya yang sekiranya cocok dengan tema diatas. Ternyata agak susah ya. Terus terang, saya memiliki beberapa foto dengan tema yang cocok, tetapi saya masih bingung dengan aturan legalitas sebuah foto utamanya terkait model release. Jadinya akhirnya saya memilih foto yang tidak ada wajah manusia. Kalaupun ada, wajahnya tidak terlihat, baik itu tertutup topi ataupun topeng.

Dan setelah sekitar 20 menit memeriksa satu demi satu foto di Laptop, akhirnya saya menemukan dua foto yang saya kira cocok. Alhamdulillah.

Read more

Mendayung Sampan di Lok Baintan

Alunan riak-riak air mengalun di telingaku. Suaranya lirih dan merdu. Mereka berdendang berirama dengan hembusan sang bayu yang menerpa wajahku. Di ufuk timur sana, langit tampak jingga merona. Matahari masih belum mencapai bulat sempurna.

Di pagi yang hening itu, sebuah sampan kecil bergerak pelan membelah sungai. Ada dua penumpang diatasnya, aku dan pak Roni, sang nakhoda. Usianya sudah hampir 50 tahun, tapi lengannya masih kokoh dan kuat untuk mendayung, mengemudikan sampan. Ribuan butir air terbang ke udara setiap kayuhan dayungnya mencabik badan sungai. Mereka tampak berkilau keemasan terpapar sinar sang surya.

Semakin jauh sungai disusur, semakin pudar hitamnya kegelapan, keheningan semakin lenyap. Berganti keriuhan yang perlahan demi perlahan muncul. Dan setelah tiga puluh menit berlalu, sampailah kami di pusat keramaian.

Lok Baintan, kusapa lagi pesonamu. Ku nikmati kembali kesederhanaanmu. Kureguk puas eksotismu. Keriuhan pasar, tawar menawar, saling sapa, gelak tawa berpadu gemericik air yang terpapar dayung.

Read more

Lok Baintan, The Greatest Floating Market

Setelah sehari sebelumnya, aku mengunjungi Pasar Terapung di Muara Kuin, kota Banjarmasin, Hari itu aku dan teman-teman mengunjungi satu lagi pasar terapung yang berada di propinsi Kalimantan Selatan. Namanya Pasar Terapung Lok Baintan. Terletak di aliran Sungai Tabuk, pasar terapung ini berjarak sekitar satu jam lima belas menit perjalanan dari kota Banjarmasin. Untuk menuju pasar terapung ini dari kota Banjarmasin, kita bisa menggunakan kelotok, dengan menyusuri sungai ataupun dengan mobil. Kalau berkunjung kesana pagi itu, kami lewat jalur darat.

Kunjungan sehari sebelumnya ke Pasar Muara Kuin membuatku tidak berekspektasi terlalu banyak pada Lok Baintan. Bayangan tentang riuhnya pasar terapung dengan ratusan jukung, ibu-ibu pedagang yang bertopi lebar lengkap dengan aneka macam hasil bumi, yang pernah ku lihat di beberapa foto ku hapus jauh-jauh dari pikiranku. Bukannya meremehkan sebenarnya, tetapi mencoba berdamai dengan hati. Aku takut kecewa, seperti yang telah kualami kemarin. Tapi, begitu mobil yang kutumpangi sampai di desa Lok Baintan, aku melihat sebuah pemandangan yang berbeda dari kemarin. Bagiku, ini sangat spektakuler. Yap, dan akhirnya terobati juga kekecewaanku.

Read more