Berburu Intan di Martapura

Berburu Intan di Martapura

————

“Martapura, Kota Baintan”

————

Berkunjung ke Banjarmasin dan propinsi Kalimantan Selatan, tidak lengkap rasanya kalau tidak mampir ke Martapura. Kota yang terletak di sebelah timur kota Banjarmasin dan hanya berjarak satu jam perjalanan saja ini sudah lama tersohor sebagai penghasil intan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia.

Taman di depan Komplek Pertokoan Cahaya Bumi Selamat, Martapura
Taman di depan Komplek Pertokoan Cahaya Bumi Selamat, Martapura

Intan, salah satu jenis bahan mineral yang dimanfaatkan sebagai perhiasan selain emas, perak dan permata, adalah komoditas utama Martapura dan salah satu roda penggerak ekonomi utama propinsi Kalimantan Selatan, selain batubara. Intan di martapura sudah digali sejak ratusan tahun yang lalu, tepatnya ketika masa penjajahan kolonial Belanda.

Read more

Mendayung Sampan di Lok Baintan

Alunan riak-riak air mengalun di telingaku. Suaranya lirih dan merdu. Mereka berdendang berirama dengan hembusan sang bayu yang menerpa wajahku. Di ufuk timur sana, langit tampak jingga merona. Matahari masih belum mencapai bulat sempurna.

Di pagi yang hening itu, sebuah sampan kecil bergerak pelan membelah sungai. Ada dua penumpang diatasnya, aku dan pak Roni, sang nakhoda. Usianya sudah hampir 50 tahun, tapi lengannya masih kokoh dan kuat untuk mendayung, mengemudikan sampan. Ribuan butir air terbang ke udara setiap kayuhan dayungnya mencabik badan sungai. Mereka tampak berkilau keemasan terpapar sinar sang surya.

Semakin jauh sungai disusur, semakin pudar hitamnya kegelapan, keheningan semakin lenyap. Berganti keriuhan yang perlahan demi perlahan muncul. Dan setelah tiga puluh menit berlalu, sampailah kami di pusat keramaian.

Lok Baintan, kusapa lagi pesonamu. Ku nikmati kembali kesederhanaanmu. Kureguk puas eksotismu. Keriuhan pasar, tawar menawar, saling sapa, gelak tawa berpadu gemericik air yang terpapar dayung.

Read more

Keceriaan bernama Sepakbola di Asam asam

Sudah lama sepasang kakiku ini tidak merasakan rumput lapangan sepak bola. Seingatku, terakhir aku bermain bola di lapangan rumput adalah pas lebaran 2007. Kala itu aku bermain bola bersama teman-temanku SMA. Memang sampai sekarang aku masih rutin bermain bola, tetapi itu bukan di lapangan rumput, tetapi di lapangan futsal. Meski secara permainan, kedua jenis olah raga ini sebenarnya sama, tapi bagiku ada sensasi yang berbeda ketika bermain futsal, yang kebanyakan dilakukan didalam ruangan a.k.a indoor, dengan bermain sepak bola.

Kerinduan itu akhirnya terobati kalau aku berkunjung ke kota Asam asam, Kalimantan Selatan, masih dalam rangka perjalanan dinas. Dahaga kaki kaki ini akhirnya terpuaskan. Meski bukan lapangan rumput yang rata. Meski bukan lapangan sepakbola ukuran standard internasional. Ataupun juga meski bermain bukan dengan lawan yang sepadan, baik dari sisi fisik maupun usia.

Read more

Mencicipi Soto Banjar Asli Kuin

Awal Bulan September 2012 ini, aku berkesempatan mengunjungi lagi Kalimantan Selatan. Lagi-lagi masih dalam rangka dinas. Dan masih dengan rekan-rekan yang sama kala keberangkatan bulan Agustus yang lalu. Satu hari kami stay di kota Banjarmasin, sedangkan tiga hari lainnya kami habiskan di kota Asam Asam.

Dalam kesempatan stay sehari di kota Banjarmasin, kami memanfaatkannya untuk berkunjung kembali ke Pasar Terapung Muara Kuin. Kali ini bukan pasar terapungnya yang membuat penasaran, tetapi sensasi sarapan pagi Soto Banjar di atas kapal yang membuat kami datang kembali ke Muara Kuin. Pada kunjungan pertama yang lalu, kami tidak sempat merasakan sensasi itu, karena saat itu tengah berpuasa ramadhan.

Read more

Lok Baintan, The Greatest Floating Market

Setelah sehari sebelumnya, aku mengunjungi Pasar Terapung di Muara Kuin, kota Banjarmasin, Hari itu aku dan teman-teman mengunjungi satu lagi pasar terapung yang berada di propinsi Kalimantan Selatan. Namanya Pasar Terapung Lok Baintan. Terletak di aliran Sungai Tabuk, pasar terapung ini berjarak sekitar satu jam lima belas menit perjalanan dari kota Banjarmasin. Untuk menuju pasar terapung ini dari kota Banjarmasin, kita bisa menggunakan kelotok, dengan menyusuri sungai ataupun dengan mobil. Kalau berkunjung kesana pagi itu, kami lewat jalur darat.

Kunjungan sehari sebelumnya ke Pasar Muara Kuin membuatku tidak berekspektasi terlalu banyak pada Lok Baintan. Bayangan tentang riuhnya pasar terapung dengan ratusan jukung, ibu-ibu pedagang yang bertopi lebar lengkap dengan aneka macam hasil bumi, yang pernah ku lihat di beberapa foto ku hapus jauh-jauh dari pikiranku. Bukannya meremehkan sebenarnya, tetapi mencoba berdamai dengan hati. Aku takut kecewa, seperti yang telah kualami kemarin. Tapi, begitu mobil yang kutumpangi sampai di desa Lok Baintan, aku melihat sebuah pemandangan yang berbeda dari kemarin. Bagiku, ini sangat spektakuler. Yap, dan akhirnya terobati juga kekecewaanku.

Read more