Pusing-pusing di Putrajaya

Kepingan demi kepingan uang logam berpindah lincah dari tangan kanan saya ke tangan kiri saya. Sementara itu mata saya menatap tajam satu persatu kepingan logam itu dengan seksama. Sesekali saya harus membalik mukanya agar tahu, berapa nominal ringgit yang di ampu si logam.

Jauh di dalam tempurung kepala, otak saya berdenyut. Jutaan sel dan jaringan saraf yang tengah berkumpul disana bersinergi untuk membantu saya memastikan berapa nilai total dari seluruh kepingan itu.

Dua menit berlalu, seluruh kepingan tersebut telah berpindah tangan. Saya menutup mata sejenak, mengurangi intensitas cahaya yang berebut masuk ke dalam kornea agar lebih fokus sekaligus membantu percepatan kinerja otak untuk menghitung.

Saya membuka mata seraya menatap rangkaian jarum jam di arloji. Selang beberapa detik kemudian, kedua bola mata berpindah ke dua lembar kertas yang sedari tadi dipegang oleh istri. Kemudian sekali lagi saya menutup mata. Kali ini sedikit lebih lama dari yang pertama. Terkadang tanpa sadar, dahiku mengernyit. Sampai akhirnya sebuah kesimpulan didapat, dan saya kembali membuka mata.

“Oke Mam, kita mampir ke Putrajaya”

Read more

Romantisme Senja Melaka

Masih ingat postingan tentang kisah semalam di Melaka, yang kutulis beberapa minggu yang lalu. Yap, kala itu, di bulan Januari tahun 2013, aku dan dewi berkesempatan berkunjung ke salah satu kota yang sarat akan sejarah masa kolonialisme tersebut. Tapi sayangnya, kala itu kami berdua tiba di Melaka saat hari sudah gelap, padahal dari beberapa foto yang beredar di internet, panorama terbaik Melaka adalah saat senja datang. Sedangkan keesokan harinya, ketika hari masih belum terlalu siang, kami sudah pergi meninggalkan Melaka menuju Kuala Lumpur. Sehingga tidak banyak sudut kota yang bisa kami jelajahi dengan waktu yang singkat tersebut.

Dua bulan berselang, tepatnya di bulan Maret 2013, aku berkesempatan kembali ke Melaka. Kebetulan dapat tiket promo lagi dari Air Asia Surabaya Kuala Lumpur. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk berburu senja di Melaka. Perjalanan kali ini, aku tidak ditemani oleh dewi, tapi oleh my partner in crime di kantor.

Read more

Belajar dari Kuala Lumpur City Gallery

Salah satu tempat favoritku kala berkunjung ke Kuala Lumpur bulan Januari 2013 yang lalu adalah Kuala Lumpur City Gallery. Terletak di area Dataran Merdeka, Kuala Lumpur City Gallery menawarkan sebuah pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga buatku, yaitu bagaimana Malaysia mengembangkan potensi ekonomi kreatif di tengah tumbuh pesatnya sektor pariwisatanya.

Menuju Kuala Lumpur City Gallery relatif tidak mudah, karena tidak ada jaringan LRT maupun monorail yang melewati kawasan Dataran Merdeka. Stasiun LRT terdekat adalah stasiun pasar seni. Dari sini kita berjalan kaki ke arah pusat souvenir Central Market dan Kesturi Walk. Di ujung jalan kesturi walk, ambil belok ke kiri untuk kemudian jalan lurus hingga sampai di area dataran merdeka. Kuala Lumpur City Gallery terletak di sebelah barat dataran merdeka, tepatnya di dekat Perpustakaan Nasional Kuala Lumpur. Untuk mengetahui letaknya cukup mudah, cari saja sebuah tugu bertuliskan I Love KL.

Read more

Magical Night at KLCC Park

Di era modernisasi seperti sekarang ini, keberadaan sebuah taman kota mutlak diperlukan bagi kota-kota metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, Kuala Lumpur, Bangkok dan kota-kota besar lain di seluruh dunia. Selain sebagai paru-paru kota dan ruang terbuka hijau, taman kota ini juga berfungsi sebagai sarana rekreasi dan berkumpul bagi para warga kotanya.

Salah satu taman kota yang indah yang pernah ku singgahi adalah KLCC Park. Terletak di jantung kota Kuala Lumpur, Malaysia, taman kota seluas 20 hektar ini merupakan salah satu kebanggan rakyat Malaysia. Untuk menemukan KLCC park ini tidak terlalu sulit, karena lokasinya yang tepat berada di sekitaran salah satu bangunan ikonik Malaysia, Menara kembar Petronas.

Untuk menuju ke KLCC Park amat sangat mudah. Dengan menumpang jaringan LRT putra line dan turun di stasiun KLCC, maka kita sudah sampai di KLCC Park.

Read more

Semalam di Melaka

Mendengar nama Melaka (atau Malaka), aku yakin sebagian besar dari kita langsung terbayang akan sebuah selat yang memisahkan pulau sumatera, Indonesia dengan semenanjung malaya. Sebuah selat yang merupakan salah satu selat tersibuk di dunia. Tidak salah memang, tapi tahukah anda nama Malaka tidak hanya milik sebuah selat, tetapi juga milik sebuah kota. Dan kota ini tidak kalah tenarnya dari sang selat.

Bulan Januari 2013 lalu, aku dan istri telah menjejakkan kaki di Malaka. So amazing. Lagi-lagi, tiket promo Air Asia membawa kami terbang bertualang, menjelajah dunia, meski masih sekitaran asia tenggara saja, he he he. But, Alhamdulillah. Itu sudah merupakan pengalamana yang sangat berarti bagi kami.

Malaka, sebuah kota yang namanya sudah termahsyur sejak ratusan tahun yang lalu. Sejarah mencatat, Malaka mulai berdiri sejak awal abad 15. Didirikan oleh Prameswara, yang juga terkenal dengan nama Raja Iskandar Syah. Pertengahan abad 15, dibawah pimpinan Sultan Mudzaffar Syah, Malaka mengalami masa kejayaan. Saat itu Malaka menjadi kota pelabuhan, pusat perdagangan sekaligus penguasa di kawasan selat Malaka.

Read more