Suatu Pagi di Jembatan Surabaya, Pantai Kenjeran

Pagi masih buta, tapi roda-roda motor saya sudah memulai aktivitasnya. Adzan subuh sudah berlalu dua puluh menit yang lalu, sehingga suasana jalanan sudah cukup ramai dengan para jamaah yang pulang dari menunaikan sholat Subuh. Hujan semalaman membuat kota Surabaya terasa begitu sejuk, bahkan cenderung dingin. Jaket membungkus rapat tubuh saya, tetapi masih tidak mampu menepis dingin yang menyergap.

Jembatan Surabaya, Pantai Kenjeran
Jembatan Surabaya, Pantai Kenjeran

Pagi itu, bersama istri, saya berniat menuju kawasan Pantai Ria Kenjeran. Dari rumah saya, yang sama-sama di wilayah Surabaya Timur, jaraknya hanya sekitar 8 km saja dengan waktu tempuh normal 20 menit. Sangat dekat sebenarnya, hanya saja karena dingin, maka perjalanan pagi itu saya tempuh sekitar 40 menit.

Sesampainya disana, saya musti memarkir motor di area sekitar kaki jembatan, karena di setiap hari Minggu pagi, jembatan ini ditutup untuk kendaraan bermotor. Aroma ikan langsung terasa begitu saya membuka helm, karena memang salah satu kaki jembatan berada di area Pasar Ikan Kenjeran. Saya pun mulai berjalan menuju area tengah jembatan. Semakin mendekati area tengah jembatan, aroma ikan mulai berkurang dan sebagai gantinya adalah udara pagi yang sangat segar.

Read more

Berburu Foto di Hutan Bambu Keputih, Surabaya

Nun jauh di ujung timur Surabaya, tepatnya di sekitar terminal Keputih, Sukolilo, Surabaya memiliki sebuah lokasi yang cukup cantik dan instagramable. Tempatnya tidak terlalu luas, bahkan bisa dibilang relatif kecil. Tapi keunikannya membuat tempat itu dikunjungi cukup banyak orang dalam beberapa bulan terakhir.

Hutan Bambu Keputih, Surabaya
Hutan Bambu Keputih, Surabaya

Khalayak mengenalnya sebagai hutan bambu keputih, meskipun saya sendiri lebih cocok menamakannya taman bambu, karena ukurannya yang terlalu kecil untuk dibilang hutan. Tidak ada biaya sepeserpun untuk memasuki hutan bambu keputih, kecuali hanya untuk parkir yang dikelola swadaya oleh karang taruna setempat.

Aroma kesejukan langsung terasa, begitu kaki saya melangkahkan kaki masuk ke dalam hutan bambu. Disana bambu-bambu tersusun secara rapi. Pohon bambunya menjulang tinggi dan melengkung hingga seperti membentuk atap alami, sehingga sinar matahari tidak bisa leluasa menyeruak masuk ke dalam hutan. Suasana yang begitu rindang dan segar, padahal saya berkunjung kesana sekitar jam 9 pagi, dimana cuaca saat itu cukup terik dan gerah.

Read more