Terminal 3 Ultimate Soekarno-Hatta, The Pride Of Indonesia

Inferior!! Itu salah satu hal yang pernah saya rasakan ketika berkunjung ke tiga negeri seberang sesama anggota ASEAN. Ada KLIA, Malaysia yang menawan. Lalu Suvarnabhumi, Thailand yang artistik. Dan terakhir, Changi Singapura yang sangat modern. Hampir setiap tahun, ketiganya bersaing untuk mendapatkan predikat sebagai salah satu bandara terbaik di Asia bahkan di dunia.

Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta
Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan bandara internasional Soekarno-Hatta, pintu gerbang utama untuk menjelajahi indahnya negeri zamrud khatulistiwa, Indonesia. Bandara yang terletak di Tangerang, Banten, ini juga tidak kalah megah dibanding ketiga bandara negeri jiran itu. Saat mulai dioperasikan tahun 1985 untuk menggantikan bandara Kemayoran, Bandara Soekarno Hatta memiliki satu terminal yang pada awal pembangunannya memiliki kapasitas tampung hingga 9 juta penumpang per tahun. Tujuh tahun kemudian, Terminal dua berdiri dengan gagah di sisi utara dari terminal 1, dengan kapasitas 18 juta penumpang pertahun. Pada tahun 1992, Bandara Soekarno Hatta menjadi salah satu bandara terbesar di Asia dengan kapasitas total hingga 27 juta penumpang per tahun.

Desain Terminal 1 dan Terminal 2 dari bandara yang dirancang oleh arsitek berkebangsaan Prancist bernama Paul Andreu ini, juga sangat unik. Gaya arsitekturnya sangat indonesia dengan banyaknya ukir-ukiran khas yang menghiasi tiang-tiang dan langit-langit terminal. Keunikan lainnya adalah adanya kebun tropis yang sangat hijau di sekitar ruang tunggu penumpang, yang bisa menjadi peneduh mata bagi calon penumpang.

Hanya saja kemudian pengembangan bandara Soekarno-Hatta terhenti karena berbagai hal. Di sisi lain, ketiga negeri tetangga kita terus membangun. Singapura melakukan pengembangan terminal baru untuk memperluas kapasitas bandara Changi, sedangkan Malaysia membangun bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) yang baru untuk mengggantikan bandara lama yang terletak di Subang, Selangor. Thailand mengikuti jejak Malaysia dengan juga membangun bandara baru bernama Suvarnabhumi untuk menggantikan bandara Don Mueang. Desain terminal baru bandara Changi dan juga bandara baru di Malaysia dan Thailand menggunakan konsep arsitektur modern yang ramah lingkungan. Atap bandara dibuat tinggi, agar sirkulasi udara bisa berjalan dengan baik sehingga kebutuhan penyejuk ruangan bisa dikurangi. Hampir seluruh dinding bandara terbuat dari kaca yang dipadupadankan dengan pelapis lantai, keramik berwarna putih, sehingga ketika siang hari, tidak membutuhkan terlalu banyak sinar lampu.

Di awal milenium baru, selepas dari krisis moneter 1998, dunia penerbangan tanah air mulai tumbuh. Hal ini ditandai dengan mulai bermunculannya beberapa maskapai penerbangan baru. Harga tiket penerbangan pun mulai terjangkau, sehingga rakyat Indonesia mulai beralih dari moda transportasi darat dan laut menjadi udara. Semakin tahun, pertumbuhan jumlah penumpang bergerak dengan sangat cepat, hingga melebihi kapasitas bandaranya, termasuk di Bandara Soekarno Hatta. Suasana bandara yang harusnya tenang, aman dan nyaman berubah menjadi hiruk pikuk. Ruang tunggu dan kursinya sudah tidak muat lagi, sehingga banyak penumpang yang harus berdesak-desakan. Suasana makin bertambah kacau ketika ada salah satu penerbangan yang mengalami penundaan atau ketika di masa high season seperti libur lebaran atau libur sekolah.

Pemerintah Indonesia kemudian merespon semua permasalahan ini. Karena kebutuhannya yang sangat mendesak, pemerintah melakukan tiga langkah, dimana dua diantaranya adalah pekerjaan jangka pendek, yaitu membangun terminal baru yaitu terminal 3 tahap satu yang memiliki kapasitas 22 juta penumpang pertahun (Selesai sekitar tahun 2009) dan melakukan revitalisasi terminal 1 dan terminal 2 agar kapasitasnya meningkat (Selesai sekitar tahun 2012). Sedangkan pekerjaan jangka panjangnya adalah pembangunan Terminal 3 yang diberi nama Terminal 3-Ultimate.

Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta
Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta

Sejak Agustus 2016, Terminal 3-Ultimate Bandara Internasional Soekarno Hatta resmi digunakan, meskipun masih terbatas untuk penerbangan domestik dari maskapai Garuda Indonesia. Di awal penggunaannya, terjadi beberapa permasalahan, mulai dari atap terminal yang jebol hingga banjir. Penampilan T3-Ultimate juga masih tampak dekil karena sebagian besar dinding bandara belum dirapikan. Disana-sini juga masih tampak peralatan tukang yang tercecer di sudut-sudut bandara. Kondisi T3 Ultimate ini juga tidak luput dari kritikan para pengguna bandara, yang beberapa diantaranya adalah rekan-rekan blogger. Ada yang mengkritisi desain interior Terminal 3 yang kabarnya tidak sesuai dengan gambar desain komputernya. Ada pula yang mengkritisi beberapa fasilitas di dalam terminal yang tidak lazim seperti tidak diperbolehkannya penggunaan troli di dalam lift ataupun kemacetan di terminal kedatangan karena akses jalan yang hanya memiliki 4 lajur.

Saya sendiri hingga akhir 2016 belum sempat mencicipi Terminal 3 Ultimate. Saya hanya bisa memandangi terminal ini dari atas bus Damri bandara yang melintas didepannya. Baru di awal 2017 inilah, saya mendapatkan kesempatan itu. Kalau melihat kondisi terminal di awal tahun 2017 ini, dibandingkan dengan foto-foto yang saya lihat dari rekan-rekan blogger di awal dioperasikannya bandara ini, kondisi terminal sepertinya masih relatif sama, seperti misalnya kondisi terminal kedatangan, tempat menunggu mobil jemputan, bus damri ataupun antri taksi, masih tampak seperti kolong jembatan. Tapi saya berpikir positif, bahwa mungkin untuk saat ini, prioritas dari pembangunan adalah penyelesaian gedung terminal internasional terlebih dahulu, sehingga diharapkan penerbangan internasional bisa segera bergabung di Terminal 3.

Kondisi interior terminal, menurut saya bagus. Sebagian besar dinding terminal adalah kaca sehingga di siang hari, pencahayaan berasal dari sinar matahari. Sinar matahari ini kemudian berpendar karena dibiaskan oleh atap yang berwarna perak dan lantai keramik yang berwarna putih mengkilat. Langit-langit bandara sangat tinggi, sehingga sirkulasi udara terasa nyaman dan bandara menjadi tampak megah. Tenant-tenant yang berniaga di dalam bandara juga mendesain toko ataupun restorannya dengan sangat unik dan kreatif, sehingga tampak artistik. Tenant-tenant ini tidak hanya berjualan di area publik (sekitar check in counter), tetapi juga di area private khusus penumpang yaitu di sekitar area keberangkatan. Sehingga ketika tengah menunggu penerbangan, tiba-tiba kerongkongan haus, perut terasa lapar ataupun ingin membeli souvenir, tidak perlu keluar gate dulu, untuk kemudian masuk lagi melewati security check. Tetapi beberapa tenant sudah tersedia di sekitar gerbang penerbangan.

Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta Area Kedatangan
Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta Area Kedatangan
Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta Area Bagasi
Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta Area Bagasi
Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta Area Check In
Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta Area Check In
Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta Taman Di Sekitar Area Check In
Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta Taman Di Sekitar Area Check In
Tenant di Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta
Tenant di Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta
Pilot dan Pramugari Garuda Indonesia di Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta
Pilot dan Pramugari Garuda Indonesia di Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta
Tenant di Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta
Tenant di Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta
Tenant di Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta
Tenant di Terminal 3 Ultimate Bandara Seokarno-Hatta

Secara umum, bagi saya pribadi, saya bangga terhadap Terminal 3 Ultimate ini. Ini adalah bandara yang membuat saya tidak perlu inferior lagi ketika berkunjung ke luar negeri, terutama negeri jiran. Meski kondisinya saat ini masih compang-camping, tapi saya optimis, dalam dua atau tiga tahun kedepan, Terminal 3 akan mampu bersaing dengan KLIA dan Suvarnabhumi. Untuk bersaing dengan Changi, mungkin belum untuk saat ini. Tetapi hal itu tidak menutup kemungkinan, terutama ketika kereta antar terminal sudah beroperasi dan kemudian disusul dengan adanya kereta bandara dari dan ke Jakarta. Kondisi bandara Soekarno Hatta akan semakin bersaing di level internasional jika perencanaan pembangunan runway ketiga dan keempat jadi dilaksanakan, sehingga bisa mengurangi waktu tunggu maskapai untuk lepas landas maupun mendarat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*