2016 Tahun Penuh Warna untuk Blog SuryaHardhiyana

Hampir kebanyakan para blogger biasanya menyempatkan diri untuk membuat tulisan akhir tahun. Selain sebagai sarana untuk bernostalgia dengan blog selama setahun terakhir, tulisan akhir tahun juga bisa sebagai media untuk merangkum segala macam pemikiran, ide, sikap yang pernah terlintas dalam benak seorang blogger dan sempat tertuang dalam tulisan di blog. Bagi blogger yang memiliki prestasi, catatan akhir tahun bisa juga wadah untuk mengenang berbagai macam pencapaian yang sudah diraih dalam setahun terakhir.

Kenapa pada baris pertama postingan ini ada kata “Hampir”? Karena tidak semua blogger melakukan itu. Dan salah satunya adalah saya. Sebagai blogger angin-anginan, saya tidak menyempatkan sebuah waktu khusus untuk ngeblog. Jika ada ide, maka segera menulis. Kalau enggak ada ide, ya sudah. Nah, dalam beberapa tahun selama ngeblog, tidak pernah ada ide yang masuk di sekitaran akhir Desember, jadilah saya tidak pernah membuat Catatan Akhir Tahun, he he he.

Tapi, untuk tahun 2016 ini sedikit berbeda. Sejak pertengahan Desember yang lalu, saya sudah merencanakan untuk membuat sebuah postingan di akhir tahun, karena saya melihat, dalam tahun 2016 ini, terdapat berbagai transformasi pada blog saya. Perubahan yang kecil sebenarnya, tetapi karena hal-hal ini semua adalah hal yang pertama bagi saya, maka bagi saya perubahan ini cukup besar.

Hal pertama yang ingin saya tulis sebagai catatan akhir tahun 2016 adalah perubahan hosting dari blog saya, dari wordpress ke self hosting. Perubahan ini termasuk juga perpindahan domain. Mengelola self hosting adalah hal baru bagi saya. Meski sudah relatif lama berkecimpung di dunia blog, baru sekarang ini, saya mencoba self hosting. Praktis menjadi alasan utama, mengapa dari dulu saya lebih memilih provider blog macam blogger, wordpress ataupun blogdetik dibandingkan self hosting. Dengan provider blog, saya tinggal memikirkan content saja. Urusan layout, security maupun fitur tambahan seperti tools statistik, export import content sudah ditangani provider. Kebalikannya, dengan self hosting, user harus mengelola semuanya sendiri. Beberapa blogger mengistilahkan self hosting sama dengan mau berkotor-kotor merawat blog. Dan saya adalah salah satu blogger yang malas berkotor-kotor ria.

Sampai pada suatu hari, saya bertemu dengan partner baru di kantor, yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia hosting. Berawal dari ngobrol santai, diskusi kami pun mulai kearah serius setelah membicarakan tentang blog. Rendra Kurniawan, nama rekan baru saya itu, bercerita pengalamannya ngeblog mulai dengan memanfaatkan provider gratisan, beli domain di provider blog, hingga self hosting. Dari Rendra, akhirnya saya tahu, bahwa dengan mengelola blog sendiri, maka kita bisa bebas berkreasi. Misalnya, jika layout provider biasanya sifatnya fix dan tidak bisa dimodifikasi, maka jika mengelola sendiri, user bisa memodifikasi template sesuka hati. Misalnya tampilan menu, warna ataupun gambar latar belakang blog.

Perbedaan lain antara provider dengan self hosting adalah terkait boleh tidaknya pemasangan iklan di blog. Jika menggunakan provider, maka untuk pemasangan iklan harus mengacu pada terms dari provider. Beberapa provider tidak mengizinkan pemasangan iklan pada blog, ataupun kalaupun boleh, hanya terbatas pada beberapa penyedia iklan saja. Sedangkan jika menggunakan self hosting, maka kita bisa bebas dalam hal pemasangan iklan.

Dan, setelah berdiskusi panjang lebar dan dengan berbagai pertimbangan, yang mana salah satunya adalah kesediaan Rendra untuk mengajari saya, akhirnya saya pun memutuskan untuk memindahkan blog saya ke self hosting dan mentransfer domain saya dari wordpress ke penyedia self hosting. Alhamdulillah, sejauh ini saya merasa cukup puas dengan blog saya. Terima Kasih Rendra

Kedua adalah sebuah pemecahan rekor posting berturut-turut. Sebelum tahun 2016, rekor terbaik saya dalam hal posting blog adalah 3 hari berturut-turut. Memasuki bulan Maret 2016, saya membuat rekor dengan posting selama 6 hari berturut-turut mulai 22 Maret 2016 hingga 27 Maret 2016. Pencapaian yang sudah sangat membuat saya merasa bangga.

Hanya berselang sebulan, saya mempertajam rekor tersebut menjadi 13 hari berturut-turut. Tercatat sejak tanggal 12 April 2016 hingga 24 April 2016, saya berhasil membuat minimal satu postingan per hari. Sebuah hal yang benar-benar tidak saya duga. Apalagi di masa-masa itu, kerjaan lagi banyak-banyaknya. Tapi justru, kerjaan yang menumpuk itulah yang membuat rekor itu tercipta karena pada saat itu, menulis dan bercerita menjadi salah satu pelarian saya dalam menghadapi beratnya tekanan pekerjaan.

Catatan ketiga adalah cerita yang akan selalu saya kenang dalam hidup saya. Sebuah kisah tentang Laskar Gerhana yaitu para pemburu gerhana matahari total 9 Maret 2016, dimana saya menjadi salah satu anggotanya. Yang menarik bagi saya pada kisah ini, bukan hanya karena gerhana mataharinya semata, ataupun mungkin tentang keindahan pulau Belitung, tetapi justru pada ikatan persahabatan yang terjalin diantara para anggota Laskar Gerhana. Dari perjalanan bersama rekan-rekan Laskar Gerhana ini, saya membuat cukup banyak tulisan untuk diposting di blog saya tercintah ini.

Catatan keempat, atau mungkin juga sebagai catatan terakhir pada postingan ini adalah mulai terbukanya genre blog saya. Jika dulunya, postingan saya hanya berisikan tulisan tentang segala yang berhubungan dengan wisata, maka saat ini, genre blog saya makin meluas. Saya pun mulai belajar menjadi pandit dengan menulis banyak hal tentang sepakbola, utamanya saat turnamen Piala Eropa 2016 di mulai.

Demikian sekilas kaleidoskop selama tahun 2016 di blog saya tercintah ini. Di tahun 2017 mendatang, saya berharap, kegilaan saya untuk menulis semakin tinggi lagi. Kalaupun belum bisa menggapai rekor 13 hari berturut-turut, maka minimal saya harus bisa mengalahkan rekor 6 hari berturut-turut. Doakan saya ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*