Menikmati Pengelolaan Tur 4 Island Krabi ala Thailand

Laut yang terhampar sepanjang mata memandang di suatu siang yang cukup terik itu, membuat mataku seperti tak mau berkedip. Airnya sungguh jernih dan tampak menghijau. Sesekali di permukaannya muncul kilauan bak permata, terutama ketika sang surya dapat memaparkan sinarnya tanpa ada awan yang menghalanginya.

Setiap beberapa detik, air laut itu datang menghampiri daratan pulau mungil, tempat kakiku berpijak saat ini, untuk menjilati butiran-butiran pasir yang berserakan di sepanjang garis pantai. Seketika itu pula, terdengar suara gemuruh deburan akibat hantaman jutaan bulir air ke butiran-butiran pasir yang putih dan bertekstur sangat lembut itu.

Poda Island, Krabi, Thailand
Poda Island, Krabi, Thailand

Selang beberapa detik kemudian bulir-bulir air laut itu kembali terhempas ke lautan luas. Beberapa diantaranya kembali berdebur karena menghantam beberapa pulau karang yang tinggi menjulang dan banyak bermunculan di area perairan sekitar pantai. Sekilas, pulau-pulau itu terlihat laksana jamur yang tumbuh subur di lautan.

Cuaca siang itu memang panas dan gerah, tetapi ratusan pepohonan yang berdiri kokoh di sekeliling pulau, yang luasnya kira-kira hanya sekitar dua sampai tiga kali lapangan sepakbola internasional, membuat hawa menjadi sejuk. Suasana makin nyaman karena kehadiran semilir bayu yang berhembus di sela-sela dedaunan dan pepohonan.

Pulau itu bernama Poda. Orang Thailand menyebutnya Ko Poda. Lokasinya berada sekitar 8 km sebelah barat pantai Ao Nang, Krabi, Thailand. Pulau ini adalah salah satu tujuan wisata utama bagi wisatawan yang tengah berkunjung ke Krabi.

Poda Island, Krabi, Thailand
Poda Island, Krabi, Thailand

Siang itu, Poda Island, sangat riuh oleh ratusan turis mancanegara. Harap maklum, karena aku dan istri berkunjung di bulan Februari, yang merupakan puncak kunjungan wisatawan ke Thailand alias masa peak season. Di bulan Februari ini, Thailand tengah menjalani musim kemarau yang berlangsung sejak bulan Oktober dan berakhir nanti di bulan April. Banyak turis mancanegara, terutama dari Eropa, datang ke Thailand pada periode ini, karena negeri mereka tengah dilanda musim dingin. Suasana riuh semakin terasa karena pada periode itu pula, cuaca dan ombak di Thailand sangat bersahabat dan aman untuk melakukan aktivitas di pantai dan juga untuk pelayaran antar pulau.

Di bibir pantai Poda Island, tertambat puluhan kapal, mulai dari jenis kapal cepat (speed boat), long-tail boat (kapal tradisional Thailand) berukuran besar hingga long-tail boat berukuran kecil.

Poda Island, Krabi, Thailand
Poda Island, Krabi, Thailand

Salah satu dari kapal yang tertambat disana adalah kapal yang kami tumpangi bersama dengan sekitar 50-an wisatawan lainnya. Kami berdua mengikuti tur reguler yang bertajuk “4 island one day tour with long-tail boat“. Sama seperti judulnya, tur reguler ini akan membawa kami ke empat pulau/pantai yang terletak di sekitar area Krabi yaitu, Phra Nang Cave Beach, Chicken Island, Tup Island, dan Poda Island. Tour ini dibanderol dengan harga THB 600 per orang yang berhasil kami nego menjadi THB 500 per orang. Sebelum tiba di Poda Island, kami terlebih dahulu mengunjungi Phra Nang Cave Beach serta snorkeling di perairan sekitar Chicken Island.

Banyak hal yang bisa dilakukan di Poda Island, mulai berenang, bermain sepak bola pantai, voli pantai, melempar frisbee, membuat istana pasir ataupun sekedar berjemur. Kami berdua lebih memilih untuk hanya sekedar duduk-duduk di bawah pohon sambil menikmati jatah makan siang dari penyelenggara tur. Aktivitas snorkeling yang ku lakukan di Chicken Island beberapa menit yang lalu membuat badanku terasa sangat lelah.

Setelah menghabiskan waktu 2 jam di Poda Island, sang tour guide memanggil semua rombongan turnya berdasarkan warna stiker yang ditempel di baju kami. Dan hanya dalam waktu singkat, semuanya sudah berkumpul dan kapal pun berlayar kembali. Tak lupa, sang tour guide membawa plastik yang berisi seluruh sampah sisa makan siang anggota rombongan. Semuanya dilakukan sangat tertib. Bagi saya ini menakjubkan.

Dari Poda Island, Long Tail-Boat akan membawa kami ke pulau keempat atau terakhir dari paket tur yaitu Tup Island.

Secara perlahan, kapal bergerak menuju sebuah pulau yang berbentuk seperti gundukan bukit kecil, yang letaknya hanya sekitar 300 meter dari Poda Island. Diseberangnya terdapat pulau yang bentuknya serupa dengan terpisah jarak hanya sekitar 30 meter saja. Diantara dua pulau tersebut air laut tampak menghijau, yang artinya perairan yang sangat dangkal.

Tup Island, Krabi, Thailand
Tup Island, Krabi, Thailand

Dan siang itu, aku beruntung. Mendekati Tup Island, ternyata air laut tengah mengalami pasang surut, sehingga perlahan demi perlahan tersibak jalan penghubung antara dua pulau tersebut. Jadilah dua pulau tersebut tampak menyatu. Masya Allah.

Kontur Tup Island adalah bebatuan dan memiliki sedikit pasir. Sebagian besar pasir terdapat di jalan penghubung antar dua pulau tersebut. Setelah cukup beristirahat di Poda Island, sekarang saatnya aku berburu foto di pulau yang cantik ini. Istriku sendiri lebih memilih mencari tempat berteduh sambil menikmati suasana pulau.

Luasannya yang sangat kecil dengan tinggi yang hanya sekitar 20 meter saja, membuat waktu yang dibutuhkan untuk menjelajahi pulau sangat singkat. Mungkin hanya lima menit saja. Hanya saja harus berhati-hati, karena bentuk bebatuan di pulau ini cukup tajam sehingga bisa membuat telapak kaki terluka. Juga dibutuhkan kewaspadaan tinggi ketika berada di puncak, karena bisa terperosok. Meski pulaunya kecil, tapi Tup Island menjadi salah satu pulau favoritku di Krabi karena memiliki cukup banyak spot yang bisa dijelajahi untuk foto.

Tup Island, Krabi, Thailand
Tup Island, Krabi, Thailand

Tup Island adalah pulau terakhir dari empat pulau yang dijelajahi dalam paket one day tour ini. Long Tail-Boat pun membawa rombongan kembali ke Pantai Ao Nang, Krabi.
Lagi-lagi, dalam kunjunganku ke Thailand, aku disuguhi sebuah pelajaran tentang tata kelola pariwisata yang sangat modern dan professional. Pulau dan Laut, adalah salah satu kekayaan alam yang tidak hanya dimiliki oleh Thailand. Indonesia sebagai negeri kepulauan memiliki pulau yang jauh lebih banyak dari Thailand. Dan pastinya lagi, jauh lebih indah, karena cakupan perairan kita yang lebih luas dan lokasinya yang berada pada segitiga coral dunia. Hanya saja, untuk urusan pengelolaan pulau-pulau dan laut, utamanya untuk pariwisata, kita masih harus belajar banyak dari Thailand.

Salah satu contoh dalam hal penguasaan bahasa. Meski tidak terlalu fasih berbahasa Inggris, seorang tour guide minimal sanggup untuk menguasai kata-kata atau kalimat yang sering dipakai dalam percakapan sehari-hari.

Contoh yang lain, karena tour sudah dikelola secara professional, maka bagi seorang turis yang tengah melakukan perjalanan sendiri atau hanya berdua, tetap bisa menikmati wisata dengan murah karena turnya akan digabung dengan peserta yang lain. Bayangkan dengan yang terjadi di Indonesia. Jika melakukan perjalanan sendiri, maka harus bersiap merogoh kocek dalam-dalam karena semua kebutuhan harus dibiayai sendiri seperti sewa kapal, sewa hartop ataupun sewa mobil, kecuali bisa menemukan wisawatan lain yang bisa diajak share cost.

Dan contoh terakhir adalah terkait pengelolaan sampah. Dalam tiga tahun terakhir, terlihat pariwisata lokal Indonesia mengalami booming. Salah satu penyebabnya adalah kehadiran sosial media, utamanya instagram, yang membuat anak-anak muda Indonesia sekarang lebih rajin melakukan perjalanan dan juga selfie. Sayangnya, booming pariwisata ini tidak diikuti oleh kesadaran akan lingkungan hidup. Beberapa contohnya adalah pemberitaan negatif terkait kondisi lingkungan di area Ranu Kumbolo, Pulau Sempu ataupun Pantai Kuta Bali yang penuh dengan sampah.

Banyak hal yang masih perlu dibenahi dalam dunia pariwisata Indonesia, yang itu berarti tersedia kesempatan yang sangat luas untuk perbaikan (Opportunity for Improvement). Ini bukan hanya tugas pemerintah saja. Kita selaku warga negara Indonesia, utamanya para pelaku dunia pariwisata, harus berpartisipasi aktif melakukan perbaikan. Dan pada akhirnya, semoga di masa mendatang, dunia pariwisata Indonesia akan semakin maju dan menjadi salah satu ujung tombak perekonomian negara, tanpa melupakan akan keramahan pada lingkungan.

4 thoughts on “Menikmati Pengelolaan Tur 4 Island Krabi ala Thailand

  • 18/08/2015 at 22:05
    Permalink

    Great story om.. btw sebagai travel blogger boleh dong di tanyain yah.. hehe, rencana nya kami mau holiday ke krabi awal september depan, cuma sekarang jadi agak ragu krn denger2 september bakal ujan2an di sono.. so om punya kah info klo bener adanya september emang musim ujan di sono.. thx b4 om..

    Reply
    • 20/08/2015 at 08:05
      Permalink

      Thailand itu musimnya berkebalikan dengan kita. Jadi Oktober – Maret itu musim panas, sedangkan April – September itu musim hujan. Nah antara September dan Oktober itu musim pancaroba, yang mungkin ya bisa hujan bisa panas.
      Mungkin itu info yang bisa saya sampaikan. Selamat liburan yak

      Reply
  • 25/08/2015 at 07:13
    Permalink

    Peak Season Thailand bulan Februari ya, Sur?
    Saya belum pernah kesana.
    Tapi dari tulisan dan foto-foto yang ada disini, saya yakin Thailand itu salah satu negara eksotis yang layak buat dikunjungi..hehe, biarpun saya nggak terlalu suka pantai dan laut, disana kan banyak juga tempat-tempat wisata menarik lain yang layak buat dikunjungi 🙂
    Ditunggu cerita jalan-jalannya lagi, Surya…salam buat Dewi…

    Reply
  • 25/08/2015 at 07:16
    Permalink

    Daaaan…
    Masalah sampah memang masalah klasik di Indonesia.
    Makin rame tempat wisata, makin banyak sampah yang ada.
    Makin banyak wisatawan berkunjung, makin banyak juga bekas makanan-minuman yang berserakan.
    Duh, kapan ya kesadaran masyarakat kita buat menyimpan dan membuang sampah di tempatnya itu muncul?
    Kapan ya, tempat sampah ideal dengan pemilahan itu tersedia dan dalam jumlah yang banyak?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*