Menyusuri Sejarah di kota Angin Mamiri

Riuh, satu kata yang tidak pernah lepas dari Pantai Losari, Makassar. Apalagi di sore hari, ketika matahari akan terbenam. Meski bukan akhir pekan, pantai ini selalu ramai oleh penduduk setempat maupun para wisatatawan. Mereka yang berusia setengah baya sibuk mengobrol, para orang tua muda tampak bermain-main bersama buah hati mereka. Sesekali sang ayah atau ibunda mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen lucu yang tercipta.

Pantai Losari, Makassar
Pantai Losari, Makassar

Sedangkan anak-anak muda sibuk dengan gadget masing-masing. Tak lupa si tongsis alias tongkat narsis pun turut serta. Sesekali mereka mengayunkan tongkat itu dan menghadapkan wajah pada kamera yang terpasang. Sebelum shutter dinyalakan, mereka mengajak seluruh kawannya untuk berkumpul dan memasang pose terbaik. Di belakang mereka, berdiri dua belas buah huruf bercat putih, bertuliskan “Pantai Losari” ditambah dengan guratan merah, kuning dan jingga yang menghias ufuk barat. Sebuah foto dengan latar belakang yang sempurna.

Saya hanya tersenyum melihatnya, teringat beberapa tahun silam, ketika ke sini untuk pertama kalinya. Saat itu, perlu perjuangan ekstra keras untuk mendapatkan latar belakang tulisan Pantai Losari. Hal itu tidak terjadi lagi sekarang, karena sudah berdiri tulisan-tulisan lain seperti City Of Makassar, Bugis ataupun Toraja. Konsentrasi para pengunjung pun tidak terpaku pada satu titik saja.

Saat matahari tenggelam, adzan Maghrib berkumandang dari masjid Amirul Mukminin yang terletak satu kompleks dengan anjungan Pantai Losari. Dibangun di bibir pantai dengan pondasi yang cukup tinggi, masjid ini seolah-olah mengapung saat air laut pasang. Tak heran jika orang-orang menyebutnya masjid terapung.

Di hari lain saya menikmati Pantai Losari saat pagi hari. Asalkan bukan akhir pekan atau hari libur nasional, kita bisa menikmati pantai dengan suasana tenang. Udaranya segar, suara ombak membahana di tengah keheningan yang tercipta. Setelah berfoto sejenak dengan latar belakang pantai yang indah, saya tergerak untuk lari pagi di area jogging track di Pantai Losari.

Jika berlari di sekitar anjungan Pantai Losari sudah terlalu mainstream, maka tidak ada salahnya berlari diatas pasir pantai di salah satu pulau di gugusan kepulauan spermonde yang tersebar di sebelah barat Makassar. Dermaga Kayu Bangkoa yang terletak tidak jauh dari Pantai Losari adalah pintu gerbang untuk menuju pulau-pulau tersebut. Di sana, tersedia perahu motor yang bisa disewa untuk berlayar menuju Pulau Kayangan, Lae-lae, Samalona, Barrang Lompo, Kodingareng Keke, Langkai, Kapoposang dan Lanjukang.

Karena lokasinya yang terpisah dari daratan Sulawesi, air laut disekitar pulau-pulau tersebut masih cukup bening dan bersih sehingga sangat nyaman untuk berenang. Pasir pantainya juga lembut dan bebas dari kotoran.

Meski diberkahi dengan gugusan kepulauan yang indah serta pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan, tetapi hal yang membuat saya begitu terkenang akan Makassar justru sebuah benteng tua peninggalan masa kolonial yang berlokasi tidak jauh dari Pantai Losari. Fort Rotterdam.

Dari luar, sudah terasa aura kemegahan sang benteng yang dibangun sekitar abad ke-16 oleh salah satu Raja Kerajaan Gowa. Pada awal berdirinya, benteng yang memiliki lima sudut ini bernama benteng Ujung Pandang. Sebagian orang menyebutnya sebagai Benteng Pannyua karena bentuknya yang mirip penyu kala dilihat dari ketinggian.

Semenjak kependudukan VOC di Makassar yang ditandai dengan perjanjian Bungaya di abad ke-17, bangunan seluas 3 hektar ini difungsikan sebagai pusat perdagangan dan gudang penimbunan rempah-rempah sekaligus pusat pemerintahan VOC di wilayah Indonesia timur. Nama Fort Rotterdam diambil dari nama kota tempat kelahiran C.J Speelman, sang penguasa VOC saat itu. Kini bangunan berdinding putih dan beratap merah ini beralih fungsi menjadi Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar serta Museum La Galigo Provinsi Sulawesi Selatan.

Di dalam benteng setebal 2 meter dengan tinggi 5 meter ini terdapat 15 bangunan, lima di antaranya adalah bastion, yaitu bangunan dengan posisi lebih kokoh serta lebih dibanding bangunan lainnya. Bastion biasanya terletak di sudut benteng dan dilengkapi meriam.

Di salah satu sudut benteng terdapat ruangan berukuran 5×5 meter berisi ruangan yang kecil, sempit dan berbentuk setengah lingkaran dengan jari-jari hanya sekitar 3 meter. Tidak ada pintu, sebagai gantinya, terdapat dua buah terali besi kokoh. Itulah ruang tahanan salah satu pahlawan nasional Indonesia, Pangeran Diponegoro. Di ruangan ini, tokoh sentral dalam Perang Jawa yang bergolak mulai dari 1825 hingga 1830 ini menjalani masa pengasingan hingga menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sebagai pengingat kepahlawanan beliau, di depan benteng dibangun patung Pangeran Diponegoro yang tengah menunggang kuda.

Sejarah Makassar juga tampak dari pelabuhan Paotere, salah satu pelabuhan tertua di Indonesia, yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-14. Pelabuhan Paotere adalah salah satu warisan dari kerajaan Gowa-Tallo yang masih berdenyut hingga saat ini dengan berbagai kegiatan bongkar muat barang. Di pelabuhan inilah, saya menyaksikan sebuah kapal kayu yang sangat besar. Kapal itu memiliki dua tiang utama, yaitu tiang depan dan tiang belakang. Di masing-masing tiang, terpasang dua buah layar. Lalu di antara buritan kapal dan tiang depan, terpasang tiga buah layar.

Itulah Phinisi, salah satu mahakarya putra bangsa yang mendunia. Untuk membuat Kapal Phinisi dibutuhkan waktu antara 4 hingga 8 bulan, tergantung ketersediaan pasokan bahan baku, yaitu kayu bitti dan kayu Ulin (kayu besi). Meskipun terbuat dari kayu, kapal Phinisi bisa digunakan berlayar hingga berbulan-bulan lamanya, karena didalam kapal sudah tersedia fasilitas layaknya sebuah rumah seperti kamar tidur, dapur, toilet dan fasilitas penunjang lainnya.

Selain sebagai pintu masuk jalur perniagaan, pelabuhan Paotere diyakini juga menjadi salah satu pintu masuknya Islam ke tanah Makassar. Islam pun makin berkembang di Makassar ketika Kerajaan Gowa dipimpin oleh Sultan Alaudin, Raja Gowa yang memeluk Islam, sekaligus pengemban gelar “Sultan” yang pertama.

Kini, Islam menjadi agama mayoritas penduduk Makassar serta Sulawesi Selatan. Dua Masjid besar berdiri megah di jantung kota Makassar, yakni Masjid Raya Makassar dan Masjid Al-Markaz Al-Islami. Keduanya juga mempunyai arsitektur yang indah, sehingga layak menjadi salah satu destinasi wisata religi di Makassar.

Karena besarnya jumlah umat muslim di Makassar, maka tak heran Garuda Indonesia menjadikan kota Makassar sebagai salah satu embarkasi pemberangkatan ibadah haji. Selain itu, di pertengahan tahun 2014, Garuda Indonesia juga membuka penerbangan langsung dari Makassar menuju Jeddah.

—-

Ini adalah tulisan pertamaku tentang Makassar yang kukirim ke Majalah Colours Garuda Indonesia edisi Middle-East. Tulisan ini sebenarnya sudah disetujui oleh redaktur. Tetapi akhirnya gagal dimuat karena ditolak oleh redaktur senior dengan alasan tema yang diangkat terlalu biasa dan sudah banyak ditulis. Akhirnya daripada dibuang sayang, maka tulisan ini aku posting di blogku tercintah ini 🙂

2 thoughts on “Menyusuri Sejarah di kota Angin Mamiri

  • 05/08/2015 at 09:51
    Permalink

    Weeeiiitssss, jadi yang mau dimuat di majalah itu topik tentang apa, Sur?
    Kasih bocorannya dikit dong…masak saya harus naik Garuda ke Timur Tengah dulu buat baca tulisan Surya…hehehehe

    Reply
  • 05/08/2015 at 09:53
    Permalink

    Selamat sekali lagi, Sur…sukses terus, dan tetep semangat!
    Foto-foto diatas itu, sumpah, keren banget…
    😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*