Menikmati Street Food ala Jogja

Malam itu disebuah kedai di pinggir jalan. Seseorang meletakkan sebuah gelas kaca berukuran sedang di sebuah meja. Kedalam gelas itu, dituangkan satu sendok makan kopi bubuk yang ditemani satu sendok makan gula pasir. Sesaat kemudian seseorang itu mengangkat sebuah teko dari atas kompor. Asap tidak henti-hentinya mengepul dari dalam teko.

Seseorang itu kemudian mendekatkan teko tersebut pada gelas dan menumpahkan beberapa mili liter air mendidih yang ada didalamnya, kedalam gelas. Air yang tertuang kedalam gelas itu pun berubah warna menjadi hitam setelah tercampur dengan bubuk kopi dan gula. Agar lebih menyatu, air, kopi dan gula itu diaduk dengan menggunakan sendok. Setelah adukan dirasa cukup, seseorang itu mengambil sebuah potongan kecil arang yang tampak masih merah membara dari sebuah alat pemanggang, untuk kemudian dimasukkan ke dalam segelas kopi. Terdengar suara joss dari dalam gelas. Dan kopi jos pun siap untuk dinikmati.

Segelas Kopi Joss
Segelas Kopi Joss. Picture taken from kopistory.com

Dengan penuh keraguan dan juga penasaran, aku mencoba menikmati kopi jos yang terhidang didepanku. Sesap demi sesap, aku merasakan tidak ada yang berbeda dengan rasa kopinya. Menurut sang penjual, arang pada kopi jos memang tidak mempengaruhi rasa kopi. Juga tidak berbahaya bagi peminumnya, tetapi justru menyehatkan karena menurunkan kadar kafein dalam kopi. Benar atau tidak, aku tidak tahu.

Sambil menikmati aroma kopi jos di malam itu, aku menyantap dua bungkus nasi kucing. Satu bungkus nasi rica-rica ayam dan satu bungkus nasi ayam manis pedas. Supaya terasa lebih mantap, aku pun mengambil lauk tambahan sebagai teman dari nasi kucing. Banyak sekali pilihan lauknya, ada sosis goreng, sosis bakar, nuggets, bakso rebus, bakso bakar, ayam goreng, ayam bakar, sate ayam, sate daging, sate bebek, cumi goreng, tahu goreng, tempe goreng dan juga aneka gorengan lainnya. Tinggal kita sesuaikan dengan kondisi perut dan juga kantong. Eh jangan lupa juga ya, disesuaikan dengan kondisi kesehatan tubuh ya, seperti kolesterol, asam urat ataupun gula darah, he he.

Aneka Pilihan Nasi Kucing
Aneka Pilihan Nasi Kucing
Aneka Pilihan Lauk Nasi Kucing
Aneka Pilihan Lauk Nasi Kucing

Ditengah-tengah asyiknya menikmati makan malam, datanglah rombongan seniman Jogja. Dari beberapa seniman jalanan Jogja yang pernah kutemui, sebagian diantaranya hampir tidak berbeda dengan seniman jalanan di kota lain. Tapi, ada sebagian lain seniman jalanan Jogja yang menurutku patut diberikan apresiasi lebih. Sedari awal mereka sudah menunjukkan diri bahwa mereka bukan seniman jalanan biasa. Sebelum bernyanyi ataupun menunjukkan kebolehannya pada pengunjung, mereka terlebih dahulu minta ijin. Jika memang si pengunjung tidak bersedia, maka dia tidak memaksa dan pergi ke pengunjung yang lain. Ketika ijin sudah didapat, baru mereka beraksi.

Keterampilan mereka juga tidak bisa dianggap remeh. Seperti seorang seniman yang bernyanyi untukku malam itu. Aku lupa tidak bertanya namanya, tetapi tertulis nama Rismadi di gitarnya, jadi aku pun menamainya Rismadi. Malam itu Mas Rismadi membawakan lagu 11 Januari dari Gigi sebagai lagu pertama. Sejak awal aku takjub dengan kemahirannya memainkan dawai-dawai gitar. Suaranya pun cukup merdu.

Mas Rismadi Beraksi
Mas Rismadi Beraksi

Selesai lagu pertama, aku memintanya memainkan satu buah lagu lagi. Karena lagi-lagi tidak tahu harus request lagu apa, jadi aku serahkan pilihan lagu ke Mas Rismadi. Diluar dugaanku, dia memainkan lagu Hold On dari Jet yang merupakan soundtrack film Spiderman 2 yang dibintangi Tobey Maguire dan Kirsten Dunst. Lagu ini langsung serasa membawaku kembali ke memori sepuluh tahun silam. Dengan takjub dan penuh haru, aku menikmati detik demi detik alunan gitar akustik yang berpadu merdu dengan suara Mas Rismadi. Ah, indah.

Setelah lagu Hold On selesai, aku mengucapkan banyak terima kasih dan apresiasi kepada Mas Rismadi sambil memasukkan beberapa rupiah ke sebuah kantung yang dia sodorkan kepadaku. Sebenarnya aku masih ingin memintanya untuk memainkan setidaknya satu lagu lagi, tetapi saat itu malam sudah terlalu larut buatku. Aku harus segera istirahat karena ada agenda esok pagi. Makanan di hadapanku juga sudah habis. Begitupun dengan segelas kopi jos yang hanya tinggal menyisakan sebongkah arang dan ampas kopi.

Dengan perasaan riang dan damai, aku kembali ke hotel untuk beristirahat. Tidak sabar rasanya untuk kembali menikmati malam di Jogja. Street food di Jogja memang lain. Ceritanya tidak hanya melulu tentang makanan saja, tetapi ada sebuah kehangatan dan keramahan disana.

6 thoughts on “Menikmati Street Food ala Jogja

  • 01/03/2015 at 22:06
    Permalink

    Duh, postingan maksudnya, Sur…saking semangatnya bisa nulis komen pertama πŸ˜€

    Reply
  • 01/03/2015 at 22:10
    Permalink

    Saya nggak sempet menikmati kopi jos ini, Sur…selain pulang dari manten dan berkebaya, waktu itu Jogja juga lagi hujan. Jadilah si nasi kucing lauk teri itu dibawa pulang ke hotel.
    Hehe, nikmatnya nggak kalah, cuman kopi jos itu memang sampai sekarang bikin saya penasaran. Apa saya harus liburan ke Jogja lagi ya?
    πŸ˜‰

    Reply
  • 01/03/2015 at 22:11
    Permalink

    Ada kehangatan dan keramahan di Jogja…saya juga setuju, Sur…setuju banget malah!
    πŸ˜€

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*