Suatu Pagi Di Stasiun

Stasiun telah ramai pagi ini. Padahal dua jarum sebuah jam dinding yang terpasang di tembok stasiun baru menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Entahlah apa yang telah membuat para manusia sudi berhiruk-pikuk di stasiun sepagi ini. Apakah para manusia itu mempunyai waktu yang berbeda dengan waktu stasiun. Setahu saya didunia ini, pada setiap tempat, Tuhan hanya memberikan satu waktu saja, tidak kurang dan tidak lebih sedetikpun.

Ilustrasi Stasiun Jakarta Kota
Ilustrasi Stasiun Jakarta Kota

Seorang anak muda baru saja masuk kedalam stasiun. Dia membawa sebuah tas ransel besar. Dia memakai kaus berwarna putih dan celana jeans biru yang sudah sangat kumal. Wajahnya sebenarnya tidak bisa dibilang ramah. Rambutnya yang panjang sebahu dibiarkan terurai. Di wajahnya terdapat bekas sayatan pisau yang melintang panjang sedikit dibawah mata kirinya. Badannya juga besar dan kekar. Tetapi saat ini wajah itu terlihat sangat lelah. Sepasang kantung mata terlihat jelas menghiasi kedua kelopak matanya.

Begitu masuk kedalam stasiun, hal pertama yang dia lakukan adalah melihat arloji yang melingkar dilengannya. Dan sesaat kemudian wajahnya terlihat sedikit ceria. Ada gumaman kecil keluar dari mulutnya.

“Ah, ternyata aku bisa sampai disini lebih cepat 15 menit”

Pemuda itu menurunkan tas yang sedari tadi membebani punggungnya. Dia meletakkan tas itu pada sebuah kursi kosong. Setelah itu dia menatap sebuah papan berwarna hitam yang tertempel diatas loket penjualan karcis. Itu adalah papan jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api ke dan dari stasiun ini. Cukup lama pemuda itu menatap papan itu sambil sesekali melihat kembali arloji yang ada ditangannya.

Setelah puas menatap papan itu dia duduk di kursi disamping tasnya. Dia merogoh dompet yang dia letakkan di saku belakang celana jeansnya. Matanya menatap lekat-lekat isi dari dompet. Selembar uang sepuluh ribuan terselip didalam dompet itu bersama dengan 3 keping uang logam limaratusan. Pemuda itu bernapas dengan begitu berat.

“Uh, uangku hanya tinggal ini. Aku tidak bisa pulang”

Pemuda itu bingung. Hatinya serasa menangis merasakan nasib yang sekarang sedang menghimpitnya. Tetapi hanya hatinya saja yang dia izinkan untuk menangis, matanya tetap kering. Hanya terlihat sedikit lebih sayu. Dalam kebingungannya itu, ditatapnya satu persatu orang yang lalu lalang disekitarnya. Semua terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tidak ada yang memperhatikan dirinya. Tiba-tiba ada rasa marah yang timbul dari dalam hati pemuda itu. Mengapa orang-orang itu tidak mempedulikannya? Apakah orang-orang itu tidak merasakan kehadirannya.

Pemuda itu memukul tas ranselnya. Dia melampiaskan kemarahannya. Tiba-tiba ada seorang malaikat kecil yang membela lengannya yang kekar. Tangan mungil itu begitu halus dan suci. Suara lembut keluar dari mulutnya.

“Mengapa kakak menangis?”, ujar malaikat kecil itu. Dia berpakaian putih hanya saja tidak ada sayap yang menempel di punggungnya. “Kakak kan laki-laki, kata mama, laki-laki itu tidak boleh cengeng”

“Siapa yang menangis, sahut pemuda itu. Alam sadarnya mengirimkan perintah untuk menghentikan saraf tangannya agar berhenti memukul tas ranselnya.”

“Kalau tidak menangis, mengapa mata kakak berair?”

Saat itu juga pemuda itu menyadari bahwa matanya telah berkaca-kaca tanpa dia sadari. Secara reflek diusapnya air mata yang belum tumpah itu dari matanya.

“Enggak, Kakak gak nangis kok”

“Kakak lapar? Nih aku punya roti,” kata malaikat kecil itu.

“Terimakasih.”

“Ria, sini,” ujar seorang wanita yang berusia kira-kira 35 tahun. Dia membawa sebuah tas. Pemuda itu melihat wanita itu dengan takjub, wanita itu sebenranya sangat cantik tetapi entahlah terlihat ada sesuatu yang membuat kecantikannya itu tertutupi oleh sedikit kelabu. “Jangan jauh-jauh dari Ibu, Nanti kamu bisa hilang, ujar wanita yang ternyata adalah ibu malaikat kecil itu.”

“Aku ingin menghibur Kakak ini Bu, dia tadi menangis. Kata Ibu guru Ria, kalau ada orang yang lagi bersedih, kita harus menghiburnya,” sahut Ria. Ucapan yang terdengar sangat polos dari seorang bocah kecil yang belum terkontaminasi oleh getirnya kehidupan.

“Iya Ibu tahu, tetapi jangan sembarangan menghibur orang, apalagi orang yang belum kita kenal, Ayo sini!”

“Kak, Ria permisi dulu ya. Kakak jangan nangis lagi, ya”

Pemuda itu menganggukkan kepalanya. Baru saja dia merasa gembira karena ada seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan untuk menolongnya, tetapi ternyata hal menggembirakan itu tidak berlangsung lama. Sekarang malaikat itu telah pergi darinya.

“Ria, berhati-hatilah dengan orang asing. Kakak yang kaukenal tadi kelihatannya bukan orang yang ramah,” bisik Ibu itu ketika sudah agak jauh dari Pemuda itu.

“Kakak tadi bukan orang jahat Bu, kenapa Ibu berkata seperti itu, kata Ibu kita tidak boleh berburuk sangka terhadap orang.”

“Lihat saja rambutnya yang panjang dan tidak terawat, trus bekas luka yang ada dimatanya, itu pasti bekas sayatan pisau. Dia pasti suka bertengkar. Dia orang jahat Ria. Tangisannya itu tadi hanya pura-pura, agar menarik perhatian orang. Dan kamu tadi nyaris menjadi korbannya.”

Dan berlalulah seorang ibu dan anak gadisnya dari kehidupan pemuda itu. Untunglah Pemuda itu tidak mendengarkan beberapa kalimat terakhir dari wanita itu. Pastilah akan lebih sakit lagi bagi Pemuda itu jika mendengarnya.

Pemuda itu bangkit dari kursinya. Roti yang ditangannya sudah habis. Dia makan dengan sangat lahap, maklumlah seharian ini dia belum makan. Sebenarnya sejak tadi dia ingin membeli makanan tetapi dia tahu bahwa uang yang dia miliki sekarang belum tentu cukup untuk perjalanan pulang, karena itu dia memutuskan untuk tidak membeli makanan. Dengan badan yang sudah sedikit bersemangat dia berjalan menuju loket penjualan tiket.

Sesampainya disana Pemuda itu ternyata tidak ikut antri. Dia duduk di lantai kemudian mengambil saputangan yang terselip di celananya. Dia membuka saputangan itu tepat dihadapannya. Dia mengemis.

Limabelas menit telah berlalu tetapi tidak ada selembar ataupun sekeping uang pun yang mengisi saputangannya. Padahal antrian didepan loket itu cukup panajang dan ramai tetapi tidak ada seorangpun yang memberi perhatian kepadanya, malah kadang-kadang terdengar oleh pemuda itu, cemoohan dari beberapa orang yang ikut antri. Awalnya pemuda itu cukup sabar dengan keadaan ini tetapi ternyata hal itu tidak berlangsung lama, amarah yang sedari tadi dipendamnya kini sudah meledak. Dia merasa sangat terhina. Letusannya terdengar bersamaan dengan teriakan yang keluar dari mulutnya.

“Tutup mulut kalian!! Kalau kalian memang ingin tidak ingin memberiku tidak apa-apa, tapi jangan hina aku seperti itu!” ujarnya dengan penuh emosi.

Suasana stasiun mendadak menjadi sunyi setelah teriakan itu. Para pengunjung stasiun menghentikan aktivitasnya masing-masing. Sejenak kemudian mata mereka semua tertuju pada pemuda itu. Seorang petugas keamanan menghampiri pemuda itu dengan menghunus pentungan di tangan kanannya. Dia acungkan pentungan itu tepat dimuka si pemuda.

“Saya tidak ingin ada pembuat onar seperti kamu berada di stasiun ini. Sekarang kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini,” sahut si petugas keamanan.

Pemuda itu terkejut. Kemarahannya mendadak berubah menjadi ketakutan. “Maafkan saya, Pak,” ujarnya sambil melipat kembali saputangannya yang sedari tadi hanya menjadi kain lap lantai stasiun.

Bukan perlakuan adil yang diterima si pemuda dari petugas keamanan itu. Dia ditendang dan dipukuli oleh beberapa petugas keamanan. Dan pada akhirnya dia dilemparkan keluar dari stasiun beserta tas ranselnya. Gumaman dan ocehan dari beberapa orang yang ada di stasiun seperti menjadi cerita pengantar si pemuda untuk terbang melayang dan terlempar dari stasiun. Semuanya merasa setuju dengan apa yang telah dilakukan oleh petugas keamanan tadi, seorang pembuat onar harus disingkirkan dari stasiun.

“Tapi aku bukan pembuat onar, seperti yang kalian tuduhkan. Aku mengemis karena aku butuh uang untuk pulang ke kampung halamanku. Aku tidak akan mengganggu kalian semua,” ujar si pemuda begitu tubuhnya mendarat di bumi. “Jangan kau hina aku, aku juga manusia, bukan binatang,” ujarnya sambil mencoba bangkit. Dia memegang punggungnya yang terasa sangat nyeri.

Stasiun menjadi sunyi kembali. Orang-orang di stasiun hanya termangu melihat semua kejadian itu.

“Aku memang pernah berubah menjadi binatang. Aku pernah mencuri, merampok bahkan membunuh orang. Tapi itu dulu. Aku sudah mendapatkan hukumannya di penjara selama 6 tahun. Kenapa kalian hukum lagi aku. Belum cukupkah penderitaan yang kualami di penjara itu ? Aku ingin kembali ke kodratku. Aku ingin menjadi manusia lagi. Aku ingin berubah. Tapi aku tahu, aku tidak akan pernah berubah jika aku tetap di kota ini. Kota ini sudah menjadi kutukan buatku. Aku ingin pulang. Hanya di kampung halamanku, aku bisa menjadi manusia kembali. Tapi sekarang, uangku tidak cukup untuk pulang. Saat ini aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Dulu hal seperti ini tidak menjadi sebuah masalah bagiku, karena begitu tiada sepeser uang di dompetku, aku bisa merampok atau mencuri. Tetapi aku sudah tidak mau melakukan itu lagi. Yang kubisa hanya mengemis.”

Tidak ada seorangpun yang berbicara dan tidak ada seorangpun yang berani mendekati pemuda itu. Semuanya terlihat serius mendengarkan sebuah dongeng kehidupan dari seorang mantan narapidana. Tiba-tiba sekeping uang logam berdenting didepan pemuda itu. Suaranya yang pelan telah memecah kesunyian sesaat yang lalu.

“Nih terima,” ujar seorang laki-laki dengan perut buncit dan berkumis lebat melintang disepanjang atas bibirnya. Dia memakai jas berwarna cokelat dan membawa tas koper berwarna hitam. Dimulutnya menyala sebatang rokok yang tinggal setengahnya saja. “Lekas pergi dari kota ini.”

“Terima kasih, pak,” ujar pemuda itu sambil berlutut mnghadap orang itu.

Dentingan uang logam itu ternyata menjadi lokomotif bagi uang logam yang lain. Sesaat setelahnya beberapa uang logam menyusul untuk ikut berpesta dentingan. Mereka melompat-lompat dan menggelinding, sebelum akhirnya jatuh mengitari pemuda itu. Wajah mereka bermacam-macam, ada yang seratus, dua ratus atau bahkan lima ratus. Wajah si pemuda berubah menjadi sedikit ceria. Berkali-kali kata TerimaKasih terucap dari mulutnya. Memang hanya itu yang bisa dia lakukan, berlutut dan mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang telah memberinya recehan.

Dua menit kemudian, hujan recehan itu berakhir. Dihadapan pemuda itu sekarang berserakan puluhan uang logam. Harta karun itu dia kumpulkan dan dibungkusnya dengan hati-hati dengan saputangannya. Pemuda itu begitu serius mengumpulkan uang itu sampai-sampai tidak merasakan ada seorang bocah kecil yang mendekatinya.

“Kakak, butuh uang? Nih Ria punya,” ujarnya sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan kepada si pemuda.

Pemuda itu mengangkat kepalanya dan dihadapannya sekarang berdiri dengan anggun malaikat kecil yang telah memberinya sarapan pagi. Pemuda itu tidak berkata apa-apa. Dia merasa mulutnya kaku dan tidak bisa terbuka.

“Ambillah Kak, Ria punya hutang kebaikan kepada Kakek Ria. Tetapi Kakek sudah lebih dulu pergi sebelum Ria bisa membalas kebaikannya. Kemudian suatu malam Ria bermimpi untuk membalas utang kebaikan itu kepada orang yang membutuhkan.”

Tiba-tiba sebuah kekuatan telah melemaskan kembali mulut Pemuda itu dan sekarang dia dapat berbicara kembali. “Kakak punya syarat sama Ria dan Ria harus menyetujuinya jika Ria ingin Kakak menerima uang Ria.”

“Apa itu Kak?”

“Yang pertama, Ria nggak boleh melarang Kakak menangis, terus yang kedua Ria harus membolehkan Kakak memeluk Ria.”

Ria mengangguk dan bersamaan dengan itu air mata pemuda itu meleleh. Dia memeluk Ria, malaikat kecilnya dengan sangat erat.

“Terima kasih malaikatku,” ujarnya sambil melepaskan pelukannya. Dia menerima uang itu dari Ria. Ria hanya tersenyum dan kemudian dia berbalik memandang Ibunya yang sedari tadi tidak berhenti menangis.

“Ibu jangan menangis. Ria betul khan Bu, Kakak itu bukan orang jahat.”

Ibu dan anak itu pergi untuk yang kedua kalinya dari hadapan Pemuda itu. Sesaat sebelum naik kereta api, Ria sang gadis kecil itu menoleh dan memandangi wajah si pemuda itu untuk terakhir kalinya. Didalam kereta gadis kecil itu berdoa dan berharap suatu saat nanti dia dapat bertemu kembali dengan pemuda itu. Begitu juga dengan pemuda itu, dia juga berharap dapat bertemu lagi dengan malaikat kecilnya itu suatu saat nanti.

Harapan yang nantinya akan dikabulkan oleh Tuhan karena 10 tahun setelah kejadian hari ini, Tuhan akan mempertemukan pemuda itu dengan Ria di sebuah kota yang belum pernah terbayang dalam pikiran mereka saat ini. Tetapi pertemuan mereka saat itu sangatlah berbeda dengan pertemuan mereka sekarang. Sepuluh tahun telah merubah banyak hal pada diri mereka masing-masing dan pada saat dipertemukan nanti, peran mereka berganti. Si pemuda nantinya akan menjadi malaikat bagi Ria seseorang yang pernah menjadi malaikatnya. Ria berubah menjadi gadis liar dan tenggelam dalam dunia gelap prostitusi. Wafatnya seorang Ibu dan kebutuhan untuk dapat tetap hidup telah membuat Ria berubah. Kota yang indah itu nantinya akan menjadi sebuah tempat pertemuan seorang malaikat dengan malaikatnya.

* Cerpen ini dibuat di Surabaya, sekitar bulan September 2002, atau sudah lebih dari 12 tahun yang lalu. Cerpen ini sudah pernah di publish di blog lamaku yang sudah tidak update lagi. Sekedar di re-publish untuk mengenang tulisan-tulisanku masa itu.

5 thoughts on “Suatu Pagi Di Stasiun

  • 12/12/2014 at 05:13
    Permalink

    Wiiih, Surya berfiksi… Keren Sur. Gw nyerah dah kalo harus nulis fiksi. Hahahaha..

    Reply
  • 12/12/2014 at 13:06
    Permalink

    Suryaaaa…
    Apa kabar?
    Selain jago bikin cerita perjalanan dan foto-foto, ternyata Surya juga punya bakat buat bikin cerita fiksi yang bikin saya penasaran dengan endingnya.
    Bener kata Mila, tadinya ini dikirain cerita betulan dengan penyamaran fisik disana-sini…hihihi…padahal masa iya sih Surya sampe nangis di stasiun?
    😀

    Reply
  • 12/12/2014 at 13:09
    Permalink

    Malaikat ditolong malaikat…
    Kita memang tidak tahu bagaimana jalan hidup kita ke depan ya Sur, jadi berbuat yang terbaiklah selagi ada kesempatan, karena siapa tahu di masa datang, justru kita yang memerlukan pertolongan.
    Gimana pesan moral saya ini?
    Ok kaaan…
    😉

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*