Rajutan Mimpi bernama Belitung

————

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”

— Andrea Hirata —

————

Enam tahun lalu, simpul-simpul mimpi itu mulai terajut perlahan demi perlahan. Semua berawal dari sepasang bola mataku yang mengirimkan rekaman demi rekaman adegan yang tersaji dihadapanku ke otakku. Oleh pusat pengendali sarafku, rajutan mimpi yang belum sempurna itu disimpan dengan nama file Belitung di salah satu relung otakku.

Pantai Tanjung Tinggi, Belitung
Pantai Tanjung Tinggi, Belitung

Enam tahun lalu. Ketika itu aku terduduk nyaman di sebuah sofa empuk berwarna merah, di ruangan besar yang temaram dan dingin. Ada puluhan lampu terpasang di atap ruangan, tapi hanya sebagian kecil saja yang dinyalakan. Dihadapanku, terhampar layar putih yang cukup lebar, hingga hampir menutupi satu sisi dinding.

Enam tahun lalu, sebuah lakon diputar di atas permukaan kain yang terbentang itu. Adegan dimulai dengan menampilkan seseorang berusia sekitar 30 tahunan yang tengah menumpang sebuah bus. Pandangannya terlempar ke arah panorama semak belukar kering yang tumbuh liar di tepi jalanan.

Dikisahkan, seseorang itu bernama ikal. Ketika itu, dia tengah dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya. Dari latar didalam sebuah bus, tiba-tiba ikal membawaku menuju masa lalu, tepatnya di tahun 1974. Sebuah masa di mana saat itu dia masih berusia 7 tahun. Sebuah masa dimana dia akan memasuki masa sekolah.

Dengan dibonceng naik sepeda angin oleh sang Ayah, Ikal diantar menuju sebuah sekolah. Cemooh dan gunjingan dari tetangga serta rekan kerja sang Ayah mengiringi perjalanannya untuk memulai kewajibannya menuntut ilmu. Beberapa menit kemudian, sampailan dia di depan sebuah bangunan tua yang seluruh bahan bakunya terbuat dari kayu. Bangunan itu tampak reyot, bahkan boleh dibilang nyaris roboh kalau saja tidak ada kayu-kayu peyangga yang terpasang di empat sisi bangunan. Itulah bangunan sekolah yang akan dia tempati untuk belajar hingga 6 tahun kedepan.

Seorang laki-laki tua dan seorang wanita muda menyambut kedatangannya dan ayahnya dengan raut muka penuh kegembiraan. Laki-laki tua itu adalah Pak Harfan, kepala sekolah SD Muhammadiyah Gantong, Belitung. Sedangkan sang wanita muda itu adalah calon guru Ikal bernama Bu Muslimah.

Setelah saling berucap salam, mereka berdua mempersilahkan Ikal dan ayahnya masuk ke dalam satu-satunya ruangan kelas di sekolah itu. Didalam ruangan ternyata sudah dipenuhi oleh 9 calon siswa yang diantar oleh orang tua/wali-nya masing-masing, kecuali satu orang bocah kecil bernama Lintang. Dia datang sendirian karena ayahnya tidak bisa mengantarnya di hari pertamanya masuk sekolah karena harus melaut.

Tak terasa waktu pun beranjak siang. Jarum jam menunjukkan hampir pukul 10 siang. Suasana di dalam ruangan kelas mulai terasa gerah. Apalagi, meski didalam ruangan, sinar matahari masih dapat dengan leluasa masuk kedalam ruangan karena beberapa genteng yang terpasang di atap kelas sudah hancur dan hingga kini belum ada penggantinya.

Wajah Pak Harfan dan Bu Muslimah mulai cemas. Hari itu adalah hari yang sangat penting bagi mereka berdua dan juga bagi SD Muhammadiyah Gantong. Hari itu adalah hari pertama tahun ajaran baru. Sekaligus menjadi hari penentuan nasib bagi sang sekolah. Jika mereka gagal mendapatkan minimal 10 murid di tahun ajaran baru ini maka tamat sudah kiprahnya di dunia pendidikan. Sekolah harus ditutup untuk selamanya.

Ketika harapan sudah hampir sirna dan mimpi 9 orang bocah kecil untuk menuntut ilmu nyaris kandas, mukjizat pun terjadi. Seorang anak ajaib bernama Harun menyelamatkan cita-cita mereka. Senyum penuh kelegaan pun terukir di wajah Pak Harfan dan Bu Muslimah. Kegembiraan pun tumpah di hari itu.

Setelah itu, adegan demi adegan pun terjadi, hingga sampailah di sebuah episode dimana Ikal dan sembilan orang kawan-kawannya tengah bermain-main di sebuah pantai yang dipenuhi bebatuan hitam pekat yang sangat besar. Batu-batu itu seperti menyembul ke permukaan diantara butiran pasir pantai yang putih dan lembut seperti tepung. Air di pantainya terlihat sangat jernih, sehingga membuat ikal dan beberapa kawannya tergoda untuk menceburkan diri ke dalamnya.

Pantai Tanjung Tinggi, Belitung
Pantai Tanjung Tinggi, Belitung

Saat sore menjelang, dari kaki langit di ufuk timur, muncul sebuah guratan berbentuk setengah lingkaran yang memiliki tujuh warna disingkat mejikuhibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu). Dengan takjub dan penuh kekaguman, Ikal dan kesembilan temannya menatap lukisan agung karya Sang Pencipta alam itu. Panorama sore itu pulalah yang memberi inspirasi bagi Bu Muslimah untuk memberikan nama bagi murid-muridnya yang luar biasa itu. Sebuah nama yang sangat indah. Laskar Pelangi.

Enam tahun lalu.

Dan kini, setelah enam tahun berlalu, aku pun berhasil menuntaskan simpul terakhir dari file rajutan mimpiku bernama Belitung itu. Aku memenuhi impianku untuk bertamu ke bumi Allah yang kaya akan timah itu. Meskipun hanya dalam waktu dua hari saja, dua kali dua puluh empat saja, tapi itu sudah cukup untuk membuatku tercengang, berteriak takjub dan menangis terharu.

Dan kini, setelah enam tahun berlalu, aku pun berucap lirih, Salah satu keajaiban dunia itu adalah Belitung.

4 thoughts on “Rajutan Mimpi bernama Belitung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*