Suatu Ketika Di Sibolga

———-

“Sibolga, Negeri Berbilang Kaum”

———-

Pada sekitar abad ke-19, ketika Belanda masih menguasai wilayah nusantara, saat Indonesia masih bernama Dutch East Indies alias Hindia Belanda, ada satu kota yang memegang peranan penting dalam hal perdagangan di pesisir barat Sumatera, terutama bagi karesidenan Tapanuli.

Pemandangan di Pantai Sibolga
Pemandangan di Pantai Sibolga

Kota itu tidak terlalu besar sebenarnya, tetapi kondisi geografis membuatnya sangat pas untuk menjadi sebuah bandar atau pelabuhan. Meskipun berbatasan langsung dengan Samudera Hindia yang dikenal dengan ombaknya yang ganas, kondisi perairan di kota ini tidak terlalu berombak. Bahkan bisa dibilang sangat tenang.

Ini tak lain karena kota tersebut terletak pada sebuah kawasan teluk bernama Teluk Tapian Nauli. Selain itu, pada jarak sekitar 92 mil laut di sisi barat kota, terdapat pulau besar bernama Nias. Pulau Nias inilah yang menjadi tameng kota tersebut dari ganasnya ombak Samudera Hindia. Selain Nias, terdapat beberapa pulau kecil yang berjarak cukup dekat dengan kota, yaitu Pulau Poncan Gadang, Poncan Ketek, Pulau Sarudik, Pulau Panjang serta Pulau Mursala.

Kota itu bernama Sibolga. Saat ini, secara administratif, Kota Sibolga masuk dalam wilayah propinsi Sumatera Utara.

Untuk menuju kota Sibolga, bisa melalui jalan darat sejauh sekitar 350 km dari kota medan dengan waktu tempuh kurang lebih 10 hingga 11 jam. Jika ingin lebih cepat, bisa melalui jalur penerbangan dengan hanya menempuh sekitar 45 menit waktu perjalanan dari bandara Kuala Namu Medan. Ada tiga maskapai penerbangan yang melayani jalur Kuala Namu Sibolga, yakni Wings Air, Sky Aviation dan Susi Air. Dan dengan jalur inilah, aku mencapai Sibolga.

Selama perjalanan mengangkasa dari Kuala Namu hingga Sibolga, aku disuguhi pemandangan spektakuler berupa kaldera danau toba yang sangat luas terhampar. Sayangnya, aku tidak bisa mengabadikan dalam kamera karena langit saat itu berawan tebal ditambah dengan kondisi jendela pesawat yang kusam.

Pemandangan Sibolga dari udara
Pemandangan Sibolga dari udara

Sekitar dua puluh menit sebelum mendarat, mulai terlihat bagaimana bentuk geoografis Sibolga dan Kabupaten Tapteng yang berupa teluk itu dengan pulau-pulau keci yang berceceran di sekitarnya. Ah, lagi-lagi aku dihadapkan pada pemandangan nusantara yang luar biasa ini.

Dan ketika pesawat Wings Air tipe ATR 72-500 mendarat dengan mulus di bandara Sibolga, sekali lagi, aku dihadapkan pada hal yang istimewa dari bumi nusantara tercinta ini. Kali ini berupa sebuah bandara semi perintis bernama lengkap Bandar Udara Ferdinand Lumban Tobing. Ini adalah pengalaman pertamaku mendarat di bandara semi perintis. Aku bilang semi, karena setahuku, bandara yang benar-benar perintis itu landasannya masih terbuat dari tanah, seperti bandara-bandara yang ada di Papua atau Kalimantan yang pernah ku saksikan di televisi. Landasannya juga tidak terlalu panjang sehingga hanya bisa didarati pesawat kecil saja. Ruangan terminalnya kecil, bahkan beberapa diantaranya tidak ada. Tidak ada jarak antara bandara dengan lingkungan, sehingga banyak warga sekitar bandara yang nongkrong atau bahkan berjualan di sekitar landasan pacu.

Sedangkan landasan di bandara Sibolga ini sudah terbuat dari beton dan aspal. Juga sudah bisa didarati pesawat berbadan sedang seperti ATR meskipun belum bisa untuk pesawat bertipe Boeing 737 atau Airbus A320. Bandara juga sudah dilengkapi bangunan terminal yang cukup memadai.

Wings Air ATR72-500 di Bandara Sibolga
Wings Air ATR72-500 di Bandara Sibolga

Begitu pesawat sudah berhenti di apron, datanglah petugas bagasi yang membawa sebuah gerobak dengan cara didorong. Semuanya serba manual.

Petugas Bagasi di Bandara Sibolga
Petugas Bagasi di Bandara Sibolga
Bagasi Service di Bandara Sibolga
Bagasi Service di Bandara Sibolga
Bandara Sibolga
Bandara Sibolga
Bentor alias Becak Motor di Bandara Sibolga
Bentor alias Becak Motor di Bandara Sibolga

Setelah semua bagasi masuk ke gerobak, petugas itu membawanya ke terminal kedatangan. Mereka membagikan bagasi melalui sebuah lubang yang diberi papan untuk mengalirkan barang dari gerobak ke penumpang. So simply. Benar-benar kesederhanaan yang membuatku takjub. Di ruangan kedatangan, terdapat poster yang menunjukkan beberapa jenis pesawat yang pernah mendarat di bandara ini. Serta tak lupa berbagai macam potensi wisata yang terdapat di Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah yang didominasi oleh wisata bahari.

Bandara Sibolga ini sejatinya terletak di kecamatan Pinangsori yang masuk wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah. Dari sini, masih diperlukan waktu sekitar 1.5 hingga 2 jam lagi untuk sampai di kota Sibolga.

Kota Sibolga sendiri tidak terlalu besar, hanya sekitar 10.77 km2 dengan dikelilingi wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah di sisi timur, utara dan selatan. Hanya butuh waktu sehari penuh untuk menjelajahinya. Karena kesibukan tugas, aku tidak terlalu banyak menjelajah kota. Hanya diwaktu sore hingga malam saja sambil berburu kuliner dengan mengandalkan sepasang kakiku ini.

Dari balik kacamata, aku melihat kota Sibolga ini tertata cukup rapi dengan jalanan yang membagi kota menjadi kotak-kotak. Meski kontur tanahnya tidak datar dan sedikit berbukit, tetapi semuanya tampak teratur dan enak dipandang. Hal ini seperti menunjukkan bahwa Sibolga adalah kota yang sebenarnya sudah berdiri cukup lama dan warisan dari masa kolonial. Dan memang, pada masa kolonial dulu, Sibolga sempat menjadi pusat pemerintahan Karesidenan Tapanuli sebelum akhirnya berpindah ke kota Padang Sidempuan.

Gapura Sibolga Square
Gapura Sibolga Square

Sepintas, Sibolga mengingatkanku pada kota Malaka di Malaysia. Terutama di kawasan Sibolga Square yang merupakan pusat kota. Penampilannya seperti kawasan Jonker Street, sebuah area yang sangat tersohor di Malaka. Hanya saja yang membedakan, jika Malaka penuh dengan turis, terutama di akhir pekan, Sibolga tidak terlalu. Bahkan selama di Sibolga, aku tidak menemui satu turis pun.

Hal yang paling tidak bisa kulupakan dari Sibolga tentu saja kulinernya. Disini ada satu rumah makan yang sangat terkenal dan tidak pernah sepi, yaitu Rumah Makan Apoek. Menu andalan di rumah makan ini adalah kare kambing yang rasanya maknyus. Bumbunya mengingatkanku pada bumbu nasi kandar ala penang, tetapi dengan aroma bumbu yang lebih kuat. Sayangnya saat datang ke rumah makan ini, aku tidak membawa kamera, sehingga tidak sempat memotretnya. Tapi yang pasti, ingatan akan rasa itu terpatri dengan baik di syaraf ini.

Dan bagi pecinta kopi, jangan lupa untuk singgah di Kedai Kopi Kok Tong yang berada di Sibolga Square. Sebenarnya kedai kopi ini bukan asli Sibolga, tetapi cabang dari Pematang Siantar. Secara umum kopi disajikan panas, tapi bagi yang suka dingin juga bisa. Minum kopi saat malam tiba dengan ditemani camilan ringan pisang ataupun kentang goreng menjadikan badan terasa sangat nyaman. Hmm

Kopi Kok Tong, Sibolga
Kopi Kok Tong, Sibolga
Kopi Kok Tong, Sibolga
Kopi Kok Tong, Sibolga

Berbicara tentang wisata, potensi wisata bahari adalah andalan dari kota Sibolga serta Kabupaten Tapanuli Tengah. Disini ada beberapa pulau yang konon mempunyai pantai yang sangat indah serta alam bawah laut yang masih alami. Laut dan pantai disini masih sangat bersih dan sepi karena masih jarang wisatawan yang menjelajah wilayah Teluk Nauli ini.

Pantai di Sibolga
Pantai di Sibolga

Salah satu pulau yang menjadi andalan disini adalah Pulau Mursala, yang pernah menjadi lokasi syuting dari film King Kong besutan sutradara Peter Jackson yang rilis di tahun 2005. Di pulau ini pula terdapat air terjun unik yang aliran airnya langsung jatuh ke laut.

Sayangnya, karena agenda kerja yang penuh, aku benar-benar tidak sempat untuk menikmati salah satu dari pantai ataupun pulau yang berserakan di sekitar teluk nauli ini. Lagipula kedatanganku di Sibolga di bulan Januari ini bertepatan dengan musim hujan, sehingga kurang pas memang untuk berwisata laut. Kecewa sebenarnya, karena sudah jauh-jauh datang ke sini. Tapi aku yakin suatu ketika aku akan berkesempatan datang kembali ke Sibolga dan berkunjung ke potensi wisata yang belum tergali maksimal untuk kukabarkan pada dunia. Semoga.

13 thoughts on “Suatu Ketika Di Sibolga

  • 24/02/2014 at 16:00
    Permalink

    aaaa kereeenn.. sibolga, selama ini cuman aku denger2 aja dari sopir2 angkot & metromini

    “Ha ha ha, gitu ya Mil”

    Reply
  • 01/03/2014 at 11:38
    Permalink

    Suryaaaa…
    inih enak banget sih kerjaan Surya bisa jalan jalan teruuuus…hihihi…
    Dan kali ini rupanya jalan jalan ke Sibolga yah…
    Tapi itu kok serem banget yah?
    Ternyata harus 10 – 11 jam via darat dari Medan…
    Dan setelah sampai ke airport pun…harus 1.5 – 2 jam lagi menuju Sibolga nya?
    Inih harus berapa banyak antimo yang kuminum Suryaaaaa…hihihi…
    *selalu aja kesitu larinya*

    “Wah, seneng tuh pabrik antimo kalau mbak erry mau perjalanan. Laris manis, hi hi hi”

    Reply
  • 01/03/2014 at 11:40
    Permalink

    Tapi sepertinya semua perjuangan untuk mencapai kesana sepadan yah Suryaaa…
    Sayang banget cuacanya gak mendukung yaaah..jadi poto nya berasa kurang lengkap 🙂

    “Cuaca gak terlalu mendukung, tugas dinas juga padat mbak, jadi ga sempat jalan-jalan. Itu aja motonya dari mobil”

    Reply
  • 01/03/2014 at 11:42
    Permalink

    Dan airport nya unik banget yah Suryaaaa…
    pake sistem gerobak dan manual…hihihi…

    Ehm, sebenernya sih rada kesian juga sama bagian yang tukang dorong2 bagasi ituh yaaaah…

    “Yah, namanya tugas mbak :). Lagian bandara ini kan ga terlalu sibuk, paling2 sehari maksimal 4 keberangkatan dan 4 kedatangan”

    Reply
  • 02/03/2014 at 19:42
    Permalink

    Wiiiiiii…tahun 1994 – 1997, saya sering banget ke Sibolga, Sur…naik mobil dari Kabanjahe itu perlu waktu 8 jam lo, mantap pol pokoknya!
    Dulu, belum ada bandara yang beroperasi komersial seperti sekarang.
    Mau tidak mau, naik mobil adalah pilihan.
    Nginep dulu di tarutung, baru deh besok subuhnya kita menempuh waktu 2 jam menuju Sibolga yang jalannya berkelok-kelok luar biasa.
    Ah, ah…makasih suidah diingatkan kembali tentang kota ini yaaa…
    🙂

    “Wah wah, tahun 1994 – 1997, mbak Irma sudah sampai Sibolga ya. Waktu itu suasana di Sibolga seperti apa ya?”

    Reply
  • 02/03/2014 at 19:44
    Permalink

    Oyaaa, saya suka minum kopi Kok Tong di pematang Siantar.
    Diminum sambil dibawa pulang sih, jadi pake plastik dan sedotan kayak es teh manis gitu deh…hehe, nggak ada keren-kerennya Sur, tapi yang penting kan kenikmatan kopinya…
    😀

    “Oh iya mbak, he he he kok lucu gitu, minum kopi di plastik :D”

    Reply
  • 02/03/2014 at 19:46
    Permalink

    Malaaaaaaaa…apa kabaaaaaarrr?
    Udah lulus-kah?
    😉

    Reply
  • 02/03/2014 at 20:26
    Permalink

    Eh, bukan Mala ternyata ya, Sur?
    Tapi Mila…duh, maafkanlah, ngetik dan bacanya tanpa kacamata soalnya 🙁

    Reply
  • 14/03/2014 at 11:37
    Permalink

    jalan2 abidin itu emang asoyyy
    atas biaya dinas.
    hihihi

    “Iya *uhuk* :D”

    Reply
  • 24/04/2014 at 11:51
    Permalink

    Suryaaaaa…hampir selama 3 tahun, saya beberapa puluh kali ke kota ini…
    Institusi atasan kami waktu itu, ada di Sibolga. Jadi jarak Kabanjahe-Sibolga yang 5 jam itu harus dijalani dengan tabah, biarpun kelokan jalan antara Tarutung-Sibolga itu bener-bener minta ampun saking banyaknya!
    Mabuk?
    Alhamdulillah, saya bukan orang yang suka mabuk darat *lirik Erry*
    😀
    Tapi postingan Surya ini, jadi bikin saya inget tentang kota Sibolga lagi. Dulu belum ada yang square-square itu, kopi Kok Tong-pun hanya ada di Pematang Siantar, sedangkan rumah makan Apoek…duh, kayaknya saya belum pernah kesana deh…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*