Singgah di Shaba Swagata Blambangan

Shaba Swagata Blambangan, itulah nama pendopo Kabupaten Banyuwangi yang terletak di jantung kota Banyuwangi. Sebelum ke desa kemiren, aku dan rombongan dblogger menyempatkan singgah di sana untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Desa Kemiren. Sayangnya, ketika berada disana kami tidak bisa bertemu dengan Bupati Banyuwangi, Bapak Abdullah Azwar Anas dikarenakan beliau ada kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan.

Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi
Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi

Karena bupati tidak berada di tempat, maka kami langsung menuju halaman belakang pendopo. Suasana hijau langsung menyambut kedatangan kami. Karena merasa lelah, aku langsung meletakkan tas dan merebahkan diri di salah satu kursi yang terdapat di teras belakang pendopo. Teras yang sangat luas, mungkin hampir sama dengan ukuran rumahku, he he he.

Di teras itu terdapat banyak sekali kursi dan meja kayu dengan bentuk yang asimetris. Ada yang berbentuk bangku panjang, bangku bundar dan ada juga yang berbentuk kursi pada umumnya. Di dinding teras tertempel peta wisata Banyuwangi dengan skala sedang.

Menurut keterangan dari Ardian Fanani alias Mas Ivan, Ketua Paguyuban Jebeng Tholik (Cak dan Ning-nya Banyuwangi), sekaligus pemenang tahun 1999, bangunan rumah di pendopo, termasuk terasnya adalah bangunan peninggalan Belanda. Beberapa sisi sudah direnovasi tapi tanpa menghilangkan bentuk aslinya.

Ardian Fanani a.k.a Ivan

Di tengah halaman belakang dibangun sebuah Gazebo yang cukup besar dan dilengkapi dengan tempat duduk melingkar. Di sekeliling Gazebo tumbuh pohon yang sangat rimbun, sehingga udara disana sangat segar, terutama di siang hari.

Pendopo yang rindang di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi
Pendopo yang rindang di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi

Di ujung timur laut halaman belakang, terdapat sebuah rumah adat yang bentuknya sangat khas. Itulah rumah tikel, rumah adat kampung Using, penduduk asli Banyuwangi. Salah satu yang istimewa dari rumah tikel adalah menggunakan rangka kayu yang dirangkai tanpa paku, melainkan menggunakan teknik kuncian antar kayu. Sebuah rumah yang sangat mengandung sejarah dan peradaban masa lalu.

Contoh Rumah Tikel di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi
Contoh Rumah Tikel di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi
Desain Rumah Tikel yang Tanpa Paku
Desain Rumah Tikel yang Tanpa Paku

Sayangnya, sekarang ini banyak sekali rumah tikel di Banyuwangi ini yang dijual. Beberapa diantaranya dijual kepada pengusaha Bali. Tidaklah mengapa jika setibanya di Bali, rumah tikel ini dirangkai kembali sehingga nilai kebudayaannya tetap terjaga, tapi yang membuat miris dan sedih, banyak dari pembeli rumah tikel yang hanya ingin kayu rangkanya saja untuk dijadikan kerajinan kayu.

Gelagat yang kurang baik ini akhirnya direspon cepat oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Demi melestarikan keberadaan rumah tikel di seluruh Banyuwangi, Bapak Anas memberikan insentif dan subsidi bagi warganya yang tetap mempertahankan keaslian rumah tikel miliknya.

Bagian menarik dari pendopo Shaba Swagata Blambangan adalah sisi timur dan barat pendopo. Disana terdapat taman yang bentuknya miring sekitar 60 derajat. Taman itu tampak tumbuh subur menghijau karena ditumbuhi oleh rerumputan yang dirawat dengan baik. Di atas taman, terdapat beberapa bangunan kotak persegi empat (mirip sumur, tapi kotak) dengan dinding bebatuan yang menjulang setengah meter dari permukaan taman. Sumur kotak itu tidak berlubang di tengahnya karena ada sebuah lempengan kaca setebal sekitar 2 inch yang menutupinya.

Ruang Tamu / Guest House di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi
Ruang Tamu / Guest House di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi

Kalau dilihat secara kasat mata, memang tidak ada yang istimewa dengan taman itu kecuali bentuknya yang miring. Tapi tahukah anda, bahwa taman miring itu ternyata adalah atap dari sebuah guest house. Yap, sebuah guest house. Dibawah taman miring itu, terdapat sebuah hunian yang sangat nyaman.

Ruang Tamu / Guest House di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi
Ruang Tamu / Guest House di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi

Kami bisa masuk kedalam ruangan tersebut, karena memang tidak ada pintu untuk masuk kedalam bangunan dibawah taman itu. Tetapi kami tidak bisa masuk ke dalam salah satu dari tujuh kamar yang ada, karena saat itu semua kamar sedang dikunci. Sayang sekali memang, karena menurut informasi dari Mas Ivan, interior di dalam kamar sangat bagus, tidak kalah dengan interior hotel berbintang. Mupeng dot com pengeng ngelihat.

Ruang Tamu / Guest House di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi
Ruang Tamu / Guest House di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi
Ruang Tamu / Guest House di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi
Ruang Tamu / Guest House di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi

Di ujung utara lorong guest house sepanjang kira-kira 70 meteran, terdapat dapur, ruang makan, dan ruangan yang sepertinya di setting untuk tempat berkumpul karena terdapat beberapa potongan batang pohon yang dirupakan sebagai kursi dan juga meja. Saat aku kesana, ruang makan itu tampak bermandikan cahaya matahari yang datang dari sebuah lubang kotak bertutupkan kaca di atasnya. Ooo, ternyata inilah fungsi dari sumur kotak yang seperti tumbuh dari atas taman tadi, sebagai penerang alami dari ruangan. Sumur kotak ini tidak hanya terdapat pada ruang makan saja, tetapi terdapat di masing-masing kamar.

Ruang Tamu / Guest House di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi
Ruang Tamu / Guest House di Shaba Swagatha Blambangan, Banyuwangi

Bangunan guest house ini memang sengaja dibangun dengan konsep Go Green atau kembali ke alam. Sang Bupati Anas memang suka dengan sesuatu yang hijau dan berbau alam. Jika bagian barat dimanfaatkan sebagai guest house, bunker bagian timur dimanfaatkan sebagai ruangan kerja dan rapat.

Sejak dulu memang bagian timur dan barat pendopo ini dimanfaatkan untuk Guest House. Hanya saja, dulu bentuknya ya seperti rumah pada umumnya. Pada masa kepemimpinan bupati Anas sekarang ini, rumah guest house itu dibongkar dan dibangun ulang hingga menjadi bentuk seperti sekarang ini. Selain membongkar guest house lama, bupati Anas juga menghancurkan tembok tinggi yang berada di belakang guest house sehingga sekarang menjadi tinggal setinggi sekitar 3 meter saja, atau sama dengan tinggi guest house baru ini.

Maksud dari pembongkaran ini adalah untuk menghilangkan eksklusifitas pendopo sehingga tidak ada jarak lagi antara pendopo dengan warga sekitar. Selain dengan menghancurkan dinding, usaha lain yang dilakukan bupati Anas untuk lebih dekat dengan warganya adalah dengan mengadakan open house di pendopo seminggu sekali. Hmm, super sekali. Semoga bukan sekedar pencitraan ya pak 🙂

Setelah beristirahat selama sekitar 2 jam di pendopo, perjalanan kami pun berlanjut ke Kampung Adat Using, Kemiren. Hmm, belum apa-apa sudah tercium harum bau kopi di angan-angan ini. Mau tau kelanjutan kisah perjalanan dblogger di Banyuwangi, tetap setia ikuti blog ini ya.

One thought on “Singgah di Shaba Swagata Blambangan

  • 04/03/2014 at 08:29
    Permalink

    Ah, cuman bisa menghela nafas, Sur…kenapa saya jadi pengen ke Banyuwangi ya?

    “Ayo ke Banyuwangi mbak. Cuaanntiiikkk bgt kabupaten di ujung timur Jawa itu”

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*