Malam Minggu ala Jogja

Konon katanya tidak ada malam yang paling indah selain malam minggu. Apalagi di masa beberapa tahun silam, ketika hari kerja dalam seminggu ada enam hari dan menyisakan hari Minggu sebagai satu-satunya penguasa hari libur. Kini dengan sistem lima hari kerja, malam sabtu seolah memiliki rasa yang sama seperti malam minggu. Tetapi entah mengapa, malam minggu masih terasa lebih sakral daripada malam sabtu. Ya, setidaknya sampai detik ini.

Salah satu kota yang asyik buat menikmati malam minggu tentu saja Jogja. Alun-alun selatan, utara, kawasan malioboro hingga tugu penuh dengan manusia. Wisatawan maupun warga lokal Jogja tumpah ruah disana.

Sepanjang kawasan itu disulap menjadi tempat nongkrong yang dalam bahasa Jogja dikenal dengan Angkringan. Jangan membayangkan angkringan itu sebuah caf yang lengkap dengan pendingin ruangan, lampu temaram, kepulan asap rokok serta irama akustik nan klasik dari musisi professional. Yang ada disana hanyalah selembar karpet atau tikar sebagai alas agar celana tidak kotor. Tidak ada pendingin ruangan, tetapi kita bisa menikmati semilir angin yang mengangkasa di atmosfer kota Jogja. Tidak akan ada pula irama akustik dari musisi caf professional, tetapi jangan khawatir, akan banyak sekali musisi jalanan yang mendatangi kita. Mereka akan membawakan dua hingga tiga buah lagu, lalu setelah itu pergi dan tak lama kemudian datang musisi yang lain. Jikalau beruntung, kita bisa menikmati banyak alunan musik dari berbagai genre. Kita juga bisa meminta mereka untuk menyanyikan lagu yang kita pilih. Tapi jika tidak beruntung, kita bisa mendengarkan lagu yang sama berkali-kali. Maklumlah, lagunya lagi nge-hits.

Dan untuk menikmati malam minggu ala Jogja itulah kami rela untuk transit semalam di Jogja.

Start setelah sholat Isya dari hotel, mobil erti menembus kemacetan Jogja yang sangat luar biasa di malam minggu ini. Tujuan pertama kami malam ini adalah makan malam dengan bakmi Jogja Pak Pele yang sudah cukup termahsyur namanya. Lokasinya berada di alun-alun utara. Sebenarnya rencana ini bisa dibilang sebuah perjudian, karena konon warung bakmi ini terkenal sangat ramai, apalagi di malam minggu. Benar saja, begitu kami tiba di tujuan, antrian ternyata sudah cukup ramai. Bangku yang tersedia di sana sudah tidak cukup lagi menampung pengunjung yang membludak. Beberapa dari pengunjung bahkan sudah duduk lesehan di pelataran alun-alun utara dengan menggunakan tikar atau terpal sebagai alas.

Dengan sigap adit mendata pesanan kami semua. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan berita bahwa kami harus menunggu kurang lebih satu jam. Gilakkkk.

Dengan kondisi perut yang sudah cukup lapar, mengantri beberapa menit saja rasanya sudah seperti berjam-jam, apalagi ini, satu jam. Di tengah kondisi yang sangat terjepit dan melilit ini, tiba-tiba aku melihat sebuah oase di tengah alun-alun. Samar-samar, aku melihat sebuah benda beroda. Makin kudekati, semakin jelas aku melihat benda itu. Sebuah gerobak. Semakin dekat, semakin jelas aku melihat pemandangan indah didalam gerobak. Beberapa bungkusan kecil sebesar kepalan tangan tergeletak penuh selera disana.

Oh nasi kucing, dan yap, tanpa sadar, sudah dua lembar kertas bungkus tertumpuk rapi didepanku. Ingin rasanya mengambil bungkusan yang ketiga, tapi mendadak aku teringat bahwa aku harus menyisakan space di rongga perutku untuk menampung si bakmi jogja.

Dengan kondisi perut yang sudah cukup relax, maka kami pun mulai bisa berkompromi dengan penantian ini. Bahkan kami mulai bisa menikmatinya.

Sesekali para musisi jalanan datang untuk mendendangkan beberapa buah lagu. Tapi kami tidak beruntung malam itu, dari empat grup yang mendatangi kami, semuanya menyanyikan lagu yang sama, Sandiwara Cinta dari Revpublik.

Dan di sela-sela para musisi jalanan itu, terdapatlah seorang pria mendatangi kami dan meminta ijin untuk mempertunjukkan skill sulap dan lawaknya. Tapi, kami menolaknya, karena kami saat itu mempunyai topik pembicaraan yang lagi seru. Sayang sekali sebenarnya.

Setelah mendapatkan penolakan dari kami, pria itu mencoba kembali peruntungannya dengan mendatangi beberapa rombongan lain yang juga tengah menunggu pesanan. Dan akhirnya ada juga yang mau menerimanya. Dari jauh kami melihat, sepertinya hiburan yang ditawarkan pria itu cukup menarik. Gelak tawa dan kebahagiaan terpancar dari wajah anggota rombongan yang dihiburnya. Hmm, asyik juga sepertinya, mungkin lain kali kami akan memberikan ijin yang dimintanya tadi.

Kurang dari sejam, pesanan kami pun datang. Dan kurang dari sepuluh menit, semuanya sudah habis tak bersisa. Hmm, bakmi jogja memang nikmat. Salah satu perbedaan bakmi jogja dengan bakmi-bakmi lainya adalah proses memasaknya yang bukan menggunakan kompor gas ataupun minyak, melainkan menggunakan arang. Mungkin salah satunya dari inilah yang membuat bakmi jogja memiliki cita rasa yang berbeda dari bakmi-bakmi lainnya. Penggunaan arang sebagai bahan bakar kompor bukan hanya ada pada warung bakmi jogja yang ada di propinsi DI Yogyakarta saja, tetapi di seluruh warung-warung bakmi jogja yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Dari bakmi pak pele, kami melanjutkan malam dengan nongkrong di angkringan Kedaulatan Rakyat (KR) yang terletak di utara stasiun Tugu, tepatnya di JL Mangkubumi. Secangkir teh susu hangat menjadi teman yang menghangatkan suasana ngobrol malam itu. Ingin rasanya menikmati seutuhnya malam panjang yang sangat menyenangkan di Jogja saat itu, tetapi mengingat besok, kami akan melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya, kami pun mengakhiri acara nongkrong tepat jam 12 malam. Istirahat yang cukup sangat diperlukan, karena sisa perjalanan sekitar 8 hingga 9 jam ke Surabaya bukan perjalanan yang singkat. Keluarga tercinta sudah menunggu dengan penuh harap di rumah dan pastinya ingin segera bertemu kembali.

5 thoughts on “Malam Minggu ala Jogja

  • 27/11/2013 at 10:20
    Permalink

    ngobrol2 ngalur ngidul sambil selonjoran di angkringan emang bikin lupa waktu yak hahaha…

    “Betul Mil :)”

    Reply
  • 29/11/2013 at 06:52
    Permalink

    Wiiiiii….makan bakmi Jogja di kota asalnya, pasti berkesan dan berasa beda ya, Sur πŸ˜€

    Kalo hari ini Surya jadi kesana lagi, bakalan bisa mengulang cerita yang sama dengan blogger Nusantara, yaitu makan bakmi Jogya!
    Tengkyu udah dibikin kepingin, kapan-kapan saya mau kesana sendiri deh, mudah-mudahan nggak antri…hehehe

    “Aku gak jadi ikutan mbak, hiks. Selain waktu mau daftar, pendaftaran dah tutup, badanku juga lagi ngedrop seminggu ini mbak, jadinya ya masih belum bisa kopdaran sama mbak erry πŸ™ dan yang lain”

    Reply
  • 29/11/2013 at 06:54
    Permalink

    Malam minggu beda rasanya sama malam Sabtu?
    Menurut saya juga gitu, Sur…mungkin karena Jumatnya masih kerja dan capek, malem Jumat itu jadi pengennya leyeh-leyeh doang di rumah.
    Kalo malem minggu kan udah libur seharian, jadilah malemnya pengen jalan-jalan keluar rumah…
    *ini apa sih, kok saya jadi ngebahas perbedaan malem Sabtu sama malem Minggu*
    πŸ˜€

    “Padahal lho ya, malam minggu dulu rasanya kayak malam sabtu sekarang ini ya mbak… :D”

    Reply
  • 29/11/2013 at 06:55
    Permalink

    Oyaaaaaa….barusan Erry udah di kereta lo, Sur…cariin dia ya!
    Baca postingannya sama ketemu orangnya, pasti beda deh… πŸ˜‰

    “Kyaaa… nyesel abis.. ga jadi kopdaran sama si penyebar virus korea akut itu.. :((“

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*