Menulis Catatan Perjalanan

Kisah perjalanan adalah sebuah cerita yang tidak akan pernah lekang dimakan jaman. Sebuah kalimat yang kudengar saat mengikuti sebuah workshop menulis yang diselenggarakan oleh almamaterku tercinta, Teknik Informatika ITS, beberapa minggu yang lalu. Sebuah kalimat yang meluncur dari Agustinus Wibowo, seorang penulis sekaligus penjelajah yang karyanya sangat menginspirasi.

f9db5b01aabf70c4760d485c8fbe5c41_workshop-agustinus-blog

Dan dari berbagai kisah perjalanan itulah, wajah dunia terungkap. Manusia bergerak. Peradaban pun berubah.

Cerita perjalanan sudah ada sejak jaman dulu. Salah satu buktinya yang terkenal adalah tulisan milik Antipater, seorang pelancong dari Sidon, Yunani yang menulis Tujuh Keajaiban Dunia pada sekitar tahun 140 Sebelum Masehi.

Hanya satu dari tujuh bangunan tersebut yang masih tersisa, yakni Piramida di Mesir. Tapi dengan adanya petunjuk dari catatan Antipater ini, kita bisa tahu bahwa dulunya di bumi pernah berdiri sebuah bangunan yang sangat megah dan indah. Catatan ini juga menjadi bekal para arkeolog untuk melakukan riset dan penggalian sisa-sisa reruntuhan hingga akhirnya bisa menyimpulkan bahwa umat manusia masa lalu sudah mempunyai tingkat peradaban yang sangat tinggi.

Lalu ada juga catatan Marcopolo, seorang saudagar dan penjelajah asal Venesia, Italia. Dari catatan Marcopolo, dunia mengetahui jalur sutera, sebuah jalur perdagangan yang sangat tersohor di Asia di masa lampau. Jalur yang terbentang mulai dari Asia tengah, China hingga ke India di Selatan dan Siam (Thailand) di tenggara. Konon dari catatan perjalanan Marco Polo itu pula, terbukalah jalur perdagangan antara negara-negara Asia dengan Eropa. Tanah Asia yang dulunya dianggap berbahaya dan uncharted (belum terpetakan) bagi bangsa Eropa menjadi dikenal. Bisa dibayangkan, betapa dahsyatnya arti catatan perjalanan Marco Polo bagi perubahan peradaban di dunia.

Ada pula kisah dari penjelajah muslim dari Maroko bernama Ibnu Batutah yang telah berkeliling Afrika hingga Asia. Bahkan konon dia sudah sampai ke salah satu pulau di Indonesia, yakni Sumatera.

Catatan-catatan perjalanan tersebut memang sudah berusia sangat tua, tapi masih terus dibaca orang hingga kini dan nanti. Itu membuktikan bahwa kisah perjalanan sanggup menembus dimensi waktu dan tidak akan pernah bosan untuk dibaca. Berbeda dengan tulisan non fiksi (ilmiah/jurnalistik) ataupun fiksi (novel, cerpen) yang kepopulerannya dipengaruhi musim dan waktu.

Tulisan perjalanan sendiri pada dasarnya berada di tengah-tengah antara non fiksi dan fiksi, seperti sebuah jembatan. Karakteristiknya antara lain timeless (kisahnya abadi, bisa dibaca kapan saja), deskriptif (membawa pembacanya langsung mengalami apa yang di rasakan penulisnya) dan nyata.

Di Indonesia, presentasi antara jumlah penulis dibandingkan dengan jumlah penduduk sangat kecil. Apalagi penulis catatan perjalanan. Masih sangat sedikit rakyat indonesia yang mendokumentasikan negerinya melalui catatan. Padahal dengan begitu luasnya Indonesia, dan begitu kayanya negeri ini dengan budaya, adat istiadat serta bahasa harusnya menjadikan banyak informasi yang bisa digali dan ditulis tentang Indonesia.

Makin miris rasanya, ketika berkunjung ke sebuah toko buku, banyak ditemui buku-buku tentang Indonesia seperti Bali, Lombok, Borobudur ataupun Keris, wayang ditulis oleh orang asing. Jadi pada akhirnya kita merekontruksi diri kita sendiri melalui orang asing.

Gaya menulis catatan perjalanan bisa dikelompokkan menjadi dua.

Yang pertama adalah catatan perjalanan yang ditulis secara runut dan sesuai urutan waktu. Tulisan bermula sejak berangkat dari rumah, naik angkutan apa saja, makanan yang wajib dicoba, hal-hal yang diperbolehkan dan dilarang untuk dilakukan di sepanjang perjalanan, tempat-tempat menarik di tempat tujuan, hingga pulang kembali ke rumah. Gaya tulisan seperti ini lebih ke arah panduan wisata. Harapannya, ketika si pembaca ingin melakukan perjalanan ke destinasi tersebut, tidak akan menemui kesulitan sepanjang perjalanan serta tidak tersesat.

Tulisan gaya panduan wisata ini banyak dijumpai di forum-forum seperti Kaskus. Dikenal dengan nama FR yang merupakan singkatan dari Full Report atau juga Field Report. Biasanya dalam sebuah FR ditambahkan foto-foto pendukung. Foto-foto ini selain untuk mempercantik postingan, juga untuk membuktikan bahwa si penulis benar-benar menjalani sendiri perjalanannya. Karena ada pameo dalam forum bahwa no picture = hoax.

Gaya yang kedua adalah catatan perjalanan yang lebih menekankan pada berbagai cerita yang unik dan menarik yang ditemui di sepanjang perjalanan. Cerita ini bisa tentang kisah anak manusia dan lika-liku perjalanan hidupnya. Bisa juga ritual dan tradisi. Atau bisa juga berupa cerita sejarah masa lalu yang pada akhirnya membentuk sebuah budaya, suku ataupun malah bangsa. Destinasi perjalanannya sendiri biasanya malah mendapat porsi yang tidak terlalu banyak. Apalagi jika destinasi itu adalah destinasi yang sudah sangat terkenal.

Untuk bisa menulis catatan perjalanan tipe yang kedua ini dibutuhkan ekplorasi yang menyeluruh pada sebuah destinasi dan itu memakan waktu yang tidak sebentar. Mengenal karakter manusia, memahami budaya, mempelajari adat istiadat tidak bisa dilakukan hanya dengan satu, dua ataupun tujuh hari bukan? Kemampuan komunikasi mutlak sangat diperlukan, karena dengan komunikasi itulah banyak hal bisa digali. Semakin banyak informasi yang didapat, akan semakin kaya tulisan yang dihasilkan.

Gaya tulisan seperti ini biasanya disukai oleh penerbit buku. Hampir sebagian besar buku bertema perjalanan yang terpajang di rak toko-toko buku adalah catatan perjalanan yang ditulis dengan gaya kedua ini, seperti buku Life Travelernya Windy Ariestanty, Trilogi Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol milik Agustinus Wibowo ataupun The Naked Traveler dari Trinity. Sedangkan contoh buku yang bergaya panduan adalah buku-buku milik Claudia Kaunang.

Aku sendiri berusaha untuk menulis dengan kedua gaya tersebut, karena bagiku keduanya memiliki kelebihan masing-masing. Aku ingin membuat panduan wisata untuk berbagi pengalaman dengan rekan-rekan pembaca yang ingin melakukan perjalanan yang serupa dengan yang sudah kulakukan. Dan aku juga ingin membuat cerita tentang sisi lain yang menarik dari perjalanan yang telah kulakukan. Karena sebuah perjalanan tidak hanya sekedar destinasi saja, tetapi justru kisah-kisah selama perjalanan menuju destinasi itulah yang membuat sebuah perjalanan menjadi lebih menarik.

Ada sebuah kisah menarik dari pengalaman seorang Agustinus Wibowo ketika menjelajah seantero Afghanistan. Saat itu dia tengah berada di sebuah gurun. Mendadak dia terserang hepatitis dan ambruk tepat di depan sebuah rumah milik seseorang yang belum pernah dikenalnya. Mungkin bagi kita, jika kedatangan tamu seperti itu, paling banter kita akan mengantarkannya ke rumah sakit dan urusan selesai. Tapi saat itu sang tuan rumah memberikan ranjang terbaiknya untuk Agus. Merawatnya dan memberinya tempat untuk beristirahat sampai kapanpun dia mau. Padahal, sang tuan rumah bukan keluarga yang berada. Saat Agus menanyakan mengapa mereka begitu peduli padanya, sang tuan rumah menjawab

Dalam hidup, tak penting berapa banyak yang kau kumpulkan, tapi seberapa banyak yang bisa kau buat untuk orang lain

Jadi berbagilah. Dengan sesuatu apapun dan cara apapun. Dan salah satu caranya adalah menulis.

7 thoughts on “Menulis Catatan Perjalanan

  • 12/07/2013 at 12:35
    Permalink

    wah .. senengnya bisa langsung bertatap muka dgn beliau ya , jadi kepo nih dgn bukunya 🙂

    “Kalau menurutku buku mas Agustinus seru mbak. Enak dibacanya, serasa ikut petualangannya”

    Reply
  • 13/07/2013 at 09:25
    Permalink

    ya, saya juga sedang belajar menulis yang kedua, tidak mudah seperti yang dibayangkan ternyata. Pemikiran mas sejalan dengan Eyang Pramudya “menulis adalah bekerja untuk keabadian”.

    “Wah, terima kasih sudah berkunjung mas Rio. Mungkin pemikiran sama mas, tapi untuk karya sangat jauh tertinggal, he he he”

    Reply
  • 13/07/2013 at 09:26
    Permalink

    Tulisan tipe kedua membawa imajinasi pembaca melintas ruang dan waktu untuk mengalami pengalaman si penulis. Tidak mudah untuk mencapai itu.
    nice post, keep writing.

    “Yap memang tidak mudah. Karena cara menempuh perjalanannya juga berbeda dengan yang pertama”

    Reply
  • 13/07/2013 at 18:25
    Permalink

    “Dalam hidup, tak penting berapa banyak yang kau kumpulkan, tapi seberapa banyak yang bisa kau buat untuk orang lain” —- ikut mencatat kalimat ini aah…
    Dan aku suka tulisan2 perjalananmu di sini, Surya… serasa ikut mengalaminya, dan mengundang rasa ingin melakukannya sendiri.. terima kasih ya

    “Sama-sama mbak. Terima kasih juga atas apresiasinya ya :)”

    Reply
  • 16/07/2013 at 08:33
    Permalink

    Suryaaaa, Agustinus Wibowo itu kan yang nulis buku ‘Titik Nol”…yang orang Lumajang itu kan?
    Ih, saya lagi baca bukunya lo, memang keren gaya ceritanya. Beda dengan penulis lainnya.
    Buku perjalanan yang saya suka selain karya Trinity, saya juga suka dengan Life Traveller yang Surya kasih…duh, Windy nulisnya keren abis!
    Terus saya juga tergila-gila dengan Perjalanan ke atap Dunia-nya Daniel Mahendra…bagus Sur, kalo belum baca, beli ya…saya rekomendasiin banget lah pokoknya…hehe 😀

    “Iya mbak, dia penulis dari Lumajang, sang penjelajah dari Indonesia. Wah terima kasih rekomendasinya mbak. Kapan2 ubek2 toko buku :)”

    Reply
  • 16/07/2013 at 08:38
    Permalink

    Waduh, baru baca awal postingan, saya udah histeris dengan Agustinus Wibowo…hehehe, ternyata diulas habis di akhir postingan…maluu 🙁
    Trima kasih sudah kasih judul-judul buku yang menarik di postingan ini, Sur…nanti saya cari di toko buku ah, penasaran!

    “Saling share judul buku ya mbak :)”

    Reply
  • 07/01/2014 at 10:27
    Permalink

    menelusuri penjelajahan yang tak pernah ada habis nya untuk di ceritakan untuk dijadikan sebuah inspirasi 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*