Seorang Porter Bernama Hartono

Mas, tunggu!!, panggilku memecah kesunyian sore dengan nafas yang tersengal. Posisiku sudah setengah merangkak. Tanganku berpegang erat pada sebuah batang pohon. Peluh membasahi wajah, tubuh hingga kakiku.

bdb47aaaec764c93604a7e8fb9955ead_hartono

Seseorang yang berjarak sekitar 5 meter di depanku menghentikan langkahnya, seraya kemudian memalingkan wajahnya. Tubuhnya kurus. Rambutnya hitam pendek. Kumisnya tipis menghiasi mukanya. Sebuah kacamata membingkai sepasang matanya.

Dengan ringan dia melangkah ke arahku. Wajahnya tampak tenang dengan nafas yang stabil, seolah tak merasakan kelelahan. Padahal di bahunya terpanggul ransel seberat 20 kg. Aku sendiri hanya membawa beban ransel sekitar 12 kg.

Istirahat dulu ya mas, ajakku padanya.

Tanpa menjawab, dia mengambil posisi duduk dengan ransel masih tertambat dipunggungnya. Dibuka kacamatanya. Sejurus kemudian dia mengeluarkan pisau kecil yang terbungkus kertas dari balik saku celananya. Diambil kertas pembungkus itu, diletakkan pisaunya dan mulailah dia melihat-lihat kertas pembungkus yang sudah lusuh serta kumal tersebut. Matanya tampak menekuni tulisan dan gambar yang tercetak, sambil sesekali menatap ke langit, seperti memikirkan sesuatu.

Namanya Hartono, salah satu dari dua porter yang kami sewa untuk mendampingi kami mendaki lereng Semeru. Usianya masih sangat muda, 16 tahun, tapi wajahnya terlihat sedikit lebih tua dibanding usianya. Tapi diantara rekan sesama porter, penampilan Hartono terlihat berbeda. Dengan hoodie warna hijau, kacamata hitam dengan kaca merah serta rambut yang klimis dan kaku, Hartono tampak sangat modis.

Ketika aku dan teman-teman memintanya mengambil foto, dia tanpa ragu melakukannya. Ketika banyak rekan sesama porter yang menolak dengan alasan tidak bisa ataupun takut merusakkan, Hartono cukup percaya diri menerima amanah itu. Bahkan mengoperasikan kamera DSLR, dimana untuk memotret harus mengintip ke lubang kamera, dia pun bisa. Hasilnya pun relatif oke.

Tingkahnya yang dari tadi membaca kertas pembungkus pisau membuatku penasaran. Hampir setiap istirahat dia selalu melakukan hal itu. Sangat berbeda dengan porter lainnya yang lebih memilih menghisap tembakau ataupun sekedar berbincang-bincang dengan tamu yang diantarnya. Kertas pembungkusnya pun bukan cuman 1 lembar saja, tapi 4 lembar. Tapi sepanjang perjalanan dari Ranu Pani hingga sampai ke Ranu Kumbolo, aku belum bisa menuntaskan rasa penasaran itu.

Malam pun tiba. Setelah membantu menyiapkan makan, Hartono dan Wirrohman, kedua porter kami, mohon diri untuk berkumpul bersama rekan-rekan porter yang lain. Mereka berdua menolak ketika kami menawari mereka makan.

Tempat para porter berkumpul biasanya adalah sebuah bangunan berbentuk rumah yang merupakan satu-satunya bangunan permanen di Ranu Kumbolo. Tapi keduanya tidak berkumpul disana, melainkan di sebuah tempat terbuka di bibir ranu, yang kebetulan tidak jauh dari tempatku dan teman-teman mendirikan tenda. Tidak ada tenda disana. Mereka tidur beralas rumput dan beratap langit penuh bintang. Sarung dan kobaran api unggun menjadi andalan untuk mengusir dingin.

Ditengah jilatan api yang berjoget, Hartono kembali mengeluarkan pisaunya. Lagi-lagi dia buka kertas pembungkusnya dan tak lama kemudian membaca. Tapi kali ini dia tak sendiri membacanya. Ada porter lain yang menemani. Mereka tampak berdiskusi serius. Sesekali kawan Hartono ini terlihat mengeluarkan ekspresi kegeraman sambil menepuk bahu ataupun punggung Hartono.

Penasaran, aku mendekati mereka. Aku coba mencuri dengar pembicaraan mereka.

Ayo, Jowo kuwi nduwe pirang propinsi?

Sik, tak mikir disek.

Satu detik, dua detik, sepuluh detik berlalu, belum ada jawaban. Ketika sampai satu menit terlewati, belum juga ada jawaban, sang kawan ini mulai kehilangan kesabaran.

Wes mbok woco rung bukune

Uwis, ro, iki kertase tak gawe bungkusan lading.

Kok jik ga iso?

Woconanku rung tekan kono. Aku jik tekan halaman loro.

Yo gak mungkin, ngapusi kowe. Lha pelajaran kuwi lho ning halaman siji kok.

Hartono meringis.

Yo wes, tak wocone ulang maneh.

Yap misteri sedikit terkuak. Ternyata pembungkus pisau itu bukan kertas biasa. Juga bukan kertas mantra aji-aji biar bisa kuat mendaki.

Pagi-pagi sekali, Hartono sudah mendatangi tenda kami. Dia mau meminta botol kosong air mineral untuk mengambil air. Sebenarnya kami bisa saja mengambil sendiri airnya. Tapi Hartono menawari untuk mengambil di tempat agak jauh dari perkemahan agar lebih bersih.

Dengan dua buah botol kosong di tangan kiri, dia melenggang menuju sisi selatan ranu. Sedangkan tangan kanannya? Lagi-lagi, kertas pembungkus itu, dan matanya tak bisa lepas dari kertas itu.

Ketika akhirnya dia kembali ke tenda kami, akupun tak kuasa bertanya.

Sampeyan arep ujian tah mas?

Wajahnya terlihat kaget.

Lho, kok ngerti njenengan. Iyo mas, sesuk senin arep ujian.

Ngerti lah. Sakti. Ujian opo mas?

IPS mas.

Oalah, sampeyan jik sekolah to. Kelas piro mas?

Aku gak sekolah mas. Cuma melu kejar paket B mas.

Oalah. Lha koncomu sing wingi bengi mbedek’i kuwi sopo mas?

Hartono menatap curiga kepadaku.

Lho, kok sampeyan ngerti nek aku wingi bedek2an karo kuro?

Kan wes tak kandani, awakndewe sakti. Kuro? Koncomu kuwi jenenge kuro?

Jenenge ibrahim mas. Tapi celukane kuro. Dee guruku mas. Dekne mahasiswa ning Malang. Dekne di kongkon ngajari arek-arek porter koyok aku ngene mas.

Opoo kok melu kejar paket B mas.

Yo ben pinter mas, koyok kuro. Koyok sampeyan ambek konco-koncone sampeyan.

Aku tersipu.

Tak dongakno ben ndang pinter mas.

Amiin mas. Sakjane aku pengen banget isok boso inggris mas. Saiki akeh bule bule sing munggah ning Semeru. Nek aku iso boso inggris, aku iso ngancani bule-bule kuwi. Duite pasti akeh mas, he he he. Aku yo pengen belajar moto. Pengen nduwe kamera apik koyok nggone sampeyan.

Jleb, tak terasa mata ini berkaca-kaca. Sebuah kontemplasi diantara barisan bukit dan sejuknya hawa Ranu Kumbolo. Sungguh ajaib. Ternyata bukan pemandangannya saja yang membuatku menangis di Ranu Kumbolo.

Sayang, hanya semalam saja kebersamaanku bersama Hartono. Siang hari itu, Hartono mengawal empat orang temanku, Imron Fauzi, Heru Sutjahjono, Doni Wicaksono dan Fajar Kurniawan melanjutkan perjalanan ke Kalimati lanjut puncak Mahameru. Sedangkan aku dan ketujuh rekan lainnya bertahan di Ranu Kumbolo. Meski hanya semalam, perjumpaan dengan Hartono akan menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan di sepanjang hidupku.

Semoga sukses selalu mas Hartono. Kejar terus cita-citamu. Semoga Allah memudahkan langkahmu, Amiin.

NB : Kamus bahasa jawa

Lading = pisau

Ngapusi = bohong

Njenengan = kamu (panggilan kamu yang sangat sopan di bahasa Jawa. Digunakan untuk memanggil orang yg lebih tua)

Wingi bengi = tadi malam

Mbedek’i = memberi pertanyaan

Awakndewe = aku

Ngancani = menemani

Dikongkon = disuruh

Woconanku = bacaanku

4 thoughts on “Seorang Porter Bernama Hartono

  • 22/06/2013 at 07:57
    Permalink

    Iki aku jadine mas sing ora ngerti opo ceritane. Piye ?

    “Sebenarnya ingin dalam bahasa Indonesia, tapi takut feelnya nanti ilang mbak. Tapi udah kukasih kamus di bawah postingan. Smeoga membantu :D”

    Reply
  • 01/07/2013 at 22:24
    Permalink

    Duh, Sur…semangat belajar Harttono ternyata sangat tinggi.
    Kejar Paket B aja sampe dibela-belain buat diikuti…dan tentang cita-citanya meng-guide turis asing karena konon mereka punya banyak uang…hehe, salut buat keinginannya untuk bisa lancar berbahasa Inggris…
    Who knows?
    😉

    “Iya mbak, aku sendiri sampai terharu melihat semangatnya di tengah keterbasan”

    Reply
  • 13/07/2013 at 09:30
    Permalink

    karena ga ada kata terlambat untuk belajar, saya jadi malu dengan Hartono yang punya semangat belajar tinggi.

    “Tidak perlu malu mas. Asal sekarang kita tahu, dan segera memulainya. Terkadang memang inspirasi bisa datang dari siapa saja :)”

    Reply
  • 25/09/2014 at 21:12
    Permalink

    Salut dgn semangat mas Hartono, cita2 sederhana tapi beribu makna, smoga sukses dan terkabul cita2nya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*