Keajaiban pagi Ranu Kumbolo

Mataku mendadak terbuka. Kurasakan semilir belaian lembut menyentuh wajahku. Membawa serasa hawa yang sudah lama tidak pernah kujumpa. Aku ingin bergerak. Tapi tak bisa. Aku terbujur beku. Tak ada lagi ruang kosong.

Kugerakkan kepalaku perlahan-lahan. Aku pandang tubuhku sendiri. Semuanya terbungkus rapat. Jaket, kantung tidur, kaus tangan, topi kupluk hingga kaus kaki. Tapi tampaknya itu semua belum cukup. Tubuhku masih menggigil. Jari tangan terasa kaku.

Samar-samar lalu kuamati sekelilingku. Sebuah ruang sempit berbentuk seperti piramida dari kain memenuhi garis pandang. Ruangan itu tidak gelap, bahkan cukup terang. Sepercik sinar yang menyala dari lampu senter menjadi lenteranya. Kuperjap-perjap mata untuk sedikit menghilangkan samar itu.

Ah, ternyata sebuah tenda, batinku.

Perlahan anganku melayang, terkenang akan masa perjalanan dua hari yang lalu. Sebuah jalan setapak yang panjang dan berbahaya. Di satu sisinya adalah jurang, dan di sisi lainnya adalah tebing curam. Pepohonan tumbuh subur dan liar di sepanjang perjalanan. Tinggi dan besar. Banyak diantara pohon-pohon itu, aku tidak bisa melihat akarnya, karena nun jauh di bawah jurang dalam sana. Di beberapa titik, daun-daun menghijau dengan rimbunnya. Tapi di titik lain tampak dahan dan batang menghitam seperti bekas terbakar.

Dengan gontai, ku paksa kakiku untuk terus berjalan dan berjalan menyusuri jalan setapak itu. Kadang menanjak, turun, berbelok. Ransel di punggung menambah tekanan pada bahu, punggung serta sendi-sendi lutut dan engkel.

Aku tidak sendiri menjalaninya. Perjalanan ini terlalu indah dan berbahaya untuk dijalani sendirian. Ada Imron Fauzi, Bambang Wahyu Jatmiko, Farikh Ardiansyah, Imam Subeki, Rahmad Adriansyah, Doni Wicaksono, Heru Sutjahjono, Satria Yuwana, Arif Biantoero, Fajar Kurniawan dan Fendhito Pratama Putra di sampingku. Mereka bukan hanya sekedar rekan sejalan, tapi juga pembangkit semangat dan pemberi inspirasi.

Ketika nafas memang sudah memburu dan kaki sudah tak sanggup lagi melangkah, aku berhenti sejenak. Aku biarkan oksigen mengisi penuh kembali paru-paru sambil menikmati seteguk, dua teguk air. Menghilangkan dahaga sekaligus mengurangi beban.

Kata orang, jika sering-sering berhenti ketika mendaki, maka lelahnya akan makin terasa. Tapi bagiku, ini lebih baik daripada kehilangan konsentrasi yang bisa berakibat fatal.

Aku memang belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Rekor terbaikku hanyalah mencapai pos kokopan, sebuah pos peristirahatan dalam perjalanan menuju puncak Gunung Arjuno ataupun Welirang. Itupun sudah sekitar sepuluh tahunan yang lalu.

Perlahan-lahan dengan ditemani sisa-sisa nafas yang ada, akhirnya tibalah aku di Ranu Kumbolo. Total lima setengah jam waktu yang kubutuhkan untuk menempuh jarak sekitar 9 km dari Ranu Pani hingga Ranu Kumbolo.

Perjalanan yang menyenangkan, gumamku mengakhiri lamunan.

Dengan susah payah aku bangkit dari pembaringan. Awalnya mengangkat badan saja aku tak sanggup. Lalu kumanfaatkan kedua siku lenganku untuk menumpu punggungku. Dan hap, aku berhasil duduk.

Mataku kembali menjelajah isi tenda. Tampak tiga orang yang berbagi tenda denganku tengah menikmati mimpinya dengan badan yang juga terbungkus kantung tidur. Di setiap sudut tenda, berbagai tas tergolek bisu, memenuhi isi ruang tenda yang sudah penuh oleh empat orang manusia.

Tubuhku kaku. Aku gerakkan badanku ke kiri kanan untuk mengusirnya. Tampaknya selama beberapa jam tertidur, posisi tubuhku tidak berubah, terlentang.

Kubuka kaus tanganku. Seketika itu pula angin berebut menyapa pori-pori kulitku. Brrr

Aku raba kantung tidurku. Basah. Jaket, kaus tangan, kaus kaki. Semuanya basah. Hujankah semalam? Bocorkah tenda ini? Dan kemudian aku melihat titik-titik embun yang membasahi pori-pori kain tenda.

Ingin rasanya aku kembali berbaring, tapi ternyata Fendhito dan Farikh sudah mengambil tempatku. Ruang yang beberapa detik yang lalu kutinggalkan ternyata memberikan kelegaan bagi mereka untuk bergerak. Kedua wajah yang tersembul dari kantung tidur tampak nyaman dan damai. Tak tega rasanya membangunkan mereka untuk mengambil lagi ruang tidurku.

Hmm, mungkin tampaknya sudah waktunya bagiku untuk mengakhiri jam tidur.

Kabut tipis bersambut riang ketika aku menyembulkan wajahku dari dalam tenda. Langit masih gelap. Hening. Sunyi. Sungguh berbeda dengan beberapa jam yang lalu ketika suara denting gitar dan suara sumbang beradu dengan tarian api unggun. Percakapan bergantian dengan tawa renyah. Lebih dari tiga ratusan orang memenuhi camp ground Ranu Kumbolo

Waktu memang masih menunjuk angka jam 3 lebih 10 pagi tapi aku memaksakan diri untuk keluar dari tenda. Wuusshh, sebuah asap tipis keluar dari mulutku bersamaan dengan nafas yang kuhembuskan. Wah, keren, batinku, seperti yang pernah kulihat di adegan film-film bersetting musim salju.

Sepanjang mata memandang, yang ada hanyalah hitam. Tenda-tenda yang bertebaran di sekeilingku seolah-olah hilang ditelan kegelapan. Yang ada hanyalah kabut tipis yang menari-nari di atas air danau. Tapi tunggu dulu, apa yang tampak berkilauan di atas sana.

Ternyata ada pesta di angkasa malam ini. Ribuan bintang saling berkilauan, memamerkan cahaya terbaiknya ke muka bumi. Tiada awan, tak ada kabut, sehingga perjalanan cahaya mereka bisa sampai dengan selamat hingga permukaan kornea mataku.

Milky Way!!!

Tiba-tiba terdengar teriakan seseorang. Entah sejak kapan Bambang Wahyu Jatmiko sudah keluar dari tendanya dengan kamera yang terhunus lengkap dengan tripod. Beberapa detik kemudian dia sudah menghilang di kegelapan sebelum aku sanggup menyapanya. Bambang, salah satu sahabatku yang berdedikasi tinggi pada dunia fotografi. Keahlian memotretnya berkembang sangat pesat, padahal dia baru saja mengenal kamera sekitar dua tahun yang lalu. Peralatannya tergolong yang paling banyak diantara kami mulai dari lensa, filter hingga remote shutter.

Dia juga mempunyai persiapan yang baik sebelum melakukan hunting foto, seperti membawa baterei cadangan, menyediakan plastik untuk membungkus kamera dan menghindarkan serangan embun, serta tak lupa membawa serta tripod. (salah satu foto bambang bisa dilihat di postingan ini).

b02d1e340e1e89586a6a2ce4a01abe41_milky-way

Sedangkan aku hanya bisa memandangnya lesu. Kali ini kameraku tidak bisa beraksi. Kapasitas batereiku hanya tinggal kurang dari 30 % saja dan aku tidak membawa baterei cadangan. Sisa-sisa itu rencananya kugunakan untuk mengabadikan sunrise pagi ini setelah kemarin gagal total karena kabut yang turun. Ya mungkin untuk kali ini aku hanya bisa merekam pesta bintang ini lewat mata dan memori otakku saja. Tapi itu sudah merupakan rahmat yang harus disyukuri karena tidak semua orang bisa menikmatinya. Apalagi bagi orang yang tinggal di kota. Gemerlapan lampu, asap, debu telah membentuk perisai yang meredupkan sinar sang bintang.

Aku merasakan tangan dan kakiku semakin menggigil. Kaus tangan yang basah bukan melindungi kulitku, tapi malah membuat kulitku makin mengingsut. Kukorek abu kayu sisa api unggun sore tadi. Tapi rupanya tidak ada lagi bara yang tersisa disana.

Bantuan datang di saat yang tepat. Tampaknya teriakan Bambang tadi telah membangunkan satu orang lagi, mas Eko, salah satu kenalan di perjalanan. Seseorang yang istimewa di mataku. Penakluk hampir semua puncak tertinggi di nusantara. Mulai dari Kerinci di Sumatera, Mahameru dan Lawu di Jawa hingga Rinjani di Nusa Tenggara. Tinggal satu puncak di Indonesia yang belum digapainya. Sebuah gunung yang telah menjadi impiannya sejak lama. Cartens Pyramid, puncak tertinggi Papua, sekaligus di Indonesia.

Melihatku menggigil, dia langsung bereaksi mengambil kompor portablenya yang tergeletak di depan tendanya. Peralatannya mendakinya yang lengkap menunjukkan sudah betapa banyak asam garamnya dalam dunia pendakian. Semua peralatan mulai dari tenda, kompor, kantung tidur, matras dan ransel carrier adalah milik pribadi dan bukan sewa.

Dengan cekatan, dia menuangkan dua sendok spirtus ke dalam tungku kompornya. Menyalakan api. Meletakkan panci di atasnya. Terakhir dituangkannya beberapa mili liter air kedalam panci tersebut.

Dingin sekali ya mas, kira-kira berapa derajat ya? tanyaku sambil menghangatkan tanganku di atas panci.

Hmm, berapa ya kira-kira? Sebentar aku ambil termometer,

Mas Eko lalu menghilang, masuk kedalam tendanya. Tak berselang lama, dia keluar dengan membawa sebuah arloji yang mempunyai fitur termometer digital.

Sebentar, diukur dulu ya,

Beberapa menit kemudian, mas Eko memperlihatkan jajaran angka yang tampil di termometer digital miliknya, tiga koma lima derajat celcius.

Detik demi detik berlalu, gelap pun mulai tersibak. Segaris warna tergurat nun jauh di ufuk timur sana. Fajar menyingsing. Sudah waktunya Subuh.

Ku langkahkan kakiku mendekati bibir danau. Perlahan-lahan, aku benamkan dia ke dalam air yang berkabut itu. Hmm, ada rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh. Segera kuambil wudhu.

Tidak ada hal yang lebih indah ketika bersujud pada-Nya di tengah-tengah alam yang terhampar. Beratapkan langit yang bermandikan cahaya bintang dan ditemani semilir kabut tipis. Mengakui betapa kecilnya kita di semesta raya ini.

Setelah menunaikan sholat subuh, aku bersila menatap langit timur. Secangkir teh hangat dan keripik singkong menjadi penghangat suasana bersanding dengan kamera yang sudah terpasang gagah pada tripod. Sesekali ku tekan shutter kamera dan satu lukisan-Nya pun terekam sempurna.

Disampingku, Fendhito tengah sibuk dengan panci-panci. Dipilihnya panci-panci yang terlihat bersih. Lalu ditumpuknya satu persatu hingga setinggi sekitar 40 sentimeter. Setelahnya diletakkan kamera di atas tumpukan itu. Tak ada tripod, panci pun jadi.

Semakin siang, suara shutter yang terdengar semakin banyak, berirama, beradu dengan riuhnya para pendaki yang telah terbangun dari lelapnya mimpi. Tanpa dikomando, mereka memenuhi bibir danau. Membawa kamera, tetapi bukan untuk memotret, melainkan dipotret. Nasib kurang mujur bagi mereka yang terpaksa harus memotret.

Bagi yang beruntung, ekspresi terbaikpun dipasang. Tersenyum simpul, tertawa lebar, ataupun juga berlagak dingin penuh misteri. Tangan pun tak luput untuk ikut bergaya, mulai dari gaya jempol, victory ataupun metal. Matahari terbit diatas air danau menjadi latar belakang favorit. Sebagai bukti nyata telah menjejakkan kaki di lereng Semeru. Sebagai kebanggan untuk ditunjukkan kepada kawan-kawan bahwa Ranu Kumbolo sudah digapainya.

Aku dan teman-teman pun turut bernarsis ria. Hanya saja di tim kami tidak ada yang tidak beruntung karena semuanya bisa masuk frame. Lalu siapa pemotretnya? Tripod.

Pekatnya kegelapan perlahan memudar, berganti dunia yang penuh warna. Matahari memancarkan sinarnya yang keemasan. Langit membiru dengan gugusan awan putih yang menggumpal. Menghijaunya air danau ranu kumbolo. Serta aneka warna dari tenda para pendaki yang berdiri tegak di camping ground. Sebuah keajaiban pagi di salah satu tempat terindah di muka bumi.

Semuanya itu kini terabadikan dalam bingkai frame kameraku dan terekam indah di salah satu tempat terdalam diantara lipatan-lipatan otakku. Dan rekaman itu tak henti-hentinya mengirimkan impuls kepada saraf-saraf di kepalaku agar aku bisa sesegera mungkin kembali ke sana. Semoga.

6 thoughts on “Keajaiban pagi Ranu Kumbolo

  • 01/07/2013 at 22:47
    Permalink

    Ah, keren, Suryaaaa…
    saya bisa ikut merasakan gimana serunya pagi disana.
    Dengan tumpukan panci yang dijadikan tripod…hihihihi…baru denger nih ide kreatif yang kayak gini 😀

    “Ketika tripod lupa membawa, ya apapun jadi mbak, he he he”

    Reply
  • 12/07/2013 at 08:46
    Permalink

    Suryaaaaa…. potone reeeekk… pakai HDR kah yg poto danau?

    “Enggak pake HDR kok. Cuman ngambilnya pakai raw, lalu ditajemin dikit warna saturasinya”

    Reply
  • 20/08/2013 at 14:49
    Permalink

    WOW…
    great posting!!
    dengan membacanya kita dapat ikut merasakan.. 😀

    saya dan teman-teman ada rencana untuk mengunjungi ranu kumbolo nech, tetapi diantara kita tidak ada yg punya pengalaman dalam hal ini, mohon solusinya dunk…

    thanks.. 😀

    Reply
  • 13/06/2014 at 19:15
    Permalink

    Terharu, pengen banget pergi kesana ! Liat jutaan bintang di langit…

    Reply
  • 10/09/2014 at 07:27
    Permalink

    wow milkynya keren cara potretnya gimanah ?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*