Jelajah Balikpapan

Balikpapan, nama dari sebuah kota modern yang terletak di pesisir timur pulau Kalimantan. Sejak masa penjajahan Hindia Belanda, kota ini menjadi salah satu pusat perekonomian, terutama sejak ditemukannya sumber-sumber minyak. Sejak saat itu, terjadilah eksodus para pekerja di pulau Jawa ke Kalimantan. Sebuah aktivitas yang ternyata berlanjut hingga saat ini.

Bagi propinsi Kalimantan Timur, Balikpapan adalah salah satu kota yang mempunyai peranan penting dalam laju pertumbuhan ekonomi. Selain karena kaya minyak, Balikpapan adalah pintu gerbang utama propinsi ini, yakni melalui Bandar udara internasional Sepinggan dan Pelabuhan Semayang.

Setelah berjibaku dengan project selama 5 hari penuh, saatnya bagi tim untuk pulang kembali ke Jawa. Tapi kali ini aku memilih untuk tetap bertahan dan menghabiskan akhir pekan di Balikpapan. Kebetulan masih ada sisa uang saku dinas luar plus aku ingin mengajak Dewi jalan-jalan di Balikpapan. Baginya, ini adalah pengalaman pertamanya menjejak bumi Kalimantan, sang paru-paru dunia.

Cara paling mudah dan murah untuk menjelajahi kota Balikpapan adalah dengan naik angkot. Hampir semua area menarik dari kota minyak ini bisa dijangkau dengan angkot, seperti Pantai Manggar, Pantai Melawai, Balikpapan Super Blok, Balikpapan Plaza, ataupun Pasar Inpres Kebun Sayur. Bahkan bandara udara Sepinggan dan Pelabuhan Semayang pun bisa dijangkau dengan angkot. Ongkos angkot hanya 3000 rupiah sekali jalan. Yang lebih enak lagi, angkot di Balikpapan jarang berhenti lama alias ngetem.

Tujuan wisata utama di Balikpapan adalah Pantai Manggar. Pantai yang menghadap ke timur ini selalu ramai dengan wisatawan lokal, terutama di hari-hari libur. Untuk menuju ke Pantai Manggar, kita bisa menggunakan angkot nomor 7 (warna hijau tua) dari terminal Damai (Letaknya di JL Jenderal Sudirman, di seberang hotel Nuansa Indah). Dari jalan raya, kita masih harus berjalan kaki sekitar 500 meter untuk sampai di bibir pantai.

Pantai Manggar Segara Sari, nama lengkapnya, mempunyai pasir yang sangat putih dan lembut dengan garis pantainya yang sangat panjang dan landai, sehingga cocok untuk digunakan aktivitas bermain seperti sepakbola, voli pantai ataupun sekedar jogging. Karena pantai ini pantai timur, waktu yang tepat untuk menikmatinya adalah saat sunrise. Sayang, selama dua hari ini, aku gagal mendapatkan sunrise, karena setiap pagi, Balikpapan dirundung mendung.

Selain Pantai Manggar, Balikpapan mempunyai Pantai Melawai. Jika Manggar adalah pantai timur, maka Melawai adalah pantai barat selatan. Pantai Melawai adalah hal menarik di Balikpapan. Dengan lokasinya yang terletak di timur Kalimantan, pantai di Balikpapan harusnya menghadap ke timur, tetapi nyatanya Balikpapan mempunyai pantai barat, yang artinya kita bisa menikmati sunset di Balikpapan. Ini karena kondisi geografis balikpapan yang menyerupai sebuah tanjung (daratan yang menjorok ke lautan). Angkot yang menuju Pantai Melawai adalah angkot nomor 6 (warna biru tua)

Pantai Melawai tidak mempunyai garis pantai karena wujudnya berupa anjungan seperti Pantai Losari, Makassar. Yang menarik dari Pantai Melawai adalah pulau tukung, pulau kecil yang letaknya hanya puluhan meter dari pantai Melawai. Bentuknya hampir menyerupai kuil tanah lot yang ada di Bali. Kalau laut lagi surut, kita bisa berjalan kaki menyeberang ke Pulau Tukung karena sejatinya pulau ini masih satu daratan dengan pulau Kalimantan. Hanya saja, selama dua hari di Balikpapan bersama istri, aku tidak mendapati air surut tersebut.

Ketika sunset tiba, pemandangan di Pantai Melawai ini sangat indah. Karena itulah, kala sore menjelang, lokasi ini penuh dengan pedagang lesehan yang menawarkan makanan dan minuman dengan pemandangan matahari terbenam menjadi sajian utamanya.

Bertandang ke Balikpapan, belum lengkap rasanya jika belum mampir ke pasar inpres Kebun Sayur. Inilah pusat oleh-oleh Balikpapan. Disini dijual aneka macam asesoris yang terbuat dari batu seperti cincin, bros, kalung, pita. Ada juga kerajinan khas kalimantan seperti kain kalimantan, mandau, perisai, dompet dan miniatur rumah adat kaltim. Tersedia pula souvenir umum seperti sarung, kaus, dan batik. Untuk camilan, kerupuk amplang khas Kalimantan yang terkenal gurih juga tersedia di sini. Angkot yang menuju pasar Kebun Sayur ada dua yakni angkutan nomor 6 serta nomor 5 (warna kuning).

Sepanjang perjalanan dari Pantai Melawai ke Pasar Kebun Sayur, kita akan dibawa melewati perumahan dinas Pertamina yang lingkungannya sangat asri dan menarik. Rumah-rumahnya dibuat model cluster dengan pagar kayu dan dikelilingi oleh rerumputan yang tumbuh dengan sangat rapi. Diseberang perumahan, kilang-kilang minyak Pertamina berdiri kokoh sejak puluhan tahun yang lalu.

Perjalanan kami ditutup dengan mengunjungi penangkaran buaya di daerah Teritip. Khusus untuk penangkaran buaya ini, tidak bisa dijangkau dengan angkot, sehingga kami memutuskan untuk menyewa taksi. Taksi ini kami sewa untuk mengantar ke teritip serta membawa kami kembali ke hotel. Penangkaran buaya ini teritip ini ternyata tidak dikelola oleh pemerintah kota Balikpapan, melainkan oleh pihak swasta.

Untuk masuk ke Penangkaran Buaya ini dikenakan biaya 15000 per orang. Begitu masuk ke area penangkaran, kita disambut oleh aneka macam souvenir yang terbuat dari kulit buaya asli seperti dompet dan tas. Karena memang asli kulit buaya, harganya lumayan mahal. Mataku sempat melirik stiker harga yang tertempel di sebuah dompet. Tulisannya adalah angka 8 dengan deretan angka 0 berjumlah lima.

Ada aura yang berbeda bagiku ketika mengunjungi penangkaran buaya ini. Sejak memasuki area pintu masuk, nyaliku tiba-tiba terasa ciut. Bau amis langsung menyerbak ke udara ketika aku mulai memasuki area kandang buaya. Amis ini tidak dari buayanya, melainkan dari darah unggas yang menjadi santapan buaya.

Begitu mataku melihat buaya yang amat sangat banyak itu, mendadak tubuhku menjadi panas dingin. Hewan itu tampak sangat mengerikan. Bahkan saking ngerinya, aku tidak bisa leluasa memotret karena tanganku gemetaran, sehingga hasil fotonya banyak yang blur. Rasanya sangat berat kakiku melangkah lebih jauh ke dalam area kandang buaya. Kandang tersebut hanya memiliki tinggi sekitar 1.3 meteran dengan satu kandang dihuni oleh lebih dari sepuluh buaya. Rasanya ngeri membayangkan ketika salah satu buaya tersebut melompat keluar kandang. Ini memang ketakutanku saja, karena sebenarnya, menurut Pak Latif, pegawai penangkaran, buaya tidak bisa melompat.

Aku makin merasa ngeri ketika melihat sebuah rawa-rawa buatan di lokasi penangkaran. Didalam rawa tersebut terdapat beberapa ekor buaya yang berukuran monster. Tubuh mereka memang tidak terlihat karena terendam air, tetapi dari ukuran kepalanya bisa dibayangkan bertapa besarnya sang buaya tersebut.

Mereka semua di rawa-rawa tampak tenang, meski sesekali aku mengetuk-ngetuk pintu pembatas. Mereka seolah-olah acuh, padahal sebenarnya mereka sudah siap dalam posisi tempur. Itulah memang gaya buaya, tenang tapi menghanyutkan. Begitu ada unggas dilemparkan ke rawa-rawa, mereka langsung beraksi dengan cepat dan ganas. Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, badan si unggas sudah tidak tersisa lagi. Badanku makin panas dingin.

Buaya-buaya ini kebanyakan berasal dari Kalimantan sendiri, tepatnya di area DAS Mahakam, seperti Samarinda, Sangatta ataupun Bontang. Ternyata dibalik keelokannya, sungai Mahakam memiliki banyak sekali misteri, terutama yang berhubungan dengan buaya.

Aku tidak bisa berlama-lama di penangkaran buaya ini. Aura sadis buaya benar-benar serasa menyerap semua keberanianku. Dari info Pak Latif, konon inilah memang kelebihan buaya, mereka sangat jago dalam melakukan gertakan. Satu-satunya cara untuk menghadapi buaya adalah ketenangan, seperti yang ditunjukkan oleh almarhum Steve Irwin, pria Australia yang dikenal sebagai pemburu buaya. Pak Latif melihat langsung ketenangan Steve menghadapi buaya kala si Steve berkunjung ke penangkaran ini beberapa tahun silam. Tanpa senjata si steve masuk ke rawa-rawa buaya dan dengan santainya dia bercengkerama dengan buaya liar. Konon buaya tahu, bagaimana kondisi lawan yang akan dihadapinya, apakah dia ketakutan atau tidak. Jika memang si lawan sangat tenang dan berani, maka si buaya sendiri tidak akan berani menyerang.

Sebenarnya ada satu lokasi lagi belum sempat kami kunjungi selama di Balikpapan kemarin, yaitu jembatan gantung bukit bangkirai yang terletak di Balikpapan Utara. Jembatan gantung di Bukit Bangkirai adalah jembatan gantung tertinggi di Indonesia dengan ketinggian sekitar 30 meter. Sayangnya sepanjang hari minggu yang merupakan hari terakhir kami di Balikpapan, cuaca kurang bersahabat, sehingga akhirnya rencana ke bukit bangkirai pun batal. Sebagai gantinya, kami pun menghabiskan waktu di Balikpapan Plaza. Sama seperti di penangkaran buaya, lokasi Bukit Bangkirai ini tidak bisa dijangkau dengan angkot.

Minggu sore, kami berdua pulang kembali ke Surabaya. Sebenarnya selain bukit bangkirai, ada satu lokasi lagi yang ingin kami jelajahi di Kalimantan Timur. Tetapi sayangnya lokasinya bukan di Balikpapan, melainkan nun jauh di Berau sana. Lokasi itu tidak lain adalah kepulauan Derawan. Untuk mengunjungi Pulau Derawan ada dua pintu gerbang yang bisa dilalui, yaitu melalui Berau atau Tarakan. Dan untuk menuju keduanya, harus naik pesawat sekali lagi dari Balikpapan. Semoga lain waktu, kami akan mendapatkan kesempatan mengunjungi pulau yang konon katanya merupakan salah satu titik penyelaman terbaik di Indonesia tersebut.

6 thoughts on “Jelajah Balikpapan

  • 04/06/2013 at 10:51
    Permalink

    seberbahaya nya buaya rawa, masih lebih bahaya buaya darat hihihiii…
    suvenir kalimantannya bagus baguusss

    “Bukan pengalaman pribadi kan Mil.. :D”

    Reply
  • 04/06/2013 at 15:22
    Permalink

    manggar, melawai dan pasar kebun sayur.
    noted.
    kali aja kapan2 bisa menginjakkan kaki ke tanah borneo πŸ˜€

    “Sebenarnya masih bagusan Lombok Bang, jauh banget…..”

    Reply
  • 04/06/2013 at 15:33
    Permalink

    Petualangan penuh keseraman ya pastinya Surya hihihi …..
    Sayang foto2 buayanya kurang banyak πŸ˜€

    “Itu ambil fotonya sambil merinding disko mbak…. :(“

    Reply
  • 14/06/2013 at 18:26
    Permalink

    Weeeiiiii…jalan-jalan sama Dewi ya, Sur!
    Senengnyaaaa…
    Sama dong, saya juga pas lihat foto buaya di penangkaran itu langsung merinding dan cepet-cepet saya scroll…hehehehe…nggak mau kesana ah, saya mau ke pasar inpres Kebun sayur aja πŸ˜€

    “Saya pulang dari penangkaran langsung demam mbak, bahkan sampai dua hari, hiks”

    Reply
  • 14/06/2013 at 18:27
    Permalink

    Surya pengen ke Derawan?
    Titip foto yaaaaaaa…
    πŸ˜€

    Eh, eh…Dewi agak segeran ya sekarang?
    Makin cantik lo πŸ˜‰

    “Iya kah mbak… Wah, bahaya dia kalau baca komen ini, bisa langsung GR… :D”

    Reply
  • 23/09/2014 at 20:39
    Permalink

    Kalau yang mau jalan2 keliling Balikpapan dengan murah meriah, hubungi kami saja. Mau pakai motor ok, pakai mobil juga ok.
    Mau di suruh antar jemput juga ok ok aja.
    Silahkan di nego .

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*