Semalam di Melaka

Mendengar nama Melaka (atau Malaka), aku yakin sebagian besar dari kita langsung terbayang akan sebuah selat yang memisahkan pulau sumatera, Indonesia dengan semenanjung malaya. Sebuah selat yang merupakan salah satu selat tersibuk di dunia. Tidak salah memang, tapi tahukah anda nama Malaka tidak hanya milik sebuah selat, tetapi juga milik sebuah kota. Dan kota ini tidak kalah tenarnya dari sang selat.

Bulan Januari 2013 lalu, aku dan istri telah menjejakkan kaki di Malaka. So amazing. Lagi-lagi, tiket promo Air Asia membawa kami terbang bertualang, menjelajah dunia, meski masih sekitaran asia tenggara saja, he he he. But, Alhamdulillah. Itu sudah merupakan pengalamana yang sangat berarti bagi kami.

Malaka, sebuah kota yang namanya sudah termahsyur sejak ratusan tahun yang lalu. Sejarah mencatat, Malaka mulai berdiri sejak awal abad 15. Didirikan oleh Prameswara, yang juga terkenal dengan nama Raja Iskandar Syah. Pertengahan abad 15, dibawah pimpinan Sultan Mudzaffar Syah, Malaka mengalami masa kejayaan. Saat itu Malaka menjadi kota pelabuhan, pusat perdagangan sekaligus penguasa di kawasan selat Malaka.

Masa keruntuhan Malaka datang kala bangsa eropa yang diawali Portugis melakukan ekspansi dalam rangka pencarian dunia baru dengan slogan gold, gospel dan glory-nya. Kemudian berturut-turut Malaka beralih kekuasaan ke Belanda dan terakhir jatuh ke tangan Inggris sebagai bagian dari perjanjian tukar jajahan dengan Belanda yang menginginkan Bengkulu.

Sisa peninggalan masa lalu Malaka, mulai dari bangunan kolonial, benteng, tempat ibadah, china town masih terawat dengan baik hingga saat ini. Untuk itulah Unesco menganugerahkan Malaka sebagai Unesco World Heritage Site atau situs warisan dunia. Selain Malaka, Malaysia juga mempunyai kota George Town di Pulau Penang yang juga mendapatkan penghargaan sebagai situs warisan dunia.

Secara geografis Malaka berada di sebelah selatan Kuala Lumpur dan berjarak sekitar dua jam perjalanan darat. Menuju melaka dari bandara LCCT Kuala Lumpur ada dua cara yang bisa dilakukan:

1. Naik bus transnasional yang melayani rute LCCT – Malaka. Info jadwal ada di sini. Bus inilah yang seharusnya kami tumpangi untuk menuju Malaka dari LCCT. Tapi sayangnya, kami terlambat mengejar bus. Jadi ceritanya, pesawat kami mendarat dengan mulus di Kuala Lumpur sekitar pukul 15.15 waktu setempat. Setengah jam kemudian, kami tiba di terminal kedatangan bandara setelah melewati prosedur imigrasi, mengambil bagasi serta membeli kartu seluler dengan paket internet. Karena ketika berangkat dari Surabaya tadi belum waktu dzuhur, sedangkan jika langsung naik bus menuju Malaka, kami kemungkinan besar akan kehabisan waktu Ashar, akhirnya kami pun memutuskan untuk sholat dulu, jama dzuhur dan ashar.

Setelah sholat, jam menunujukkan pukul 16.15 dan ternyata bus sudah berangkat 15 menit yang lalu. Dan memang sesuai jadwal, bus berangkat jam 16.00. Bus selanjutnya yang berangkat ke Malaka baru berangkat jam 18.30. Mati gaya 2.5 jam di LCCT sungguh akan sangat membosankan, sehingga akhirnya kami mengambil alternatif kedua. Oh iya ongkos bus LCCT Melaka seharga RM 21.9

2. Cara kedua ini sebenarnya cukup merepotkan dan melelahkan, tetapi ini lebih mending daripada mati gaya di bandara LCCT, he he. Lagian kalau tidak melalui cara kedua ini aku dan istri tidak akan bisa melihat terminal bersepadu selatan (TBS) Malaysia yang sangat bersih dan rapi.

Dari LCCT kami naik KLIA Transit turun di stasiun Bandar Tasik Selatan. Dari Stasiun ini kami jalan kaki menuju Terminal Bersepadu Selatan, untuk berganti bus menuju Malaka. Nah TBS ini sih sebenarnya hanya terminal bus, tapi suasananya seolah-olah di Bandara. Bersih, rapi dan menggunakan penyejuk ruangan. Calo? Hmm, sepertinya tidak ada yang namanya calo di TBS. Di tengah-tengah terminal terdapat papan informasi jadwal keberangkatan bus seperti layaknya jadwal keberangkatan di bandara. Nama kita juga akan tercetak di tiket bus lengkap dengan jadwal keberangkatan, gate keberangkatan serta nomor tempat duduk. Lalu pada saat kita naik bus, kita tidak bisa naik bus sembarangan, tapi sesuai jadwal. Jadi begitu kita sudah beli tiket, kita menunggu di ruang tunggu.

Nanti akan ada pengumuman bahwa bus ke melaka dengan jadwal jam sekian sudah siap diberangkatkan, bagi para penumpang yang sudah mempunyai tiket silahkan masuk ke bus melalui gate nomor sekian. Benar-benar mengadopsi konsep boarding di Bandara.

Lha kalau terminalnya bisa rapi kayak gini, ya gak males naik kendaraan umum. Ternyata ketinggalan bus pun ada hikmahnya, jadi bisa melihat-lihat TBS. Padahal pada akhirnya bus yang kami tumpangi berangkat jam 18.15, hanya terpaut 15 menit dari keberangkatan bus dari LCCT, he he.

Perjalanan dua jam dari TBS ke Melaka kami habiskan dengan memejamkan mata. Penerbangan yang cukup melelahkan ditambah perjalanan dari LCCT menuju TBS membuat kami kelelahan dan langsung tertidur begitu merebahkan badan ini ke kursi bus. Kami terbangun saat bus melewati bandara internasional Malaka. Dan sepuluh menit kemudian kami sudah sampai di terminal bus Melaka Sentral.

Terminal Melaka Sentral juga tidak kalah nyaman dengan TBS meski tidak sebagus TBS. Langit sudah gelap ketika kami sampai di Melaka Sentral. Jarum jam saat itu menunjukkan pukul 20.30. Dari sini, kami naik bus Panorama Melaka no. 17 menuju ke Stadthuys. Stadthuys adalah pusat kawasan heritage dari Melaka. Dari Stadthuys kami melanjutkan berjalan kaki selama 15 menit menuju Oriental Riverside guesthouse, tempat kami menginap semalam di Melaka.

Oriental Riverside guesthouse terletak di kawasan pecinan Melaka. Tampak luar, penampilan si guesthouse ini seperti rumah cina yang sudah tua. Dewi langsung ilfeel saat melihatnya. Aku pun sedikit ragu. Tapi dengan rating yang sangat tinggi (mencapai 9 dari sekitar 150an reviewer) di salah satu situs penyedia voucher hotel, aku pun mencoba menepis keraguanku. Kucoba membuka pintu depan guesthouse, ternyata di kunci. Aku pun mengetuknya. Dari dalam tampak seorang wanita muda, sekitar usia 22 tahunan, berwajah oriental, membuka pintu.

Good evening sir, can I help you?, sapanya sambil tersenyum ramah.

Good evening, I want to check in, ujarku.

Ooo, you must be surya, from indonesia, tampak kelegaan di wajahnya.

Yeah, youre right

Oke, come in, I have already waiting for you.

Dan seketika itu pula, keraguanku akan guesthouse ini sirna. Dan begitu pula Dewi. Yang ada kemudian kami merasakan, apa yang membuat para backpacker yang telah menginap di guesthouse ini puas dan kemudian memberikan rating tinggi. Bahkan guesthouse ini termasuk guesthouse terbaik versi tripadvisor dan hostelworld. Kamar yang sangat nyaman, pelayanan yang sangat luar biasa ramah.

Guesthouse ini bentuknya bukan seperti hotel, tetapi seperti rumah kos-kosan. Jumlah kamarnya Cuma ada 6. Kamar mandinya ada dua dan dipakai bersama (shared bathroom). Ada ruang keluarga lengkap dengan tivi, serta dapur yang bisa dipakai bersama. Menginap di guesthouse seperti ini memungkinkan kita untuk bersosialisasi dengan sesama backpacker yang tengah menginap disini. Dan ini pengalaman yang luar biasa, ngobrol dan berbagi cerita dengan mereka. Kala kami kesana, selain ngobrol dengan Ling ling, si wanita pengelola guest house, aku juga mendapat pengalaman ngobrol dengan Jari dan Judith, pelancong asal Finlandia, Raymond dari Belanda, serta turis jepang bernama Satoshi. Ya itung-itung belajar berani berbahasa inggris. Waktu ngobrol, gak keitung aku mengucap, pardon me? karena belum paham dengan kalimat yang mereka sampaikan, he he he.

Karena sudah malam serta kelelahan pula, setelah masuk kamar, bongkar muatan dan bersih-bersih badan, kami memutuskan tidak pergi kemana-mana. Kami menghabiskan malam dengan nongkrong di teras belakang guesthouse yang suasananya ternyata sangat amazing. Sebuah kanal kecil terhampar di depan kami dengan pemandangan kerlap-kerlip lampu di sepanjang sisinya. Setiap beberapa menit sekali, lewatlah perahu motor yang membawa pelancong berkeliling kanal dan menikmati pemandangan kota Melaka. Di teras inilah, aku berkenalan dan ngobrol tentang banyak hal dengan nama-nama yang sudah kusebut di atas sambil sesekali menyesap hangatnya kopi.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami sudah memulai petualangan di Melaka. Setelah sholat subuh, kami langsung keluar hotel. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 6.20 pagi, tapi suasana masih sangat gelap di Melaka. Tujuan pertama kami tentu saja adalah Stadthuys. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, Stadthuys adalah pusat kawasan heritage Melaka. Berupa sebuah area yang dikelilingi bangunan-bangunan berwana merah penginggalan Belanda. Nama lain dari Stadthuys adalah Dutch Square. Salah satu yang terkenal tentu saja Gereja Christ Church Melaka yang sudah berdiri sejak tahun 1753. Di tengah area tersebut terdapat air mancur victoria yang konon merupakan hadiah untuk queen victoria. Dan salah satu lagi bangunan yang berada di area ini adalah menara jam Tan Beng Swee, yang sudah berdiri sejak abad 19. Saat kami disana suasananya sangat sepi. Mungkin kami berwisata tidak di hari yang tepat, bukan di akhir pekan, makanya sepi. Tapi ini keuntungan buat kami berdua, jadi bisa eksplore kawasan ini sepuasnya.

Berjalan lagi, kami menemukan sebuah kincir angin kecil yang ditumbuhi bunga-bunga warna-warni yang sangat cantik. Kami pun langsung berpose disana. Yak, meskipun belum kesampaian ke Belanda, setidaknya foto-foto di depan kincir angin ini serasa berada di Amsterdam sono, he he he.

Lanjut perjalanan, kami berjumpa dengan hotel Casa Del Rio. Konon ini adalah hotel dengan rate tertinggi di Melaka. Dari luar, hotel ini memang tampak cantik dengan arsitektur eropa kuno. Sungai Melaka yang mengalir tepat di depannya lebih mempercantik tampilan sang hotel. Terutama kala malam tiba, karena kerlap-kerlip lampu hotel yang membentuk refleksi di sungai. Kami memang tidak sempat menikmati indahnya malam di area hotel Casa Del Rio, tapi kami beruntung. Karena pagi itu langit masih belum terlalu terang, lampu-lampu hotel masih bergemerlapan sehingga kami masih dapat menikmati sisa-sisa kecantikan Casa Del Rio.

Beberapa meter dari hotel Casa Del Rio, kami menemukan sebuah kapal besar berwarna cokelat tengah terdampar di dataran melaka. Itu memang kapal sungguhan yang kini dijadikan musium maritim. Kami tidak sempat masuk kedalam karena keterbatasan waktu. Karena waktu terbatas pula, kami tidak sempat pula menikmati panorama kota Melaka dari ketinggian 80 m melalui menara taming sari. Menara Taming sari adalah bangunan tertinggi di Melaka. Untuk bisa menikmati atraksi yang di suguhkan Menara Taming sari dikenakan tarif tiket RM 20 per orang.

Dan perjalanan menyusuri kawasan heritage Melaka berakhir pada benteng A Famosa, sebuah benteng peninggalan portugal, serta bukit St Paul, sebuah gereja tua peninggalan Inggris yang terletak di sebuah bukit yang cukup tinggi. Gereja ini sudah tidak beratap dan didalamnya terdapat banyak sekali batu nisan.

Sebenarnya di samping benteng a famosa, terdapat istana kesultanan Melaka. Tapi karena kelelahan, terutama setelah menyusuri puluhan anak tangga demi mencapai st paul hill, kami pun mengurungkan niat untuk mampir kesana dan langsung berbalik pulang menuju guest house.

Ketika tiba di kawasan Stadthuys lagi, ternyata suasana sekarang luar biasa ramai. Puluhan, bahkan ratusan turis berkumpul di kawasan ini. Bus-bus pariwisata ramai menurunkan para penumpangnya dan bergabung dengan turis-turis yang sudah sampai disana sebelumnya.

Dan ini dia daya tarik Melaka, becak wisata. Melaka sangat terkenal dengan becak wisatanya yang dihias yang sangat cantik dan full music. Becak hias ini akan mengantar para pelancong untuk mengelilingi area Stadthuys dengan diiringi alunan musik.

Di tengah perjalanan menuju guest house, kami melewati Jalan Hang Jebat, Malaka atau yang lebih dikenal dengan nama Jonker Street. Jonker Street adalah tempat paling happening di Melaka saat malam tiba, terutama di akhir pekan. Di jalanan ini tumplek blek warga-warga Melaka dan para pelancong. Suasanya hampir mirip Khao San Road di Bangkok, ataupun acara pasar malam di beberapa daerah di Indonesia. Sayang sekali, saat aku kesana, aku tidak sempat menikmati suasana ramanya Jonker Street. But its okay, insya Allah lain kali pasti ada kesempatan.

Tepat jam 12 siang, kami check out dari guest house. Sayang sekali, kala check out, kami tidak sempat berpamitan ke teman-teman baru yang barusan kenal semalam karena beberapa dari mereka ada yang masih tertidur, tengah keliling Melaka atau bahkan sudah check out duluan. Rasanya kurang sekali cuman menikmati semalam di Melaka. Suasananya yang sangat menyenangkan dan nyaman membuat ingin berlama-lama di kota tua ini. Dan itulah mengapa banyak turis yang datang kemari. Melaka (dan juga George Towd di Penang) benar-benar menunjukkan bahwa kawasan kota tua yang di tata dan kelola dengan baik bisa menjadi daya tarik wisata tersendiri bagi para turis yang ujung-ujungnya menjadi salah satu sumber devisa negara.

Dari Melaka, kami akan melanjutkan petualangan di negeri Jiran ini dengan mngunjungi sang ibukota, yakni Kuala Lumpur.

20 thoughts on “Semalam di Melaka

  • 21/03/2013 at 16:26
    Permalink

    wiih… apiiik… trims Surya sudah mengajak kami mengintip keindahan malaka… ditunggu foto2 cantik berikutnya dari KL ya 🙂

    “Okey mbak Mechta”

    Reply
  • 22/03/2013 at 08:53
    Permalink

    aku dulu PP sehari di malaka, jd ga sempet nginep. bagus juga ya klo malem

    “Wah sayang Mil kalau cuman PP, padahal Melaka asyiknya justru di malam hari…”

    Reply
  • 22/03/2013 at 11:56
    Permalink

    Aku juga pengen bisa ke LN Mas, yang deket-deket dulu aja gpp lah, yang penting kan pernah menghirup udara di luar Indo 😀

    “Tetaplah bermimpi mbak, insya Allah suatu hari nanti, Mbak Yuni bisa mewujudkan mimpi itu.. Yakin deh.. :)”

    Reply
  • 22/03/2013 at 12:04
    Permalink

    Kalau baca sejarah tentang kota Malaka kok jadi teringat pelajaran sejarah SMP. dulu pas pelajaran itu ruwet banget, pke ngapalin nama orang, tahun kejadian dan teori orang Poertugis tentang gold, gospel dan glory 😀
    Dan dari foto-foto diatas itu penampakan bangunan di kota Malaka jadi seperti negara Eropa, barangkali pengaruh dari negera-negara jajahannya kali ya..
    Keren banget pokoknya poto-poto itu, jadi ngiri saya 😀

    “Yup, itu memang pengaruh dari penjajahnya. Tapi salut sama pemerintahan Malaka yang masih tetap menjaga bangunan tua sisa-sisa kolonialisme jaman dulu”

    Reply
  • 25/03/2013 at 13:11
    Permalink

    Suryaaaaa…bener-bener kagum dengan kreativitas Surya dan Dewi mengambil waktu buat berdua. Salut!

    Duluuu sekali, saya pernah ke Melaka, tapi saking lamanya saya udah nggak inget lagi gimana suasananya. Yang pasti, disana ada sebuah benteng kan?
    Jadi, trima kasih ya sudah berbagi cerita dan foto disini. Rasanya semua tempat akan indah bila ditulis dan difoto sama Surya…keren pol lah pokoke, apalagi yang di depan kincir angin itu, duuuuh, kapan ya saya dan mas Budi bisa foto begitu?
    😀

    “Yup ada benteng dan banyak sekali bangunan tua yang masih terawat mbak. Sepertinya Mbak Irma, Mas Budi dan Risa perlu jalan2 bareng deh. Nanti Risa yang motoin Mbak Irma dan Mas Budi. Pasti romantis, he he he”

    Reply
  • 25/03/2013 at 13:12
    Permalink

    Bandara, terminal bahkan stasiun yang rapi, bersih dan adem itu juga bikin saya mupeng lo Sur, kapan ya negara kita bisa punya tempat-tempat umum yang seperti itu?
    🙁

    “Nah itu dia mbak, negeri kita sepertinya agak gimana gitu kalau membangun infrastruktur untuk kepentingan umum. Gak MRT, gak Monorail, gak terminal berpadu di PuloGebang, semuanya mangkrak.. Sayang sekali.. hiks hiks”

    Reply
  • 01/04/2013 at 16:06
    Permalink

    Suryaaaaa…
    ckckck…
    Itu dikau bawa tripod ato dipoto in ama orang niiiih?

    KArena kita selalu gagal kalo mau poto berempat dan sok selca…hihihi…

    “Iya mbak, aku kemana-mana mesti bawa tripod, alat untuk narsisme hehehe”

    Reply
  • 01/04/2013 at 16:09
    Permalink

    Seruuuu banget backpacker nya yah Surya…
    Untunglah jaman sekarang semua booking udah bisa via online yah…

    jadi cari hotel ato guesthouse lebih gampang dan gak deg degan karena banyak review nya…

    Waktu di Korea itu aku juga sempet nginep di losmen begitu juga di daerah Hongdae..
    seru sih, berpetualang banget jadinya 🙂

    “Nah, sudah ngerasain asyiknya backpacker kan mbak. Nagih kan ya? Ya itu yang kualami, he he he”

    Reply
  • 23/05/2013 at 21:38
    Permalink

    pengalaman yang indah.. ROMANTIS pastinya
    fotonya keren, bagus banget
    terimakasih atas berbagi ceritanya..

    “Terima kasih mbak dwi telah berkunjung ke blog ini :)”

    Reply
  • 24/05/2013 at 08:34
    Permalink

    Keren banget viewnya, hotelnya adem juga kayaknya ^_^
    Wah mesti kesana nih buat liburan ^_^

    “Wajib Vi. Apalagi dari riau kayaknya ada penerbangannya deh, naik Wings Air kalau ga salah…”

    Reply
  • 11/06/2013 at 22:06
    Permalink

    naik klia transit ke bts berapa lama mas? ongkosnya berapa? terus dari bts ke melaka sentral nama busnya apa, ongkosnya? bus panorama 17 itu rutenya kemana aja yah, lewat jl.melaka raya ga ya? karena rencananya mau ke mahkota medical centre bawa anakku berobat.

    thanks for sharing..

    “Sebenarnya kalau dari bandara terminal LCCT maupun KLIA ada bus langsung ke Melaka tanpa lewat BTS, yaitu naik bus transnasional, bahkan kalau ga salah ada yang langsung ke Mahkota Medical Center. Info ada di link ini http://www.lcct.com.my/transportation/bus-services/buses-from-malacca#lcct-to-malacca
    Waktu itu aku lewat BTS karena gak ngejar bus itu. KLIA Transit ke BTS skitar 25 menit, ongkos sekitar RM 8. BTS ke melaka sentral, banyak pilihan busnya, ada transnasional atau yang lain. Ongkos sekitar RM 12.5, lama perjalanan 2 jam-an. Melaka Sentral ke Mahkota bisa pakai bus no 17 juga, ongkos sekitar RM 2.
    Semoga membantu dan semoga sang buah hati lekas sembuh ya

    Reply
  • 28/11/2013 at 17:09
    Permalink

    alo apakah bisa bertanya bagaimana caranya untuk mendapatkan alamat or no kontak guest house yang kalian nginap? trus selama di malaka kalian jalan ikut tour atau bagaimana? thanks infonya

    “Oriental Residence Riverside Guest House, No 78, Jalan Kampong Pantai, 75200, Malacca. Kontaknya Pak Asri +60122857297. Selama di Malaka ya jalan sendiri aja”

    Reply
  • 12/01/2014 at 18:44
    Permalink

    Wah info perjalanannya berguna banget. Ohya kak, aku mau nanya dong, bus ke melaka, baik yg dr LCCT maupun TBS, mesti online booking atau bisa langsug pesan on the spot?

    Demikian, Kak. Terima kasih. Mohon infonya.

    Best,
    Atikah
    atikahfathinah [at] gmail [dot] com

    “Bisa online booking, bisa juga langsung kok. Aku kemarin langsung on the spot terus kok”

    Reply
  • 19/02/2014 at 11:22
    Permalink

    halo, kami bulan Juni mau ke Melaka tp dari Johor Bahru, kalo bis express seperti itu kudu pesan online/websitenya apa? takutnya kalo beli langsung ngga kebagian…di Melaka ke mana2 enak jalan kaki aja kan?thanks infonya ya…

    “Seperitnya mending beli langsung aja. Insya Allah ga kehabisan, cuman mungkin waktunya bergeser aja. Kalau ke Melaka, di kota tuanya mending jalan kaki aja. Kemana-mana deket kok. Kalau capek ya tinggal naik becak aja”

    Reply
  • 14/03/2014 at 13:20
    Permalink

    mas….mau booking guest housenya via apa ya

    “Aku kemarin pake hostelworld dot com dan agoda dot com mbak”

    Reply
  • 01/06/2014 at 02:10
    Permalink

    Wah, tulisannya cukup membantu sekali, kebetulan ada rencana ke Malaka, tapi via Johor , dan rencana naik Bus yg paling akhir dari Johor, skitar jam 7 malam, kira2 kalau sampai di Terminal Malaka Sentral & menginap semalam disana , aman gak ya?
    sepertinya perjalanan johor ke malaca skitar 2,5 jam & pasti sampai nya di malaka sentral sudah malam dan bis menuju pusat kota sepertinya sudah tidak ada lagi , apa resto 24 jam di malaka sentral? terima kasih sudah berbagi info tentang malaka , sangat berguna ^^

    “Sebelumnya terima kasih telah berkunjung ke blog ini. Jika datang terlalu malam di Malaka, mungkin bisa ngobrol2 dengan penumpang lain di bus, siapa tahu bisa shared cost naik taksi, jika memang bus sudah tidak beroperasi. Saya kurang tau, apakah bisa menginap terminal malaka sentral bisa. Untuk resto 24 jam, kalau tidak salah ada McD disana. Semoga membantu, dan selamat liburan :)”

    Reply
  • 03/07/2014 at 16:58
    Permalink

    assalamualaikum salam kompak dari orang melaka.

    “Wa’alaikumussalam Warrahmatullohi Wabarokatuh. Salam kompak juga Pakcik :)”

    Reply
  • 23/08/2014 at 14:49
    Permalink

    Mas cari makanan halal disana Ada ga di daerah jongkeR? Terus dari terminal bus sentral malaka ke gedung merah berapa lama di ukur jam nya? Menggunakan bus panorama? 15 menitkah?
    Makasih ya

    “Makanan Halal di Jongker aku gak yakin mbak. Kalau mau yakin halal ada penjual masakan tengiri di belakang hotel casa del rio. Untuk naik bus te gedung merah bentar kok. Ya sekitar 15 menit, tapi menunggu bus panoramanya yang tujuan Bangunan Merah yang agak lama”

    Reply
  • 17/09/2014 at 22:19
    Permalink

    Mas, LCCT itu apakah berada di area KLIA? Atau harus naik kendaraan lagi? Saya berencana mengantar kakak ke Melaka untuk berobat, dan ternyata tidak ada penerbangan langsung ke Melaka dari Pekanbaru.
    Apakah Mahkota Hospital mudah diakses? Terimakasih.

    “Ooo, sekarang tidak ada ya. Dulu setahuku ada, Pak, pernah baca di Majalah Lion Air. Yang melayani Wings Air. Tapi mungkin sekarang sudah tutup.
    Untuk terminal LCCT di Malaysia sudah tidak dioperasikan lagi sekarang. Gantinya untuk air asia landing di KLIA2. Coba googling saja pak, bus yang melayani rute KLIA2 – Malaka. Kalau Mahkota Hospital mudah kok aksesnya. Bus dari KLIA2 setahu saya ada yang pemberhentian terakhirnya di Malaka Sentral, ada yang langsung ke Mahkota Hospital. Kalaupun dari Malaka Sentral, tinggal naik bus yang jurusan bangunan merah (saya lupa nomornya), nanti turun di Mahkota Hospital. Atau kalau mau nyaman ya taksi :). Semoga membantu dan semoga sang kakak lekas sembuh ya Pak”

    Reply
  • 24/09/2014 at 12:44
    Permalink

    Blognya keren fotonyaa keren2 juga
    Klo boleh minta saran mau ke singapur, malaysia, malaka enaknya mulai dari mana??

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*