Mengintip Manila

Seperti yang pernah ku ceritakan dalam postinganku sebelumnya, What a hectic two weeks, di pertengahan bulan Juni 2012 yang lalu, aku sempat berkunjung ke Manila, salah satu kota besar di kawasan Asia Tenggara, sekaligus ibu kota Negara kepulauan, Philipina. Ini bukan traveling biasa, karena aku ke Manila dalam rangka studi banding dari perusahaan.

Mengunjungi Manila sebenarnya tidak ada dalam rencana jangka pendek travelingku. Alasannya tak lain dan tak bukan karena menuju Manila dari Surabaya membutuhkan waktu tempuh perjalanan yang lumayan panjang serta biaya yang tidak sedikit. Tidak ada penerbangan langsung dari Surabaya ke Manila, jadi semua musti transit.

Meski tidak ada dalam rencana jangka pendek, aku sudah pernah melakukan sedikit riset tentang Manila dan Philipina. Harapanku, suatu hari nanti, aku bisa berkunjung ke Philipina. Sebagai Negara kepulauan, Philipina dikaruniai pantai dan laut yang sangat indah. Ada pantai pasir putih Boracay di Palawan. Lalu Coron Island, raja ampatnya Philipina serta Puerto Princessa. Manila, ibu kotanya, memiliki peninggalan sejarah yang masih terawat dengan baik. Salah satunya adalah kota tua Intramuros. Konon, berada di Intramuros, membuat kita seolah-olah berada di eropa. Ini semua karena banyak bangunan peninggalan portugis dan spanyol masih berdiri dengan gagah di kawasan ini.

Jadi, aku sangat bersyukur ketika reward dari kantor membawaku ke Philipina. Ini sungguh di luar dugaanku. Tahun-tahun sebelumnya, negara kunjungan dari para pemenang lomba tidak jauh dari Singapura, Malaysia ataupun Thailand.

Aku berangkat ke Philipina bersama rombongan yang total berjumlah 7 orang. Lima orang diantaranya adalah para pemenang plus dua orang pendamping, masing-masing dari departemenku dan dari SDM. Kami berangkat ke Philipina tanggal 12 Juni 2012. Pesawat kami, Cathay Pacific CX 781, take off dari bandara Juanda tepat jam 8.15 pagi. Pesawat ini akan membawa kami terbang menuju Hong Kong terlebih dahulu. Perjalanan Surabaya – Hongkong memakan waktu 5 jam, dan ini adalah perjalanan terbang terpanjangku sejauh ini.

Kami terbang dengan pesawat Airbus A330 – 300. Pesawat yang cukup besar dengan konfigurasi kursi 2 – 4 – 2. Dengan fasilitas full board airlines seperti makanan, snack serta layar monitor yang menyediakan tayangan film dan game membuat perjalanan terasa cukup nyaman.

Tepat pukul 14.00 waktu hongkong, kami mendarat di Hong Kong International Airport. Begitu memasuki bandara, kami langsung terpesona dengan kemegahan HKIA. Dan shutter kameraku pun mulai beraksi. Tapi kami tidak punya banyak waktu untuk menikmati HKIA, karena kami harus segera menuju gate tempat pesawat ke Manila akan diberangkatkan.

Pukul 16.35, pesawat Cathay Pacific dengan nomor penerbangan CX903 take off dari HKIA menuju Manila. Waktu tempuh Hong Kong Manila Sekitar 2 jam. Kali ini pesawat yang aku tumpangi adalah Boeing 747 – 400 yang mempunyai konfigurasi 3 – 4 – 3. Ada sebuah kejadian unik yang kutemui ketika di pesawat. Sebelum take off, salah seorang pramugari, menawariku untuk pindah kursi agar bule yang kebetulan duduk di sampingku bisa sebangku dengan pasangannya. Nah, yang bikin unik, si pramugari mengajakku berbicara dalam bahasa tagalog karena mengira aku seorang Filipino. Dan kejadian ini menjadi awal kejadian-kejadian serupa yang kualami selama di Manila.

Sekitar pukul 19.00 malam waktu Manila, pesawat pun mendarat dengan mulus di Ninoy Aquino International Airport (NAIA), Manila. Arsitektur NAIA bisa dibilang sangat mirip dengan Bandara Soe-Ta, mulai dari konsep gate hingga hall kedatangan. Benar-benar serasa di negeri sendiri.

Dari Airport, kami naik taksi menuju ke hotel kami di daerah Makati. Manila sama seperti Jakarta, tidak mempunyai Kereta api yang khusus untuk bandara. FYI, di NAIA ada dua jenis taksi, yakni taksi dengan argo dan taksi dengan flat rate. Kami sendiri memilih taksi flat rate dengan tariff PHP (Philippines Peso) 450 peso untuk ke area Makati. Konon, jika menggunakan taksi argo, tarifnya hanya sekitar PHP 150 hingga 200 saja. Nilai tukar 1 peso sekitar 230 rupiah.

Kenapa memilih taksi flat rate yang lebih mahal? Ini karena kami semua belum pernah ada yang ke manila, jadinya lebih aman jika naik taksi flat rate. Lagipula daya tampung taksi flat rate lebih besar. Jika mobil untuk taksi argo adalah jenis sedan (dan kebanyakan berwarna kuning), maka taksi flat rate menyesuaikan dengan jumlah penumpang. Karena kami bertujuh, pihak taksi memberi kami jenis mobil minivan.

Kesan pertamaku begitu taksi membelah kota Manila adalah kota ini ternyata cukup sepi. Ini sangat berbeda dengan komentar dari beberapa orang di internet yang kebanyakan mengeluhkan kemacetan Manila. Lha ini kok lancar banget jalanannya. Usut punya usut, ternyata tanggal 12 Juni, tepat di hari kedatangan kami ini adalah hari libur nasional Philipina karena mereka ini adalah hari kemerdekaan mereka. Ooo.. pantes jalanan terasa lengang dan lancar. Btw, kalau perayaan hari kemerdekaan di philipina ada panjat pinang, tarik tambang ataupun lomba makan kerupuk atau enggak ya, hi hi hi.

Suasana kota Manila benar-benar sangat mirip dengan kota-kota di Indonesia, mulai dari papan petunjuk arah (papan berwarna hijau dengan font warna putih), cat di trotoar yang berwarna hitam putih hingga banyaknya pengemis yang meminta-minta di lampu merah. Yang berbeda adalah mobil di Philipina menggunakan setir kiri, sehingga lajur cepatnya juga di sebelah kiri. Jadi jika di Indonesia, belok kiri jalan terus, kalau di Philipina, belok kanan yang bisa langsung.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 menit, sampailah kami di Makati Palace Hotel. Inilah tempat tinggal kami selama di Manila. Hotelnya cukup nyaman, hanya saja lokasinya berada di antara pusat hiburan malam, jadinya suasananya cukup ramai. Untungnya aku mendapatkan kamar di lantai 8, jadinya kebisingan di luar tidak terlalu terdengar dari kamar hotel.

Selama dua hari tiga malam di Manila ini, kegiatan kami cukup padat. Sesuai rencana, kami mengunjungi dua perusahaan. Kami bertujuh belajar dan menimba ilmu, pengalaman dan berbagi kisah sukses dengan dua perusahaan tersebut dalam menjalankan roda perusahaannya selama ini.

Bagiku pribadi, selain menimba ilmu tentang proses bisnis sebuah perusahaan, acara studi banding ini aku manfaatkan untuk melatih kemampuanku dalam berbahasa inggris. Philipina memang terkenal sebagai Negara yang mendorong rakyatnya untuk bisa fasih berbahasa inggris. Aksen inggris mereka juga sangat jelas, jadinya cukup nyaman berkomunikasi dengan mereka.

Selama di Manila, aku mendapatkan partner yang cukup enak untuk diajak berkomunikasi. Selain karena usia kami yang tidak terpaut jauh, kebetulan kami mempunyai hobi yang sama, yakni fotografi. Jadinya nyambung banget. Meski kadang aku sering panik dan bingung menemukan padanan kata bahasa inggris, tapi dia bisa menebak maksudku.

Dia juga senang bercerita tentang kondisi negaranya. Kenyataan bahwa Philipina adalah sebuah Negara yang kekayaannya hanya dikuasai oleh segelintir keluarga diantaranya keluarga Aquino, Ayala, Campos dan Ramos. Selain itu ada beberapa kebijakan Negara yang sangat tidak memihak rakyatnya, contohnya adalah penjualan tanah secara besar-besaran di pulau Luzon bagian utara ke warga asing. Di Philipina, orang asing bisa membeli tanah dengan mudah. Mereka pun dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Sedangkan rakyat Philipina masih harus membayar pajak. Sebuah kebijakan yang sangat ironis.

Di tengah padatnya jadwal acara, kami tetap menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa tempat menarik di Manila. Tapi memang tidak terlalu banyak yang bisa kami datangi, karena hujan terus menerus mengguyur Manila selama kunjungan kami di sana. Kami memang sempat mengunjungi kota tua Intramuros, tetapi hanya Fort Santiago saja yang sempat kami jelajahi. Ketika akan mengunjungi Manila Cathedral, Gereja St Agustin ataupun Casa Manila, hujan mengguyur kota dengan deras. Untungnya aku sempat memotret Manila Cathedral dari jauh sebelum hujan mengguyur.

Meski hanya sedikit tempat menarik yang bisa kami kunjungi, kami beruntung bisa berhubungan dan berkomunikasi secara langsung dengan beberapa warga philipina. Banyak sekali cerita tentang Manila dan Philipina yang kami dapat dari mereka, mulai dari yang baik hingga yang buruk, yang itu semua jarang ku dapatkan dari perjalananku ke Luar Negeri sebelumnya.

Untuk itulah aku memberi judul postingan ini mengintip Manila. Tidak banyak yang bisa kulihat ataupun tempat yang kukunjungi selama dua hari di Manila, tetapi cerita dari beberapa warga asli philipina membuatku bisa merasakan, bagaimana sebenarnya keadaan bangsa ini sesungguhnya. Mungkin tidak bisa merasakan semuanya, tetapi sebagian besarnya. Yap, seperti mengintip, kita tidak bisa melihat secara utuh apa yang kita intip, tapi kita bisa merasakan sebagian besar hal yang kita intip itu. Bukan begitu?

9 thoughts on “Mengintip Manila

  • 09/07/2012 at 09:05
    Permalink

    Istilah ‘mengintip’ buat judul postingan ini unik banget, Surya 😉

    Dan saya langsung menebak-nebak, apakah wajah Surya memang kayak kebanyakan orang Philipina sampe-sampe di pesawat diajak ngomong bahasa Tagalog? Hoho, ini nih yang harus dibuktikan kalo nanti saya ketemu Surya di…Manila…uhuk, di Surabaya aja belum pernah ketemu ya, apalagi janjian ketemu disana…
    😀

    “Lho, mbak Irma sudah di Surabaya lagi kah?? Btw, wajah kita memang mirip dengan filipino mbak. Yang dikira orang philipina bukan hanya aku saja, tapi beberapa teman juga.. :)”

    Reply
  • 09/07/2012 at 09:08
    Permalink

    Eh, eh…setelah ini ada posting lanjutannya kan?
    Selain bandara bersih yang ada di foto ini, ceritain tentang makanan khas disana juga dong…entah kenapa, saya selalu penasaran kalo sebuah tulisan nggak menyinggung-nyinggung tentang makanan… 😉

    Thanks buat cerita perjalanannya Suryaaaaa, saya belum pernah kesana, jadi tulisan ini bener-bener membuat saya merasa ikutan ‘mengintip’ Manila 😀

    “Ada mbak… Tenang, masih disusun draft postingannya.. :)”

    Reply
  • 09/07/2012 at 09:50
    Permalink

    Memang mirip oorang Philipina sih Sur.
    *sotoy*

    “Yaaa,, 11 – 12 lah kalau sama Christian Bautista.. wkwkwkwkwkwkw”

    Reply
  • 09/07/2012 at 10:24
    Permalink

    hadeeehhh, mas surya bikin iriiiii :(( menjelajah gretongan sampe ke filipina juga rupanya…
    kalo ke Filipina, pengennya ke Chocolate Hills Bohol, Boracay Beach, El Nido, daftarnya sudah banyak tapi entah kapan bisa kesana, bismillah… 😉

    “Itu juga sudah masuk daftar list sebenarnya Lel.. Terutama Coron Island.. :)”

    Reply
  • 09/07/2012 at 10:28
    Permalink

    wih, asik bangat jalan” yh …
    di tunggu yang selanjutnya yah 🙂

    “In progress writing”

    Reply
  • 09/07/2012 at 10:35
    Permalink

    pinoynya cantik2 ga sur? #halah 😀

    wow.. kayaknya dah abis nih negara di asteng dikunjungi
    lucky u, and envy u
    *sokngenggres* 😛

    “Yach, ga jauh lah sama indonesia.. :)”

    Reply
  • 10/07/2012 at 12:00
    Permalink

    Depz yang dicari cewe pinoynya mulu :)), yg mesti di cari tuh ce tulen apa ce mutan depz.

    Huwwww jalan-jalan mulu, enaknya ^^

    “Yach, itulah si depz.. :)”

    Reply
  • 13/07/2012 at 08:00
    Permalink

    bandaranya bersiiih… 🙂
    oya, karena mirip org sono…dapat gratisan atau diskonan gak/ *haha..pertanyaan emak2 hobi gratisan..*

    “Ha ha ha.. Malah enggak mbak, yang dapat diskonan malahan orang asing :D”

    Reply
  • 15/07/2012 at 14:45
    Permalink

    Cak kira kira di surabaya ada ya nggak suasana seperti di manila a.k.a Manila KW untuk sekedar berfoto-foto 😀

    “Hmm.. neng ndi yo.. Paling2 ya kawasan kota tua, JMP dan sekitarnya Dho”

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*