Semilir Angin Samalona dan Kokohnya Fort Rotterdam (Makassar Day 1)

Makassar, ibu kota propinsi Sulawesi Selatan ini, sudah mempesonaku sejak pesawat citilink GA072 mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Sebuah bandara yang luar biasa cantik dengan perpaduan arsitektur modern minimalis yang ramah lingkungan dengan bangunan khas Sulawesi Selatan, tepatnya Tana Toraja. Dari beberapa bandara yang sudah pernah kusinggahi di Indonesia, bandara ini menurutku yang terindah.

Bangunan artistik di bandara Sultan Hasanuddin seolah menjadi gerbang eksotisnya pariwisata Sulawesi Selatan yang sesaat lagi akan kami jelajahi. Aga Kareba!!

Sebelumnya, kami berdua memulai perjalanan ke Makassar ketika hari masih sangat pagi. Jam 4.45 pagi, tepat setelah sholat subuh, kami sudah berangkat dari rumah menuju bandara. Tepat pukul 7 pagi, pesawat pun take off. Setelah terbang sekitar 1 jam 30 menitan, akhirnya kami pun sampai di Makassar.

Keluar dari bandara Sultan Hasanuddin, kami langsung menuju halte bus bandara yang terletak di dekat terminal kedatangan. Saat kami tiba di halte, tidak ada bus yang terparkir disana. 15 menit berlalu, tidak ada tanda-tanda kehadiran si bus. 30 menit berlalu, kondisi masih sama. Bahkan hingga satu jam berlalu, bus belum kunjung datang.

Meskipun bus tidak kunjung datang, kami berdua dengan setiap menunggu. Kondisi ini memang sudah kami perkirakan sebelumnya. Dari beberapa blog yang kubaca sebelum berangkat seperti Mbak Vicky, kami mendapat informasi bahwa bus damri bandara memang lama datangnya. Kami pun sudah mendapatkan konfirmasi dari petugas bandara bahwa bus bandara tengah beroperasi tetapi masih belum datang.

Setelah lebih dari satu jam menunggu, bus yang kami nantikan pun akhirnya datang juga. Perjalanan dari bandara ke kota Makassar memakan waktu sekitar satu jam. Kami turun di ujung jalan Pattimura untuk kemudian jalan kaki ke arah pantai losari. Selama di Makassar, kami menginap di Losari Beach Inn yang terletak area Pantai Losari, tepatnya di JL Penghibur. Sebelumnya, aku sudah booking lewat Booking dot com dan mendapat harga sekitar 340 ribu rupiah per malam. Harga yang sebenarnya cukup mahal, mengingat kondisi kamar yang biasa saja, tapi begitu melihat rate yang dipajang oleh pihak hotel bahwa rate kamar kami harusnya 450 ribu rupiah per malam, kami pun bersyukur sekali.

Memang hotel-hotel di kawasan JL Penghibur ratenya relatif mahal. Padahal fasilitasnya sangat minim. Yang membuat mahal tidak lain adalah karena lokasinya yang dekat dengan anjungan Pantai Losari dan kawasan souvenir di JL Somba Opu. Kamar kami sendiri tidak terdapat jendela, sehingga terasa cukup lembab.

Setelah bongkar backpack dan sholat, kami pun langsung meluncur ke Fort Rotterdam yang hanya berjarak sekitar 400 m dari hotel. Meski dekat, cuaca terik Makassar siang itu membuat kami cukup kelelahan. Setelah 15 menit berjalan, sampailah kami di Fort Rotterdam. Di depan benteng, ada sebuah spot yang cukup menarik untuk foto, sebuah kumpulan huruf berwarna merah bertuliskan Fort Rotterdam. Sebelum masuk benteng, kami bernarsis ria didepan tulisan itu.

Tengah asyik memotret, kami didatangi seseorang yang menawarkan jasa mengantar ke pulau-pulau di sekitar Makassar, seperti Pulau Kayangan, Pulau Lae-lae dan Pulau Samalona. Awalnya terus terang kami merasa sedikit terganggu dengan kehadirannya. Aku sudah berusaha menolak dengan halus, tetapi dia masih keukeuh menawarkan jasanya.

Dengan iseng, karena memang awalnya aku berencana untuk pergi ke salah satu pulau di barat Makassar itu, aku pun membuka percakapan dengan dia. Aku tanya harga ke Samalona berapa, dia langsung membuka di angka 300 ribu rupiah. Aku sedikit kaget, karena rata-rata harga sewa perahu untuk ke samalona dari beberapa blog yang kubaca sekitar 400 hingga 500 ribu. Bahkan ada yang memasang harga 700 ribu rupiah. Bisa dapat harga 300 ribu setelah nego habis-habisan. Nah, ini belum apa-apa sudah pasang harga 300 ribu. Nego bentar dan kami pun dapat harga 250 ribu.

Pulau Samalona adalah sebuah pulau yang terletak sekitar 7 km di sebelah barat kota Makassar dengan waktu tempuh sekitar 20 menit. Laut relatif tenang saat perjalanan kami karena selain masih dekat dengan daratan, kondisi cuaca saat itu sangat cerah, meski di arah barat sana, tampak langit menggelayut mendung.

Air laut yang menghijau serta hamparan pasir putih yang lembut menyambut kedatangan kami di Samalona. Begitu kapal mendarat, dua anak kecil menghampiri kami dengan membawa google untuk snorkeling. Kami menolak dengan halus penawaran mereka. Kami berangkat ke Samalona dengan tidak terencana, akibatnya kami lupa membawa baju ganti. Sebenarnya kami bisa menunggu hingga esok hari ke Pulau ini, tapi dengan musim yang masih tidak menentu antara panas dan hujan, kami pun tidak berani mengambil resiko untuk menunda. Bagaimanapun juga, jika ingin berburu foto di sebuah pulau, cuaca cerah adalah cuaca terbaik. Kalau mendung apalagi hujan, maka selain hasil foto yang kurang sip, pelayaran pastinya akan sangat terganggu karena angin dan kondisi laut akan lebih bergelombang.

Pulau Samalona ini luasnya sekitar 2..4 hektar. Konon dahulu luas pulau samalona mencapai 6.5 hektar. Tapi kini menyusut karena semakin tingginya permukaan air laut. Banyak yang memperkirakan pada sepuluh tahun mendatang, pulau ini akan menghilang dari peta bumi. Sayang sekali. Dari sebuah papan yang terpampang di pulau, didapatkan informasi bahwa pulau ini didiami oleh 7 keluarga yang bersaudara. Bagi yang ingin bermalam di pulau ini, ada beberapa kamar yang disewakan dengan harga berkisar antara 300 hingga 500 ribu rupiah.

Aktivitas bawah laut seperti snorkeling dan diving bisa dilakukan di pulau ini. Dari cerita sang nakhoda kapal, di sebelah barat pulau, di kedalaman sekitar 30 meteran, terdapat bangkai kapal sisa perang dunia ke 2.

Karena tidak bermain air sama sekali, aktivitas kami berdua hanya foto-fotoan dan bermain-main di sekitar pantai. Meskipun hanya itu, kami sangat menikmati waktu kami disana. Saat kunjungan kami kesana, hanya kami berdualah pengunjung di Samalona. Jadi bisa dibayangkan, kami seperti berada di pulau pribadi, he he he.

Saat haus menyerang, dua orang bocah yang tadi menawarkan google snorkeling mendatangi kami menawarkan kelapa muda. Pas banget. Tapi sebelum pesan, aku memastikan dulu harganya, agar tidak dipukul mahal saat bayar nanti. Ternyata cukup mahal juga, 25 ribu rupiah per buah. Jadinya kami pun hanya memesan satu buah saja untuk berdua. Hmm.. rasanya nikmat sekali menikmati es kelapa muda di tengah cuaca terik seperti ini. Sepiring berdua lagi.. oh so romantic .. bercampur ngirit.. he he he

Setekah kurang lebih 2.5 jam aku dan istri menghabiskan waktu di Pulau Samalona, kami berdua pun kembali ke daratan Sulawesi. Oh iya, bagi pembaca wongkentir sekalian yang ingin ke pulau samalona juga, bisa coba menghubungi Pak Zaenal di nomor 081-242-897700. Semoga bisa dapat harga murah, atau bahkan lebih murah dari kami kemarin.

Sesampainya kembali di Makassar, kami berdua langsung menuju Fort Rotterdam, tujuan yang sempat tertunda tadi. Untuk masuk ke benteng tidak dipungut biaya, tapi ketika kita mengisi buku tamu, kita dimintai sumbangan sukarela untuk perawatan benteng. Ya, demi ikut melestarikan peninggalan sejarah ini, aku pun member sumbangan 10000 untuk berdua.

Fort Rotterdam masih sangat anggun dan kokoh. Bangunannya tampak terawat rapi meski usianya sudah cukup tua. Sejarahnya, benteng ini dibangun sekitar abad 16 oleh Raja Gowa. Pada masa penjajahan belanda yang dipimpin oleh kantor dagangnya VOC, benteng ini berubah fungsi menjadi pusat perdagangan dan penimbunan rempah-rempah sekaligus pusat pemerintahan Belanda di Wilayah Timur Nusantara.

Nama Rotterdam diambil dari tempat kelahiran C.J Speelman, sang Gubernur jenderal VOC yang memimpin penyerangan ke kesultanan GOWA yang dipimpin oleh Sultan Hasanuddin pada abad 17.

Fort Rotterdam ini juga adalah tempat pengasingan sekaligus wafatnya Pangeran Diponegoro, salah seorang pahlawan nasional yang dengan gagah berani melawan Belanda. Perang Diponegoro yang berlangsung sejak tahun 1825 1830 adalah salah satu perang terbesar di Indonesia yang membuat Belanda rugi besar.

Pada saat dibangun dulu, benteng ini mempunyai 4 sudut. Tapi sejak jatuh ke tangan belanda hingga sekarang ini, fort Rotterdam mempunyai 5 sudut yang dinamakan Bastion. Bastion merupakan bangunan yang kokoh dan posisinya terletak lebih tinggi di setiap sudut benteng , biasanya di sana ditempatkan kanon atau meriam di atasnya.

Mengunjungi fort Rotterdam membuatku seolah bisa merasakan bagaimana megah dan angkernya benteng ini di masa lalu. Sebuah simbol tirani Belanda di masa lalu.

Bangunan didalam fort Rotterdam yang dulunya menjadi gudang rempah-rempah kini menjadi musem La Galaligo. Didalamnya tersimpan banyak sekali peninggalan masa lalu seperti fosil manusia purba, sisa-sisa kerajaan Gowa serta replika perahu pinishi. Untuk masuk ke museum La Gallgo ditarik biaya 10.000 rupiah.

Dari Fort Rotterdam, kami berdua langsung kembali ke hotel untuk istirahat. Kali ini istriku meminta naik becak, karena memang kami sudah sangat lelah. Dan hari pertama di Makassar pun berakhir sudah.

9 thoughts on “Semilir Angin Samalona dan Kokohnya Fort Rotterdam (Makassar Day 1)

  • 25/04/2012 at 21:45
    Permalink

    *glek*
    begitu membaca es kelapa muda
    ckckck….tapi mahal juga yaa….?
    sedotannya satu berdua juga donk…?
    hihihi…..

    owh…di Makasar ada becak juga toh….?

    “Yup, mahal mbak. Soalnya monopoli sih…”

    Reply
  • 26/04/2012 at 15:32
    Permalink

    Wah, minum air kelapa berdua dari satu kelapa?
    So sweet banget, Suryaaa…
    Pasti Dewi juga hatinya berbunga-bunga 😉
    Trima kasih sudah berbagi cerita lengkap begini…kebayang deh gimana hebohnya perjalanan seharian yang ditutup dengan naik becak itu…ehm, ehm…di Surabaya nggak mungkin kan?

    “:p :p :malu:”

    Reply
  • 30/04/2012 at 14:08
    Permalink

    hwaaaaa…uda sampe samalona *mupeng*
    thank info cp-nya ya mas, smoga bisa segera menyusulmu kesana;)

    “Hukumnya wajib lel :)”

    Reply
  • 30/04/2012 at 19:38
    Permalink

    Foto pantai dengan awan putih itu..ck..ck..ck..byanget.. 🙂

    “Terima kasih apresiasinya mbak mechta :)”

    Reply
  • 29/05/2012 at 07:36
    Permalink

    “Jadinya kami pun hanya memesan satu buah saja untuk berdua. Hmm.. rasanya nikmat sekali menikmati es kelapa muda di tengah cuaca terik seperti ini. Sepiring berdua lagi.. oh so romantic .. bercampur ngirit.. he he he”

    Hahahaha..mesra dan lucu kalimat ini…Apaun bersama istri/suami tercinta pasti indah..

    Reply
  • 10/06/2012 at 07:21
    Permalink

    mau tanya nih, masnya ke makasar tepatnya tanggal berapa ya? dan tau nggak musim penghujan di sana mulai kapan karna takutnya kalau ke pulau samalona saat musim hujan kan pemandangannya bisa mengecewakan hehe

    saya kagum dengan terawat & bersihnya pusat2 wisata *dari yang saya liat di foto-foto di atas*, tapi rasanya ingin membuktikan sendiri 😀

    “Saya kesana bulan Maret mbak.. Antara musim hujan dan panas.. Saya kesana dapat panas setengah hari, lalu sisanya hujan.. Paling enak ya antara Mei – Agustus mbak, saat panas2nya”

    Reply
  • 30/06/2012 at 02:05
    Permalink

    Syiippp… mantab’s. Thisis my hometown bro … selamat menikmati pulau, lebih indah lagi kalau main ke Takabonerate National Park di Pulau Selayar

    Reply
  • 07/01/2013 at 16:05
    Permalink

    Mas…itu 250rb untuk satu org?? apa satu perahu? thanks infonya ya….

    Salam Ransel

    “Untuk satu perahu mbak.. Salam ransel juga :)”

    Reply
  • 12/01/2014 at 10:07
    Permalink

    wah mantap nih perjalanannya numpang nih mas sekalian jika ada yang berniat berwisata ke makassar butuh info RENTAL MOBIL ke spot2 wisata dan informasi yang mendukung perjalanan wisata anda kontak kami 085342633633 atau email ke = sulawesirentcar@gmail.com

    “Semoga bisnis rental mobilnya maju pesat dan amanah ya”

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*