Menjelajahi belantara Sumatera (Sumatera Utara Day 2)

Sabtu (16 Juli 2011) perjalanan menjelajahi belantara Sumatera Utara berlanjut. Ternyata cuaca hari ini masih tetap mendung. Tampaknya efek dari kebakaran hutan Riau ini menyebar ke seluruh pulau Sumatera. Tapi cuaca itu tidak menyurutkan langkahku untuk melanjutkan perjalanan travelling di belantara Sumatera Utara ini.

Perjalanan hari kedua ini dimulai tepat jam 8 pagi. Setelah check out, kami langsung diantar Bang Ronal menuju pelabuhan Ajibata. Dari sini kami naik fery menuju Tomok di pulau samosir. Lama perjalanan Ajibata Tomok ini ditempuh dalam waktu 45 menit.

Suasana didalam Fery sangat ramai dan riuh dengan obrolan para penumpang yang kebanyakan adalah warga samosir ataupun parapat. Mereka berbicara dengan suara lantang khas batak. Hmm, rasanya seperti di negara antah berantah, he he he. Suasana riuh ini ditambah dengan alunan musik yang diputar dengan volume yang sangat keras oleh si nakhoda. Aliran musiknya? Tentu saja, batak punya. Hmm, sebuah pengalaman yang tidak bakal terlupakan. Oh iya, ongkos naik fery ini cukup murah, hanya 4000 rupiah untuk sekali jalan.

Sesampainya di Tomok, kami berdua langsung berjalan menuju objek wisata yang pertama di lokasi ini, yakni Sigale-gale. Untuk menuju Sigale-gale, kami melewati barisan toko Souvenir khas danau toba.

Sigale-gale adalah sebuah boneka kayu yang bisa menari. Ada cerita mistis yang menyertai sigale-gale. Kurang lebihnya seperti ini, Dulu ada seorang raja yang mempunyai anak laki-laki. Raja tersebut sangat sayang pada anak laki-laki tersebut. Karena suatu hal, tiba-tiba anak itu meninggal. Raja pun bersedih. Lalu Raja membuat sayembara. Bagi siapa saja yang bisa membuat sesuatu yang bisa mengingatkannya pada anak tersebut maka akan diberikan hadiah. Akhirnya terpilihlah sebuah patung berbentuk anak laki-laki yang diberi nama sigale-gale.

Karena hanya sebuah patung, maka sigale-gale tidak bisa bergerak. Untuk itu, raja pun memanggil roh anaknya agar masuk ke patung tersebut. Sigale-gale pun akhirnya bisa bergerak. Pertunjukan patung sigale-gale tidak hanya untuk menghibur raja, tetapi juga untuk menyambut para tamu kerajaan.

Sekarang ini aura mistis Sigale-gale sudah sepenuhnya hilang. Sigale-gale kini hanya sebuah patung biasa. Tapi tarian sigale-gale yang melegenda itu masih bisa dinikmati. Tentu saja bukan roh yang kini menggerakkannya, tetapi seorang dalang.

Bagi para wisatawan yang ingin melihat atraksi tarian sigale-gale dikenakan biaya sebesar 80.000 rupiah untuk sekali pertunjukan. Selain melihat tarian, kita juga bisa menari bersama dengan sigale-gale lengkap dengan asesoris kain ulos.

Pada saat kunjungan kami ke Tomok, ada rombongan wisatawan yang dikoordinir oleh sebuah paket wisata sedang menyaksikan tarian sigale-gale. Kami pun bergabung dengan mereka dan menyaksikan pertunjukan. Lumayan, bisa nonton gratis, he he he.

Setelah pertunjukkan, kami menyempatkan diri berfoto bersama patung sigale-gale. Setelah berfoto jangan lupa untuk mengisi kotak sumbangan seikhlasnya. Ini semua demi perawatan cagar budaya Patung Sigale-gale.

Dari patung Sigale-gale, kami menuju ke Makam Raja Sidabutar. Tapi kami tidak menyempatkan diri masuk, karena demi menghemat waktu. Kami langsung menuju Museum Batak. Museum ini berisi peralatan dan peninggalan masa lampau dari suku batak toba, mulai dari perkakas, senjata dan mata uang.

Setelah menikmati museum batak, kami lalu belanja beberapa cindera mata sebagai koleksi dan untuk dibagikan kepada teman-teman dan saudara. Sebuah gantungan kunci dan miniatur berbentuk rumah batak toba menjadi pilihan souvenir kami.

Kami pun kembali ke Parapat. Naik fery yang sama dengan suasana yang sama pula dengan pada saat berangkat. Hanya saja, lagu yang diputar kali ini terdengar lebih familiar. Sebuah lagu oldies milik Pance F Pondaag berjudul aku masih seperti yang dulu mengalun dengan volume yang sangat keras di gendang telingaku.

Sesampainya di pelabuhan Ajibata, kami langsung tancap gas menuju Medan. Tetapi kali ini kami tidak lewat Siantar, tetapi lewat Berastagi. Tujuan kami adalah objek wisata air terjun sipiso-piso di desa Tongging dan Taman Simalem Resort di Merek.

Menuju medan melalui merek berarti melintas sisi utara danau toba. Pemandangan yang tersaji adalah hutan, hutan dan hutan. Jalannya luar biasa berkelok-kelok dan membuat istriku kembali mual-mual. Maaf ya mam, jadi tidak bisa menikmati perjalanannya :(.

Butuh waktu 3 jam untuk sampai di Air terjun sipiso-piso dari parapat. Biaya masuknya adalah 2500 rupiah per orang.

Air terjun sipiso-piso mempunyai ketinggian 110 meter. Air terjun ini adalah salah satu sumber air dari danau toba. Untuk bisa menikmati air terjun ini bisa dilihat dari atas. Tapi jika ingin merasakan segarnya percikan air terjun, maka kita harus menurunin ratusan anak tangga. Tidak hanya menurunin lho ya, jika ingin kembali ke tempat parkir, maka kita juga harus menaiki ratusan anak tangga. Awas licin. Aku sendiri memilih untuk tetap diatas saja, he he he.

Selain menikmati indahnya air terjun, dari sini juga bisa melihat view danau toba dari sisi utara. Benar-benar view yang ajaib. Alhamdulillah, cuaca saat itu cukup cerah, meskipun langit tidak terlalu membiru karena tertutup gugusan awan. Foto-foto dulu, mumpung cerah.

Selepas dari air terjun, kami mampir ke sebuah masjid di daerah Merek untuk menunaikan sholat jama Qoshor Duhur dan Ashar. Setelah sholat, kami beristirahat sejenak sambil mengamati kondisi cuaca yang semakin mendung saja. Kami pun akhirnya memutuskan untuk membatalkan niat ke Taman Simalem dan langsung tancap gas menuju Medan. Sayang sekali sih sebenarnya, tetapi dengan kondisi mendung gelap seperti ini, sangat tidak worth it jika tetap nekat menuju kesana. Selain agar tidak kemalaman di Medan, tiket masuk Taman Simalem Resort juga cukup mahal, yakni 200.000 rupiah per mobil.

Perjalanan dari merek menuju Medan sangat tidak menyenangkan. Jalanan rusak sangat parah, terutama di daerah Tiga panah, sebelum memasuki kota Kaban Jahe. Sesampainya di Kaban Jahe, kondisi jalanan mulai membaik. Kaban Jahe adalah ibukota kabupaten Tanah Karo.

Setelah Kaban Jahe, kami memasuki wilayah wisata Berastagi. Berastagi adalah daerah dataran tinggi yang sangat sejuk di selatan medan. Jika bagi orang Jakarta, mereka biasanya menghabiskan akhir pekan mereka di puncak, atau orang Surabaya ke Batu, nah jika orang medan, weekendnya ke Berastagi.

Yang terkenal dari berastagi adalah pemandian air panas dan sirup markisa. Sebenarnya ingin mampir sejenak di Berastagi untuk sekedar menikmati segaranya sirup markisa, tetapi waktu tidak memungkinkan. Lagian kami ingin segera sampai di medan. Kondisi jalanan yang berkelok-kelok dan beberapa diantaranya hancur membuat badan ini terasa sangat lelah.

Sesampainya di Medan, kami langsung menuju daerah Kampung Keling di JL H. Zainal Airifin. Daerah ini adalah tempat berkumpulnya etnis India di medan dan sangat terkenal dengan berbagai macam masakan timur tengah, mulai dari martabak telor, martabak mesir, nasi briyani, roti maryam dan kebab. Aku ingin sekali mencicipi cita rasa itu. Kebetulan istri juga lumayan suka dengan kuliner khas timur tengah itu. Hmm Yummy..

Setelah perut kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan ke toko oleh-oleh makanan khas Medan, yakni Bika Ambon Zulaikha di JL Mojopahit dan Bolu Meranti di JL Kruing. Bika Ambon ini salah satu makanan favoritku, jadi tak mungkin aku pulang kembali ke Surabaya tanpa Bika Ambon.

Makan sudah, oleh-oleh sudah, jadi saatnya untuk beristirahat. Untuk di medan ini, aku memilih My Dream Hotel sebagai tempat menginap. Aku sudah booking sebelumnya di Agoda, dan mendapat harga promo. Alhamdulillah.

Kami pun langsung beristirahat karena badan sudah terasa sangat lelah. Sebelumnya kami berterima kasih kepada Bang Ronal dan Yoga rent car yang sudah menemani perjalanan kami menjelajahi danau toba selama dua hari ini baik sebagai supir maupun sebagai guide.

Aku memang hanya menyewa mobil untuk 2 hari selama perjalanan pulang pergi medan danau toba. Untuk besok minggu alias hari terakhir wisata kami di sumatera utara ini, rencananya aku dan istri akan berwisata keliling kota medan dengan naik angkutan khas kota medan, yakni becak motor.

8 thoughts on “Menjelajahi belantara Sumatera (Sumatera Utara Day 2)

  • 26/07/2011 at 17:01
    Permalink

    Saya terharu Surya dan Istri mengenakan Ulos 🙂
    Serasa dihargai budaya nenek moyang saya yang berasal dari sana , asyik betul disana ya hehe….bisa nari tortor juga berpose dengan boneka uning2an 😀

    Reply
  • 28/07/2011 at 13:10
    Permalink

    jadi inget waktu SD pernah baca ttg asal mula si gale-gale.. 🙂

    wah keren2 fotonya mas..

    Reply
  • 30/07/2011 at 11:50
    Permalink

    saya malah ngga sempet ke museum bataknya sur.
    haha… malu2in 😀

    lanjut ke part3 … 🙂

    “Ya pulang kampung depz, trus mampir ke museum bataknya.. :)”

    Reply
  • 31/07/2011 at 06:24
    Permalink

    wah potonya bagus-bagus nih.. jadi pengen nyusul.hehehee

    “Monggo mas, mumpung masih bujang lho..”

    Reply
  • 15/08/2011 at 12:18
    Permalink

    wow…. MANTABSSS>>>> seru banget ya travelingnya… Haduuhhh.. kl ada rejeki pengen traveling juga ahhhh…

    Reply
  • 18/08/2011 at 07:40
    Permalink

    Senengyaaaaaa!

    Suya, baca posting ini jadi mengingatkan masa-masa saya tinggal di Kabanjahe selama 3 tahun. Udaranya yang dingin dan pemandangannya yang indah, seringkali membuat saya kangen buat kembali kesana…cuma ya itu tadi, jalan di Tiga Panah itu dari masa ke masa memang selalu rusak…hehe 😀

    Tanpa sengaja, posting terbaru saya juga bercerita tentang kota Medan lo…

    Reply
  • 11/09/2012 at 22:33
    Permalink

    Mas surya….

    Minta nomer telpon travel ya dong or contac person bang Ronal rencana saya Mai ke Medan 19 Oktober

    Thanks

    “Kalau dari webnya, nomor telepon yang lagi aktif ada di 0813 7540 5300 atau 0857 6213 6677”

    Reply
  • 10/05/2013 at 14:44
    Permalink

    Wah, Bagus nih , makasih untuk infonya ya,
    ditunggulagi main ke objek wisata sumatra utara
    ^_^

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*