Lost in Bangkok (Day 3)

Aku terbangun pukul 4.50 pagi di hari Minggu, 16 Januari 2011. Suasana Bangkok pagi itu masih sangat gelap. Buru-buru aku membangunkan Aris dan langsung mengambil air Wudhu. Alhamdulillah, batinku. Hari ini kami bisa sholat subuh tepat waktu, setelah kemarin kesiangan banget.

Grand Palace Bangkok
Grand Palace Bangkok

Hari ini adalah hari terakhir kami di kunjungan pertama kami di ibu kota negari Gajah Putih, Thailand. Rencananya hari ini kami akan mengunjungi Landmark kota Bangkok yang sudah sangat termahsyur yakni Grand Palace, Wat Phoo, Wat Arun serta mampir membeli cendera mata di Pratunam Market. Tapi sebelumnya kami juga menikmati pemandangan jembatan Rama Bridge VIII di pagi hari ini.

Untuk itulah kami bangun pagi-pagi. Dua malam kami gagal melihat pemandangan jembatan kebangaan warga Bangkok ini karena taman sudah tutup. Dan kami pun bertekad kesana subuh ini, karena taman Santichai Prakarn sudah buka mulai jam 5 pagi. Dengan langit waktu subuh yang masih gelap, kami masih bisa menikmati gemerlapan lampu Jembatan yang mulai dibuka tahun 2002 silam.

Setelah Sholat Subuh, kami langsung menuju Taman Santichai Prakarn yang hanya berjarak 20 meter dari hotel kami. Dan memang, taman sudah buka sesuai jadwal yakni jam 5 pagi. Langit memang masih gelap dan suasana taman masih sangat sepi.

Dan Akhirnya setelah dua malam gagal, kami akhirnya bisa menikmati kilauan pemandangan jembatan sepanjang 2.45 km yang melintasi sungai Chao Phraya. Hmm.. luar biasa. Rencananya kami menunggu pagi disana. Tapi sampai jam 5.30 pagi, suasana masih sangat gelap. Belum ada tanda-tanda matahari akan terbit. Bahkan 15 menit kemudian, suasana juga masih sama. Padahal kalau di Surabaya ataupun juga di Jakarta, pastinya jam segini sudah mulai terlihat cahaya keemasan dari matahari yang akan terbit.

Iseng aku buka handphone dan kunyalakan aplikasi adzan. Aku ganti lokasi kota menjadi kota Bangkok. Dan disitu tertera bahwa jam Subuh kota Bangkok mulai jam 5.32. Lho, berarti tadi waktu kami sholat belum masuk Subuh. Kami langsung buru-buru kembali ke hotel untuk Sholat Subuh lagi.

Jam 8 pagi waktu Bangkok, kami check out dari hotel. Dan perjalanan menyusuri kota Bangkok pun dimulai dengan tujuan pertama adalah Grand Palace. Dari hotel kami berjalan kaki. Sebenarnya jarak dari hotel ke Grand Palace lumayan juga, sekitar 2 km. Tapi masih masuk akal untuk di tempuh dengan berjalan kaki.

Oh iya, mungkin banyak dari teman-teman pembaca setia wongkentir pernah memperoleh informasi (baik dari buku travelling atau dari blog-blog lain) bahwa di Bangkok, terutama kawasan Grand Palace dan Wat Phoo banyak sekali kegiatan percobaan penipuan. Sebenarnya bukan penipuan, karena kalau dilihat dari sisi materi, tidak ada atau sedikit uang kita yang hilang.

Kegiatan penipuan yang dimaksud adalah informasi dari seseorang yang mengaku petugas Grand Palace ataupun para sopir tuk-tuk yang menyatakan bahwa Grand Palace tutup ataupun buka agak siang untuk hari ini. Dan sebagai gantinya mereka bersedia mengantar si turis menuju wat-wat yang lain di penjuru kota Bangkok seperti Wat Traimit (Temple of the Golden Budha), Wat Benchamabophit, Wat Intharawihan (Standing Budha) dll dengan harga murah. Biasanya mereka menawarkan 10 baht atau 15 baht untuk mengitari seluruh wat-wat tersebut dengan informasi bahwa hari ini adalah Tourist Lucky Day atau apalah sehingga harganya murah. Nah diantara kunjungan wat-wat tersebut, supir tuk-tuk akan mengantarkan ke sebuah pusat perhiasan yang sangat mahal mulai dari emas, permata hingga ruby ataupun tempat penjualan kain-kain mahal. Mereka akan menyuruh si turis masuk kedalam toko selama minimal 30 menit agar mereka bisa mendapatkan voucher bahan bakar senilai 200 baht.

Hati-hati dengan kegiatan ini. Kita memang tidak rugi uang banyak, paling sekitar 15 baht, ditambah dengan 50 baht ongkos taksi kalau kita jengkel pada supir tuk-tuk dan ingin segera kembali ke Grand Palace, tapi rugi waktu. Apalagi jika kita hanya mempunyai waktu yang terbatas, bisa-bisa keinginan mengunjungi Grand Palace pun sirna.

Jika ada supir tuk-tuk atau petugas mendekat dihiraukan saja. Jalan terus saja hingga pintu masuk Grand Palace. Agar tidak tertipu hidup-hidup, alangkah baiknya jika mengetahui letak pintu masuk utama Grand Palace karena Grand Palace ini mempunyai banyak pintu dan hanya satu pintu saja yang dibuka sebagai pintu masuk untuk umum.

Alhamdulillah, perjalanan kami menuju Grand Palace lancer jaya. Tidak ada gangguan sedikit pun dari petugas dan supir tuk-tuk. Tapi kami menyaksikan sendiri beberapa kejadian seperti yang kami jelaskan diatas.

Tiket masuk Grand Palace adalah 350 baht per orang atau sekitar 106750 rupiah. Lumayan mahal juga. Bagi yang tidak terlalu suka sejarah ataupun arsitektur, mungkin harga ini malah sangat mahal. Disana tidak ada yang bisa kita lakukan selain berjalan mengitari berbagai macam kuil dan foto-fotoan. Tidak ada arena permainan layaknya di Dufan, Genting ataupun Universal Studio.

Tapi bagiku yang sangat interest dengan sejarah serta foto, tempat ini adalah surganya foto-foto bagus. Apalagi jika waktu berkunjungnya pas dengan golden time yakni jam 8 10 pagi dan jam 3 sore hingga matahari terbenam. Di Grand Palace ini, kamera tidak behenti menjepret. Suara shutter kameraku yang khas terus menerus berbunyi. Setiap mata ini memandang, selalu ingin memfotonya. Ditambah lagi dengan kondisi langit yang sangat cerah dan membiru. Benar-benar landscape yang sangat sempurna. Luar biasa. Belum lagi permintaan si Aris untuk memotret bule-bule cewek yang semampai dengan pakaian yang modis tapi sopan. Sir, princess sir. Itulah yang dikatakan si Aris setiap ada bule cakep yang lewat, he he he.

Saking sibuknya memoto, aku sampai lupa waktu. Rencana awal kami di Grand Palace cukup 1.5 jam, karena kami masih harus menuju ke Wat Phoo dan Wat Arun dan kemudian ke Pratunam Market sebelum ke Bandara untuk pulang. Nah, ternyata kami sudah menghabiskan 2.5 jam di Grand Palace.

Dengan medan di Pratunam Market yang belum kami ketahui, serta saran dari petugas hotel agar kami kalau bisa sampai di bandara Suvarnabhumi 3 jam sebelum keberangkatan (karena ramainya check in di counter Air Asia serta imigrasi Thailand yang cukup ketat), kami memutuskan tidak mampir ke wat phoo dan wat arun, dan langsung menuju ke Pratunam Market di kawasan Siam. Sayang sekali memang, karena dua wat ini adalah ikon Thailand. Tapi sooner or later aku akan kembali ke Bangkok dan mengunjungi beberapa wat yang belum sempat kami kunjungi. Meski tidak mampir ke Wat Arun, aku dapat melihat wat tersebut dari seberang sungai. Sebuah wat yang sangat bagus.

Dari kawasan Grand Palace, untuk menuju Siam kami naik boat menuju Sathorn dengan dilanjut naik BTS dari Saphan Taksin menuju Siam. Dari Stasiun BTS siam, kami berjalan kaki menyusuri sky walk untuk menuju Pratunam Market. Ternyata perjalanan dari stasiun menuju Pratunam Market sangat jauh. Untungnya kami tidak jadi mampir ke Wat Phoo dan Wat Arun. Kalau memaksakan diri mampir, maka kami benar-benar akan kehabisa waktu untuk membeli souvenir.

Sebelum berbelanja kami makan siang dulu. Kali ini kami makan Briyani Chicken di sebuah kedai india yang memasang label halal. Briyani chicken sebenarnya nasi goreng juga, tetapi dengan aroma timur tengah yang cukup kuat. Mungkin bagi sebagian orang Indonesia, makanan ini kurang pas di lidah. Tapi bagi kami yang kelaparan, cocok-cocok saja, he he he. Dan sepiring Briyani chicken itupun lenyap tak berbekas hanya dalam waktu 5 menit saja. Untuk harga se porsinya plus softdrink, kami membayar 110 baht atau sekitar 33550 rupiah. Hmm, masih mantap nasi goreng yang di dekat masjid kemarin malam, baik dari sisi rasa maupun harga.

Setelah kenyang, kami segera berburu oleh-oleh. Tidak banyak sih yang kami beli, karena memang persediaan uang bahtnya sudah menipis, he he. Nah, itulah sebabnya perjalanan kami ke Bangkok ini sengaja diam-diam saja, agar tidak ditagih oleh-oleh (pelit mode:on he he he).

Standard khas oleh-oleh seperti Gantungan kunci dan tempelan kulkas dihargai 10 baht per 3 buah. Jika membeli banyak, minimal 50 baht, maka bisa mendapatkan 16 sampai 17 buah. Kaus sekitar 10 baht per buah.

Setelah cukup membeli oleh-olehnya, kami langsung menuju ke Bandara. Dari pratunam market, kami kembali ke stasiun BTS Siam untuk menuju Phaya Thai. Ongkosnya 20 baht. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan Airport Rail Link City Line dengan ongkos 45 baht per orang. Aku sangat iri dengan Malaysia, Singapura dan Thailand yang mempunyai akses bebas macet menuju bandara dengan kereta khusus dari dan ke bandara. Kapan ya Indonesia punya?

Kami sampai di bandara sekitar jam 4 lebih 15 menit. Sebelum check in, kami mampir ke Musholla dulu untuk sholat Dhuhur jama Ashar. Di Musholla ada beberapa saudara muslim yang tengah sholat. Mereka memandang kami dengan ramah sekali dan mengucap salam yang lagi-lagi terdengar sangat indah. Kami saling bersalaman dan berkenalan. Saat itu, hampir semua saudara muslim yang ada di musholla adalah orang Malaysia, sedangkan beberapa lagi adalah orang brunei dan penduduk lokal Bangkok. Alangkah indahnya Ukhuwah Islamiyah seperti ini.

Setelah sholat, kami langsung menuju counter check in yang memang sudah sangat ramai dan antri. Informasi dari petugas hotel akurat sekali bahwa counter air asia akan sangat ramai. Dari antri hingga mendapatkan boarding pass, kami harus menunggu selama 40an menit.

Setelah itu kami melewati imigrasi yang sangat ketat. Dan setelah itu kami menuju gate E10 yang ternyata sangat jauh dari tempat imigrasi. Kaki kami yang sudah lelah karena perjalanan 2 hari ini, semakin bertambah lelah karenanya. Kami yang pada awal kedatangan mengagumi bandara ini, jadi ilfeel. Kayaknya lebih baik bandara Juanda di Surabaya, kecil, simple dan pas fungsinya sebagai bandara. Kalau di Suvarnabhumi ini besar, tetapi fungsinya lebih mirip ke mall. Di sepanjang jalan menuju terminal berjajar butik-butik bermerk internasional yang pastinya sangat mahal serta toko oleh-oleh. Bisa dibayangkan, jika tidak persiapan 3 jam sebelum keberangkatan, kami pasti ketinggalan pesawat. Kami pun akhirnya benar-benar tiba di gate sekitar pukul 18.30, satu jam 15 menit lebih awal dari jam keberangkatan kami jam 19.45. Wow benar-benar perjalanan yang panjang dan melelahkan, he he he.

Tapi mungkin ini konsekuensi dari bandara internasional dengan tingkat kesibukan yang tinggi. Karena terminalnya yang besar dan luas, banyak sekali pesawat yang melakukan penerbangan menuju Bangkok baik yang memang menuju ke Bangkok ataupun hanya sekedar transit. Yah mungkin di bandara lain di belahan dunia manapun, yang namanya bandara internasional ya seperti ini. Kalau Juanda kan memang tingkat kesibukannya di dominasi domestic, hanya sedikit sekali penerbangan internasional di Juanda.

Dan sekitar pukul 20.00 (delay 15 menit), kami pun boarding. Hanya saja untuk take off, kami harus menunggu lagi selama hampir setengah jam di dalam pesawat, karena belum mendapatkan izin terbang dari menara pengawas. Gila!! Segitu lama antri take off-nya. Benar-benar bandara yang super sibuk.

Dan setelah mengudara selama kurang lebih 4 jam, akhirnya sampailah kami pulang kembali ke Surabaya. Bandara Juanda saat itu sudah sangat sepi, maklumlah, kami datang jam 00.30 dini hari. Alhamdulillah, kami pulang dengan selamat tanpa kekurangan apa pun. Dan perjalanan seru penuh kisah selama di Bangkok pun usai. Kini waktunya untuk bekerja dan menabung untuk perjalanan selanjutnya.

List Biaya sebelum hari H (dalam rupiah)

– Tiket Air Asia SUB-BKK PP (no baggage, maklum backpacker, he he) 562000

– Airport Tax Penerbangan Internasional Bandara Juanda 150000

– Hotel Fortville Guesthouse 2 malam Rp. 501490 (dibagi 2 orang) 250745

Total (per orang) 962745

@Bangkok (Ini biaya 2 orang, jadi biaya per orangnya tinggal dibagi 2 (dalam Baht))

Day 1

– Beli Happy Sim Card 199

– Airport Rail Link City Line (Suvarnabhumi Phaya Thai) 2×45 90

– Taxi Phaya Thai Hotel 80

– Makan malam di pujasera depan Thai Cozy House 2×30 60

– Minum orange juice 2×20 40

– Beli Air Mineral di 7 Eleven 14

Total Day 1 483

Day 2 (Trip to Ayutthaya)

– Sarapan di 7 Eleven 84

– Naik Kapal Orange boat 2×14 28

– Naik BTS dari Saphan Taksin ke Sala Daeng 2×25 50

– Naik MRT dari Silom ke Hua Lamphong St 2×18 36

– Naik Kereta Ekonomi dari Bangkok ke Ayutthaya 2×15 30

– Sewa Mobil selama di Ayuthhaya 700

– Beli Air Mineral 2×10 20

– Tiket Masuk Wat 2×50 100

– Tiket masuk Wat 2×50 100

– Tiket Kereta Ekonomi Ayuthhaya Bangkok 2×20 40

– Beli Minum di Stasiun 42

– Toilet ketika di Ayuthhaya 3×3 9

– Naik MRT dari Hua Lamphong ke Si Lom 2×18 36

– Naik BTS dari Sala Daeng ke National Stadium 2×20 40

– Makan Nasi Goreng di Siam plus minum 2×45 90

– Minum Green tea dan aqua 26

– Taxi dari Siam ke Khaosan Road 61

– Beli minuman dan roti di 7 Eleven 50

Total Day 2 1542

Day 3 (Bangkok)

– Sarapan di 7 Eleven 85

– Tiket masuk Grand Palace 2×350 700

– Naik kapal orange boat 2×14 28

– BTS dari Saphan Taksin ke Siam 2×30 60

– Makan siang Birayan Chicken n softdrink 2×110 220

– Beli minum di 7Eleven 48

– Naik BTS dari Siam ke Phaya Thai 2×20 40

– Airport Rail link City Line (Phaya Thai Suvarnabhumi) 2×45 90

Total Day 3 1271

TOTAL Selama di Bangkok (2 orang) 3296

Jadi kalau 3296 / 2, maka per orang menghabiskan sejumlah 1648 THB, atau kalau di kurs kan rupiah sebesar 1648 x 305 = Rp. 502640,00

Jadi jika ditambah dengan biaya pra keberangkatan, maka total perjalanan ini (diluar pembelian oleh-oleh) adalah: Rp. 962745,00 + Rp. 502640,00 = Rp. 1465385

10 thoughts on “Lost in Bangkok (Day 3)

  • 07/03/2011 at 12:49
    Permalink

    Ngikik bagian solat subuh itu mas..

    Reportasenya keren, rinciii.. Blognya konsisten 🙂

    “he he he.. lha iya itu mbak, tau gitu sholat tahajjud, he he he”

    Reply
  • 07/03/2011 at 15:44
    Permalink

    Aduh Surya, saya sampe kagum dengan ketelitian Surya merencanakan perjalanan dan membagi informasi detail tentang jalan-jalan di Thailand melalui tulisan ini!
    Keren banget, biaya yang tidak terlalu tinggi, wawasan yang dibagi…hehe, jadi sama deh komen saya dengan komen Mala diatas 😀
    Surya, kalo jalan-jalan lagi sambil ngajakin isteri tercinta, bilang-bilang ya… 😉

    “Alhamdulillah kalau mbak irma dan juga mbak mala suka dan nyaman dengan tulisanku”
    “Soalnya kemarin sempat baca sebuah artikel, bahwa dalam membuat tulisan atau artikel tentang wisata, dihindari untuk menulis pengalaman secara runut, karena ditakutkan pembaca akan bosan. Kalau mbak irma dan juga mbak mala bisa nyaman dengan tulisanku, wah berarti aku ga perlu merubah gaya penulisanku. Terima kasih ya mbak :)”

    Reply
  • 08/03/2011 at 10:08
    Permalink

    Duhhh ceritanya bisa membantu para first traveller nih 🙂
    bisa nyamain trinity TNT ya Surya , he..he….aku kl ke bangkok suatu saat nanti musti baca dl tips2 dr surya , thx yaaa

    Reply
  • 08/03/2011 at 13:23
    Permalink

    Mas Suryaa… pengen juga bisa jalan-jalan ke luar negeri, meskipun hanya seputar Asia, yang penting pernah…

    Oya, total duit habis berapa mas kira2? *kira2 aja, jadi bisa nabung-nabung dulu…* 😛

    Reply
  • 08/03/2011 at 13:44
    Permalink

    @mba yuni : tuh ada dibagian akhirnya

    1465385 dengan uang segitu bisa jalan2 puas d bangkok? kerennn

    dokumentasi yg oke punya
    sangat membantu buat yg pengen nyoba ke thailand 🙂

    Reply
  • 16/03/2011 at 16:09
    Permalink

    senangnya bisa ke bangkok….aku masih punya mimpi ke sana …hehehe…nabung…nabung..nabung… 😀

    Reply
  • 10/04/2011 at 12:51
    Permalink

    dear mas Surya, kalau dari Bandara Suvarnabhumi ke HuaLamphong, naik transport apa yah? kalau baca dari blog Mas, sepertinya airport rail link city line sudah beroperasi ya?

    tadinya aku berencana naik bus airport. tapi takutnya lama di jalan.

    kalo airport rail link city line, berupa kereta atau MRT gitu mas? harga tiketnya 45 Baht saja mas? dan pemberthentiannya ada di mana saja ya mas?

    thanks ya mas infonya. sangat membantu banget deh tulisannya 🙂

    Kalau mau ke Hua Lamphong dari Suvrnabhumi, naik Rail Link City Line / express Line turun di Makassan. Dari Makassan oper MRT, trus cari jurusan ke Hua Lamphong. Sampek deh :). Kalau Express Line aku lupa ongkosnya. Kalau city line, ongkos tergantung jaraknya kok mbak. Kalau ke Makassan mungkin 30 baht. Keretanya seperti BST (Bangkok Sky Train). FYI, di Bangkok itu MRT khusus untuk kereta Subway, jika keretanya jalan di jembatan namanya BST, tapi secara prinsip, kayaknya sama keretanya :).

    Reply
  • 31/05/2011 at 14:33
    Permalink

    wahhhh… Kapan Bandara Internasional Lombok jadi yak? Ato gak, nunggu SK Pindah ke Surabaya aja deh! *wishing..
    Biar bisa mbackpack kek HaPe jg…
    Semoga aja ngepasin utang2nya lunas ama anak udah agak gedean,jd bisa diajak mbackpack jg. hahaha…

    Nice story, Surya.. Like it! Bisa jd referensi buat yg pengen mbakpack ke Negeri Gajah Putih jg..

    “Thanks buat kunjungan ke blogku ya Tin.. :)”

    Reply
  • 15/09/2011 at 11:08
    Permalink

    Thanks info2nya yg lengkap Mas. Ibadah juga kan ngasi tahu ke yg blm tahu spt saya 🙂

    Sudah keturutan Makkah-Madinah-nya Mas? kalau sdh ceritanya dimana? kalau belum, diedit jadi Makkah-Madinah-Turki trus ajakin saya yak, hehehe

    Oiya, menurut saya bagian yg biasanya banyak dicari org Indo kelas layangan sperti saya adalah biaya. Terimakasih banyak sudah dirinci dengan sangat jelas biaya2nya. Klo konsisten begini terus, smoga blognya luaris muanisss sperti TNT d ya 😉

    Reply
  • 06/06/2012 at 04:26
    Permalink

    wahhhhhh……asyiikk mas Surya,…cukup bisa terbayangkan ,…jadi kalau mau kesana beneran udah nggak bingung , …..cuman kalo disana , mau di masjid , dimana ya

    “Di Bangkok ada beberapa masjid kok pak, saya kemarin nemu satu masjid..”

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*