Lost in Bangkok (Day 2)

Alhamdulillah dan Selamat Pagi Bangkok. Yeah, itulah dua kata pertama yang muncul dari mulutku ketika bangun di pagi hari, 15 Januari 2011. Pagi itu adalah pagi pertama sekaligus hari keduaku di Bangkok. Hmm udara Bangkok pagi hari.. Segar? Gak juga. Biasa aja ternyata, he he.

At Ayutthaya

Sesuai dengan meeting semalam sebelum tidur, kami akhirnya memutuskan untuk ke Ayutenan, eh Ayuthhaya di hari kedua ini. Kenapa Ayuthhaya? Ada apa di kota yang terletak di sebelah utara Bangkok ini? Bukannya Pattaya lebih menarik?

Dibawah ini adalah beberapa alasan yang membuat kami lebih memilih Ayuthhaya daripada Pattaya:

– Dari beberapa info yang kami dapat di internet, suasana Pattaya tidak jauh berbeda dengan Kuta, bahkan untuk pantainya masih jauh lebih bagus Bali. Untuk benar-benar menikmati suasana di Pattaya, pagi dan siang hari bukan saat yang tepat, karena kehidupan di Pattaya baru dimulai ketika sore menjelang hingga tengah malam.

– Mengunjungi Ayutthaya sama artinya dengan menikmati sebuah perjalanan sejarah negara Gajah Putih. Ini karena kota ini pernah menjadi ibu kota Thailand di masa lampau, sebelum akhirnya hancur diserang oleh Burma. Banyak sekali reruntuhan wat/candi disana yang menjadi bukti bahwa kota ini dahulunya adalah pusat pemerintahan.

– Perjalanan menuju Ayutthaya adalah perjalanan yang menarik, karena jika berangkat dari Khao San Road, maka kami akan menggunakan hampir semua moda transportasi umum kota Bangkok, mulai dari perahu menyusuri sungai Chao Phraya, lalu dilanjutkan dengan BTS, MRT dan terakhir kereta antar kota. Pengalaman menggunakan aneka macam moda transportasi ini pastinya akan menambah banyak pengalaman dalam perjalanan hidup kami.

Perjalanan kami mulai jam 8 pagi. Suasana jam 8 pagi waktu Bangkok serasa seperti jam 7 pagi di Surabaya atau Jakarta. Sebelum menempuh perjalanan yang lumayan panjang dan memakan waktu seharian full, ada baiknya mengisi tenaga terlebih dahulu. Karena pilihan makanan halal yang agak sulit di kawasan Khao San Road, maka kami memutuskan untuk sarapan dengan roti oles mentega dan secangkir milo hangat dari 7 Eleven. FYI, sarapan roti adalah sebuah perjudian bagiku, karena dalam sejarah hidupku, aku tidak akan sanggup bertahan lama dengan hanya sarapan roti. Maklumlah, orang Indonesia aseli, gak disebut makan kalau gak makan nasi, he he.

Kami sarapan sambil menikmati suasana pagi di Santichal Prakarn Park, taman yang terletak di sisi Sungai Chao Phraya. Di taman ini terdapat bangunan benteng kuno yang masih lengkap dengan meriamnya, yakni Phra Sumne Fort. Dari taman ini pula, kita bisa melihat jembatan Rama Bridge VIII, sebuah jembatan kebanggan kota Bangkok yang konstruksi bangunannya mirip dengan Jembatan Barelang di Batam.

Setelah sarapan, kami segera menuju ke Phra Arthit Pier atau Pelabuhan Phra Arthit. Pelabuhan ini adalah salah satu pelabuhan di jalur pelayaran Sungai Chao Phraya. Kode pelabuhan ini adalah N13. Dari sini, kami akan naik kendaraan umum berupa perahu berwarna hijau (Orange Boat), dengan tarif 14 Baht per orang sekali jalan. Untuk pembayaran bisa dengan pembelian tiket di pelabuhan, atau langsung membayar di atas perahu.

Setelah kemarin terkagum-kagum dengan megahnya bandara Suvarnabhumi, pagi ini aku dibuat kagum dengan kehebatan Thailand dalam pemanfaatan potensi sungai yang ada. Jauh sekali jika dibandingkan negara kita. Sebagai informasi, angkutan air di Bangkok tidak hanya pada Sungai Chao Phraya, hampir di semua sungai-sungai yang membelah Bangkok, ada perahu boat umum disana.

Kami menyusuri sungai hingga pelabuhan Sathorn. Banyak sekali penumpang yang turun di sini, karena Pelabuhan ini interchange dengan stasiun BTS Saphan Taksin. Dan kami pun turun karena akan melanjutkan perjalanan dengan BTS.

Sesuai informasi dari peta kendaraan umum yang kudapat dari Internet, dari Stasiun Saphan Taksin, kami naik BTS menuju Stasiun Sala Daeng. Tarif BTS untuk rute ini adalah 25 Baht per orang sekali jalan. Pembelian tiket BTS bisa menggunakan mesin-mesin tiket yang terdapat di Stasiun. Cara penggunaannya cukup mudah. Cukup pencet stasiun tujuan kita yang tertera di mesin, otomatis mesin akan memberikan info, berapa baht yang diperlukan. Setelah itu kita masukkan koin Baht kita ke dalam mesin sesuai dengan harganya dan tiket pun keluar.

Jika ingin praktis, bisa juga membeli kartu smart day. Harganya 150 Baht dengan sudah terisi voucher sekitar 50 Baht. Atau ada juga kartu One Day Pass.

Dari stasiun BTS Sala Daeng, kami turun, untuk bertukar kembali moda transportasi. BTS Sala Daeng ini interchange dengan MRT Silom. Dari MRT Silom kami menuju stasiun Hua Lamphong. Sebenrnya tidak ada bedanya antara BTS dan MRT, keduanya sama-sama kereta. Perbedaannya hanya pada letaknya saja, kalau BTS keretanya ada di atas jalan, sedangkan MRT adalah subway a.k.a kereta bawah tanah.

Naik BTS dan MRT sangat menyenangkan. Keretanya cepat, tepat waktu dan nyaman. Kita bisa menghemat banyak waktu dengan moda transportasi ini. Jadi berandai, kapan Jakarta atau Surabaya punya kayak ginian. Rasanya kok mimpi kali yee.

Dari Stasiun Hua Lamphong, kami berpindah angkutan umum lagi. Kali ini kami naik kereta rakyat kecil alias kereta ekonomi (atau kalau di Bangkok disebuat Kereta 3rd class) yang akan membawa kami ke Ayutthaya. Sama seperti kereta ekonomi di Indonesia, tidak ada nomor tempat duduk di tiket. Harganya cukup murah, hanya 15 baht per orang sekali jalan. Jadwal keberangkatan kereta kami adalah pukul 11.20 siang.

Suasana di kereta ini tidak jauh beda dengan kereta ekonomi di Indonesia seperti ramai, penumpang yang membawa barang bawaan segede gaban hingga hilir mudiknya pedagang asongan. Hanya saja kereta di Bangkok ini tampak lebih bersih. Selain itu, untuk urusan waktu mereka juga tepat, meskipun kereta ekonomi kelas 3 sekalipun.

Perjalanan Bangkok Ayutthaya memakan waktu sekitar 1 jam 40 menit. Pemandangan selama perjalanan tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Jalan raya, Vegetasi hingga pemukiman kumuh Thailand menjadi sajian mata kami.

Kami sampai di stasiun Ayutthaya sekitar jam 1 siang. Aku pernah membaca di sebuah blog (maaf, aku lupa blognya siapa), yang menggambarkan bahwa melihat kehidupan di stasiun Ayutthaya seperti melihat sebuah gerakan slow motion. Semua serasa bergerak sangat lambat.

Sesampainya di Ayutthaya, kami langsung mencari tuk-tuk yang bisa disewa keliling kota. Kami akhirnya bertemu seseorang bernama Nokool. Dia mengaku sebagai polisi sambil menunjukkan fotonya yang tertempel pada sebuah mading. Mading tersebut adalah mading informasi keamanan Ayutthaya yang dilengkapi dengan beberapa foto anggota polisi yang menjadi contact person jika mempunyai masalah keamanan selama di Ayutthaya. Nokool ternyata juga mencari sampingan sebagai supir tuk-tuk, he he he. Setelah nego ketat, kami pun akhirnya mendapat harga 700 baht untuk berputar-putar Ayutthaya selama 3 jam. Kenapa 3 jam? Karena jadwal kereta ekonomi yang ke arah Bangkok yang paling masuk akal adalah jam 16:15. Jadwal setelahnya adalah 18:30, dan ini terlalu malam buat kami, karena kami juga punya rencana keliling kota Bangkok malam ini. Harga 700 baht ini sebenarnya masih bisa ditawar lagi, tapi karena tidak ada supir tuk-tuk lagi disitu, ya kami ambil saja. Standardnya sih untuk berputar-putar Ayutthaya dengan tuk-tuk, satu jam dihargai 250 baht.

Ada yang menarik saat negosiasi harga. Karena bahasa inggrisnya yang belum terlalu fasih, dia menggunakan kalkulator sebagai sarana negosiasi. Selain itu, sebagai promosi, mereka membawa foto-foto dengan berbagai macam wat yang terdapata di Ayuthhaya.

Setelah negosiasi, kami pun dibawa menuju tuk-tuk-nya. Dan ternyata, bukan tuk-tuk yang akan mengantar kami keliling Ayutthaya, tapi sebuah sedan corolla altis. Oalah, kalau gini sih, ya worth it bayar 700 baht untuk 3 jam, he he he.

Tujuan pertama kami adalah Wat Yai Chaimongkhon. Bagi pembaca wongkentir yang ingin ke Ayutthaya tetapi tidak tau mau kemana saja atau tidak tahu wat mana saja yang menarik? Jangan khawatir. Sang supir, merangkap guide, akan menunjukkan foto-foto berbagai macam wat yang ada disana, dan kita nanti yang disuruh menentukan pilihan, mau kemana saja. Setelah itu mereka akan mengarrange urutan lokasi mana saja yang akan didatangi agar kunjungan bisa optimal.

Kami tidak bisa menjelaskan satu persatu kisah di balik semua wat-wat yang kami kunjungi, karena kami tidak mengikuti tur keliling ataupun guide yang bisa menjelaskan pada kami. Si Nookol pun lebih memilih untuk menunggu di mobil daripada mengawal kami keliling. Jadi ya, enjoy the photo saja ya pembaca. Tiket masuk Wat Yai Chaimongkhon adalah gratis. Entahlah ini gratis benerana atau enggak, yang pasti tidak ada yang meminta uang tiket kepada kami ketika berkunjung kesana.

Di Wat Yai Chaimongkhon terdapat sebuah patung budha tidur, yang konon menjadi inspirasi dibangunnya Wat Phoo di Bangkok.

Kami menghabiskan sekitar 35 menit disini. Mengambil foto-foto yang menarik dari reruntuhan kuno Thailand ini.

Perjalanan selanjutnya adalah Wat Mahathat. Ini adalah komplek Wat terbesar di Ayutthaya dan yang paling terkenal dengan bagian paling menarik adalah Patung kepala budha yang terperangkap dalam akar pohon. Tiket masuk Wat Maha That adalah 50 baht per orang.

Cukup lama kami berada disini, sekitar 1 jam. Ini karena luasnya komplek dan banyaknya objek yang menarik disini. Aku mencoba berlogika, mungkin wat maha that inilah pusat dari kota Ayutthaya. Satu jam disini terasa sangat cepat, sehingga rasanya masih kurang. Tapi demi melihat wat-wat yang lain, kami pun cukupkan satu jam saja disini.

Dari Wat Maha That, kami bertolak menuju sebuah kuil (atau wihara ya) bernama Thanon Si Sanphet. Di sampingnya terdapat Wat Phrasisanpethh. Waktu kedatangan kami di Thanon Si Sanphet, suasana disana sangat ramai. Banyak sekali orang beribadah. Didalam kuil ini terdapat sebuah patung Budha berwarna kuning emas yang sangat besar.

Dari sini, kami sebenarnya ingin masuk kedalam komplek Wat Phrasisanpethh, tapi karena harus bayar 50 baht per orang, kami pun hanya foto-foto di luar wat. He he hemaattt. :). Lagian foto-foto diluar pagar juga sudah cukup. Watnya tetap kelihatan kok, he he. Wat Phrasisanpethh ini berbeda dengan dua wat yang kami datangi sebelumnya. Jika dua wat sebelumnya dibangun menggunakan batu bata merah, Wat Phrasisanpethh ini dibangun dari batu.

Dan wat terakhir yang kami kunjungi di Ayuthhaya pada kunjungan ini adalah Wat Ratcha Burana. Untuk masuk kedalam, tiket masuknya 50 baht per orang. Wat ini juga terbuat dari batu bata merah seperti dua wat pertama.

Setelah dari Wat Ratcha Burana, kami diantar kembali ke stasiun, dan Alhamdulillah kami berhasil mengejar kereta jam 16:15 dan tiba dengan selamat di Bangkok tepat pukul 18:00. Tiket kereta ekonomi 3rd class dari Ayutthaya ke Bangkok adalah 20 baht per orang.

Oh iya rekan-rekan pembaca wongkentir, ada yang istimewa dari perutku hari ini. Sejak sarapan pagi tadi hingga malam menjelang, aku belum makan lagi lho. Wah, perutku ini sangat pengertian. Bukannya niat berhemat, tapi memang tidak terasa lapar. Mungkin karena exiting dengan perjalanan, jadinya tidak terasa lapar sama sekali.

Setelah sampai Bangkok, kami langsung menuju Siam dengan naik MRT dari Stasiun Hua Lamphong, disambung dengan BTS. Di Siam kami mencari masjid Darul Falah yang keberadaannya kami ketahui secara tidak sengaja di Google Maps. Dalam perjalanan mencari masjid, kami menemukan sebuah warung makan yang terdapat banyak sekali kaligrafi dan gambar kabah. Mendadak perut terasa lapar. Kami pun bertanya ke penjualnya. This is a halal food?. Dan tahukah pembaca jawaban yang kami terima bukan yes or no, tetapi sebuah sapaan lembut yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya, Assalammualaikum. Subhanallah, rasanya sangat indah sekali mendengar kalimat itu di negara minoritas muslim. Ya Allah, luar biasa sekali.

Sebuah nasi goreng ayam dengan fanta menjadi pilihan santap malam kami. Rasanya cukup pas di lidah kami. Hmm.. sangat nikmat sekali, apalagi dimakan pada saat perut lapar. Alhamdulillah, atas rahmat-Mu ya Allah.

Di tengah-tengah menikmati makanan, kami mendengar adzan Isya berkumandang. Subhanallah. Indah sekali seruanmu ya Allah. Ini berarti kami sudah dekat dengan tujuan kami.

Nasi goreng Thailand rasanya tidak jauh berbeda dengan nasi goreng di Indonesia, hanya saja disana disediakan sambal tambahan bagi yang merasa kurang pedas. Aku mengambil sedikit, dan rasanya luar biasa pedas.. Tampaknya krisis cabe di Indonesia tidak menular ke negeri tetangga.

Rasanya ga jauh beda dengan di Indo, harganya? Juga tidak jauh berbeda pula ternyata. 30 baht per piring atau sekitar 9000 rupiah. Sedangkan minumnya 15 baht.

Setelah perut kenyang terisi, kami segera menuju masjid Darul Falah. Suasananya sangat sepi dan pagar masjid terkunci. Kami mengucap salam, berharap ada penjaga masjid yang membukakan pintu pagar seperti di Indonesia. Semenit, dua menit, lima menit, tidak ada jawaban salam kami. Kami pun mulai putus asa. Ketika hampir menyerah, tiba-tiba datang sebuah motor dan berhenti di depan pintu pagar.

Assalammualaikum, sebuah salam terucap dari si pengendara.

Waalaikumussalam, jawab kami serempak. Kami pun mengutarakan niat kami untuk numpang sholat. Beliau langsung mempersilahkan kami masuk.

Bangunan masjid Darul Falah ini mempunyai dua lantai. Lantai pertama tampaknya digunakan sebagai ruang pertemuan, dengan adanya beberapa perabot seperti meja, kursi dan lemari. Tempat wudhu dan toilet juga ada di lantai pertama. Sedangkan tempat sholat berada di lantai dua.

Hmm rasanya nyaman sekali bisa sholat di masjid di negara yang muslimnya minoritas. Jadi bersyukur dan merasa beruntung, bisa setiap hari mendengarkan adzan di Indonesia.

Setelah hati tenang, saatnya untuk kembali pulang ke hotel. Untuk mempersingkat waktu, kami langsung naik taksi menuju Khao San Road. Ongkosnya 61 baht. Kami turun di depan jalan khaosan road, karena sebelum ke hotel, kami ingin mampir ke Democracy Monument dan istana King Rama III Memorial terlebih dahulu.

Setelah puas berfoto ria, kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Kami kembali menyusuri Jalan Khao San Road, menikmati malam minggu bersama ratusan backpackers Bangkok. Suasananya sangat riuh dan ramai, lebih ramai dari kemarin malam. Sambil berjalan-jalan, aku mengamati banyak sekali hotel-hotel budget yang pernah kubaca namanya di Agoda atau blog-blog rekan-rekan backpacker yang sudah terlebih dahulu menginjakkan kakiknya di Bangkok. Ternyata hotel-hotel tersebut terletak tepat di Jalan Khao San Road, pantesan banyak reviewer yang mengatakan bahwa hotel-hotel tersebut bising dan gaduh. Untung aku memilih Fortville Guesthouse, meski sedikit lebih mahal daripada hotel budget di kawasan ini, tapi suasananya cukup tenang dan nyaman.

Dan tepat pukul 23:30 malam waktu Bangkok, kami sampai di hotel. Fiuh.. perjalanan seharian yang panjang dan melelahkan, tetapi sangat-sangat puas. Sambil meluruskan badan, kami mengamati ratusan gambar yang sudah kami ambil selama seharian ini. Hmm.. Puas.. puas .. puas. Alhamdulillah.

Dan hari kedua di Bangkok pun berakhir.

@Bangkok (Ini biaya 2 orang, jadi biaya per orangnya tinggal dibagi 2 (dalam Baht))

Day 2 (Trip to Ayutthaya)

– Sarapan di 7 Eleven 84

– Naik Kapal Orange boat 2×14 28

– Naik BTS dari Saphan Taksin ke Sala Daeng 2×25 50

– Naik MRT dari Silom ke Hua Lamphong St 2×18 36

– Naik Kereta Ekonomi dari Bangkok ke Ayutthaya 2×15 30

– Sewa Mobil selama di Ayuthhaya 700

– Beli Air Mineral 2×10 20

– Tiket Masuk Wat 2×50 100

– Tiket masuk Wat 2×50 100

– Tiket Kereta Ekonomi Ayuthhaya Bangkok 2×20 40

– Beli Minum di Stasiun 42

– Toilet ketika di Ayuthhaya 3×3 9

– Naik MRT dari Hua Lamphong ke Si Lom 2×18 36

– Naik BTS dari Sala Daeng ke National Stadium 2×20 40

– Makan Nasi Goreng di Siam plus minum 2×45 90

– Minum Green tea dan aqua 26

– Taxi dari Siam ke Khaosan Road 61

– Beli minuman dan roti di 7 Eleven 50

Total Day 2 1542 baht

Per Orang Day 2 (1542/2) * 305 = 235155 rupiah

18 thoughts on “Lost in Bangkok (Day 2)

  • 28/02/2011 at 07:29
    Permalink

    Surya…beruntung banget bisa menikmati suasana di Thailand dari sudut pandang berbeda.
    Biasanya turis hanya berkunjung ka Pattaya, Ankor Wat atau tempat-tempat lain yang direkomendasikan tourist guide. Tapi Surya justru memilih tempat yang berbeda…keren banget!

    Saya menyimak kalimat demi kalimat di posting ini. Dan saya langsung pengen nyobain nasi goreng ayam Thailand yang harganya 9000 itu…hehehe 😀

    Makasih sudah berbagi cerita, semoga akan banyak kesempatan lain yang membuat Surya bisa jalan-jalan dan berbagi lewat tulisan di blog ini 😉

    “Terima kasih Mbak Irma..”

    Reply
  • 01/03/2011 at 16:25
    Permalink

    teman saya sudah bangkokan lho. udah lebih dari 50tahun 😀

    “Oh iya mas.. Kota Bangkot itu dimana ya??”

    Reply
  • 01/03/2011 at 21:43
    Permalink

    hiks…
    lagi lagi postingan yang bikin sirik…

    Tapi kok potonya cuman satu sih Suryaaaaa???

    Gak puas aaaaaaah 🙂

    Ini maksudnya cuman 235 ribu gituh?
    ckckck…backpackers emang murah meriah yak…

    “Maap.. saya kan cuman berbagi bi :), Aku doain, moga2 bibi dan keluarga bisa kesana suatu hari nanti, Amiinn :)”

    Reply
  • 01/03/2011 at 22:02
    Permalink

    Suryaaaaaa…

    makasih banyak buat saran nya tentang gas matic itu yaaaaa…
    Abah juga udah wanti wanti ingetin aku tentang itu…

    Aku dan Abah lagi nyari tali ato kayak iket pinggang khusus buat ngikat Fathir gitu sih Sur…
    Kalo ke jalan raya Fathir mau aku ikat aja aaaaah….

    “Sama-sama Bi, salam buat Fathir yang lucu banget, he he”

    Reply
  • 02/03/2011 at 14:07
    Permalink

    @erry : ahh lu cuma iri2 n sirik doang bisanya :p

    Reply
  • 02/03/2011 at 23:03
    Permalink

    nanti oleh=olehnya serba bangkok, ayam, jambu, durian he he..

    Reply
  • 02/03/2011 at 23:16
    Permalink

    waaa keren…. pengen banget bisa kesana.
    eh jangan-jangan nyoba wanita thailand juga ya hehehe

    “Ga lah boz.”

    Reply
  • 04/03/2011 at 13:31
    Permalink

    wah, jd membayangkan seandainya sungai2 di surabaya bisa seperti sungai2 di thailand ya, mas…hehehe
    btw, nasi goreng 9000 rupiah itu yg paling murah kah? porsinya bnyk gak, mas? kalo di sby kan nasi goreng yg paling murah kira2 6000 rupiah, mas…hehehe

    “Iya sih mbak, kalau di Surabaya, nasgor 6000 itu masih ada. Mungkin di Thailand ada juga kali ya, cuman aku belum menjelajah, he he. Iya mbak, aku iri sama pemanfaatan sungai disana. Keren banget..”

    Reply
  • 04/03/2011 at 14:38
    Permalink

    Nah loo, bahasa nya serius lagi, hehehe

    tapi as usual, keren laporan jalan2nya..

    Jadi, yang mana nih mas, patung Budha lagi tidur nya? 😀

    “Iya mbak, belum sempat ke upload fotonya, internet kantor maupun flash lagi lemot buat upload… I dunno why.. :(“

    Reply
  • 20/07/2011 at 23:22
    Permalink

    Hai Surya,
    mau tanya deh…
    besok tuh aku nginep di hotel Take a nap, bangkok yang ada di 920-926 Rama 4 Rd., Suriyawongse, Bangrak.
    kira2 kalau dari sana ke Ayutthaya naik apa aja ya?
    terus bisa nggak rekomendasiin tmpat2 keren lainnya??
    makasih ya =)

    Reply
    • 21/07/2011 at 11:14
      Permalink

      sebelumnya maaf, aku lg blum bs konek internet di PC, jd blum bs cari info
      kalo mau ke ayutthaya, gampangny cr jalan ke arah st hua lamphong. Kalo penginapan mbak dkt mrt atau bts ato chao phraya, itu gampang. Cr rute yg menuju st hua lamphong
      tmpat bagus d bangkok ya grand palace, wat po, wat arun, madame tusaud, mbk mall, chatucak weekend market n siam niramit
      met jalan2 mbak. Have fun ya 🙂

      Reply
  • 12/10/2011 at 08:25
    Permalink

    mas mw tanya cara praktik dari Hau Lamphong ke Khaosan

    “Cara praktik apa ini mas?”

    Reply
  • 16/08/2012 at 01:41
    Permalink

    mas minta emailnya atau nmr telp atau pin bebenya dong,,insya allah tanggal 26 ini saya dan ortu beserta keluarga mau ke bangkok dan kita tdk buta daerah bangkok,,plisss

    “aku kirim japri mas”

    Reply
  • 04/09/2012 at 03:52
    Permalink

    Salam kenal mas,

    Saya linda kebetulan rabu depan mau backpacker ke bangkok..kalau boleh minta ym or pin bbnya juga. mau tanya2 juga hehe. kebetulan ini 1st time n karena kesibukan teman barengan yang mau pergi makanya saya yg cari2 petunjuk (orang buta menuntun orang buta) hehe

    Reply
  • 25/09/2012 at 20:49
    Permalink

    Masjid Darul Falah tersebut posisinya di sebelah mana BTS Siam ya? Jauh tidak?

    “Kalau jalan kaki lumayan jauh mas.. Letaknya soalnya di gang yang sempit. Coba print aja peta dari google maps, lalu coba ditelusuri sambil nanya2 ke warga sana. Lalu kalau bisa kesananya pas deket waktu sholat, jadi pas adzan kedengeran, dan bisa dicari sumber suaranya.. “

    Reply
  • 17/10/2012 at 22:23
    Permalink

    Wow! Nice!
    Bagian mana dari Bangkok menarik minat Anda yang paling? Apakah Anda pergi ke pantai juga atau hanya tinggal di Bangkok?
    Berapa banyak yang Anda habiskan untuk seluruh perjalanan?
    Saya ingin pergi ke Thailand juga! =)

    Reply
  • 09/07/2013 at 13:36
    Permalink

    Info yang menarik, Kak.
    Apa boleh saya tahu lebih detail mengenai Masjid Darul Falah?
    Saya akan traveling ke sana bulan depan, dan saya sedang mencari lokasi makanan halal. Dan kebetulan, saya menginap di sekitar Siam (dekat National Stadium).
    Mohon infonya ya. Terima kasiiiih 🙂

    “Info detil yang seperti apa yang mbak dewi harapkan? Kalau memang masih ada yang ditanyakan bisa langsung kontak saya di surya00[at]gmail[dot]com. Terima kasih”

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*